Indonesia Tidak Pernah Menjadi Macan Asia

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Indonesia Tidak Pernah Menjadi Macan Asia

Oleh: Hendra*

Timnas Indonesia gagal lagi. Menempati posisi keempat di klasemen akhir grup Piala AFF 2018, Indonesia kalah bersaing dari Thailand dan Filipina (bahkan Singapura) yang melaju ke semifinal. Indonesia dipastikan tersingkir bahkan sebelum melakoni pertandingan terakhir kontra Filipina.

Berbagai persoalan dituding menjadi penyebab tersingkirnya timnas dari kompetisi tertinggi se-Asia Tenggara tersebut. Mulai dari waktu persiapan yang singkat, masalah klasik setiap kegagalan timnas, hingga kurang kompetennya pengurus PSSI dalam mengurus timnas. Semuanya terakumulasi menjadi kekecewaan segenap penggemar sepakbola yang tak kunjung mendapat pemuas dahaga dari rasa haus akan prestasi.

Terlepas dari itu, kegagalan timnas di Piala AFF 2018 bagi saya bukanlah kejutan, apalagi aib. Meskipun muncul berbagai permasalahan menjelang keikutsertaan kita di Piala AFF, tapi kita tentu harus jujur bahwa selama ini timnas kita memang minim prestasi. Bukan saya meragukan timnas kita sendiri. Namun fakta yang ada memang demikian.

Kecuali di tingkat umur (timnas U-19 menjuarai Piala AFF U-19 tahun 2013 dan timnas U-16 menjuarai Piala AFF U-16 tahun 2018), tidak ada prestasi yang membanggakan pernah dicatat timnas senior di berbagai kompetisi. Paling banter, timnas juara turnamen-turnamen non-resmi semacam Piala Raja atau Piala Kemerdekaan. Di kompetisi resmi? Kita babak belur!

Kegagalan di Piala AFF kali ini juga membuat saya teringat kembali dengan berbagai berita-berita yang pernah beredar yang mengatakan Indonesia pernah menjadi Macan Asia. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana mungkin timnas yang di level Asia Tenggara saja sulit bersaing pernah dijuluki Macan Asia? Benarkah sejarah yang ada memang menunjukkan demikian?

Benarkah Indonesia Pernah Menjadi Macan Asia?

Istilah Macan Asia mengemuka di Indonesia pada era 1960-an. Kala itu, julukan yang terdengar sangar dan gagah ini diberikan dunia internasional karena ketangguhan militer Indonesia. Di bawah pimpinan Presiden Soekarno dan didukung oleh teknologi terbaru Uni Soviet, kekuatan militer Indonesia menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

Pada 1980-an, istilah Macan Asia bergeser ke bidang lain: ekonomi. Di saat Tiongkok belum berkembang pesat seperti sekarang, kita menunjukkan kemajuan di bidang perekonomian. Pertumbuhan GDP yang sangat mengesankan (7-9 % per tahun) membuat era Orde Baru dikenang sebagai salah satu masa di mana perekonomian Indonesia sangat kokoh.

Terminologi Macan Asia kemudian menjadi berkembang dan masuk ke ranah sepakbola. Jika dalam dua bidang di atas kita mendapat pengakuan dunia, lalu dalam sepakbola apakah julukan yang sama berasal dari pengakuan dunia internasional juga? Untuk menjawabnya tentu kita perlu melihat fakta-fakta yang ada.

Indonesia adalah negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia tepatnya di tahun 1938. Meski menggunakan nama Hindia-Belanda, namun FIFA mengakui Indonesia sebagai teritori bekas jajahan Belanda tersebut sebagai perwakilan Asia satu-satunya saat itu. Diperkuat oleh mayoritas pemain berdarah Belanda dan Tionghoa, langkah Indonesia langsung terhenti di babak pertama karena kalah telak 0-6 dari Hungaria.

Meskipun cukup membanggakan karena sampai saat ini hanya Indonesia sebagai negara Asia Tenggara satu-satunya yang tampil di turnamen empat tahunan tersebut (tidak menghitung Australia), tapi babak belur di babak pertama belumlah cukup dijadikan indikator Indonesia sebagai tim terkuat Asia waktu itu. Alasannya jelas, itu merupakan penampilan perdana dan satu-satunya hingga sekarang. Lagipula keikutsertaan kita terjadi karena Jepang yang menjadi lawan Indonesia di kualifikasi mengundurkan diri.

Di Olimpiade, prestasi kita paling mentok mencapai perempatfinal di Melbourne 1956 ketika ditumbangkan oleh Uni Soviet, yang kelak meraih emas, dengan skor telak 0-4. Hasil ini cukup membanggakan karena kita berhasil menahan salah satu tim terkuat di dunia pada saat itu. Namun itu adalah penampilan pertama dan terakhir timnas di Olimpiade. Setelah itu sejarah Indonesia selalu dibarengi dengan kata “nyaris” lolos ke Olimpiade seperti di Olimpiade Montreal 1976.

Dari dua kompetisi olahraga terbesar di dunia ini, terlihat bahwa kita belum bisa berbuat apa-apa di turrnamen internasional. Dua kekalahan telak di dua ajang berbeda di atas menunjukkan bahwa kita belum bisa bersaing di tingkat dunia. Apalagi masing-masing keduanya adalah penampilan satu-satunya timnas kita sampai sekarang. Fakta yang bisa kita banggakan dari hal tersebut hanyalah sekadar kita pernah tampil di Piala Dunia dan Olimpiade walaupun cuma sekali.

Jika Piala Dunia dan Olimpiade terlalu tinggi dijadikan standar untuk menyebut kita adalah “macan”, maka perlu kita turunkan sedikit: level Asia. Masalahnya di tingkat Asia pun tidak banyak yang bisa kita banggakan.

Sejak pertama kali mengikuti Piala Asia 1996 sampai yang terakhir tahun 2007 ketika menjadi salah satu tuan rumah, Indonesia belum sekalipun lolos dari penyisihan grup. Bahkan sepanjang keikutsertaan di Piala Asia, Indonesia baru mengemas dua kemenangan, mengalahkan Qatar 2-1 di Piala Asia 2004 dan menekuk Bahrain dengan skor yang sama di edisi 2007, di mana pada kedua edisi tersebut Indonesia berakhir di posisi ketiga grup.

Di Asian Games sedikit lebih baik. Sepanjang partisipasi Indonesia di ajang multi cabang terbesar di Asia tersebut, Tim Garuda pernah masuk semifinal tiga kali yang terakhir kali dicapai tahun 1986. Prestasi terbaik terjadi di Asian Games 1958, Tokyo, di mana Indonesia berhasil meraih perunggu setelah mengalahkan India diperebutkan tempat ketiga dengan skor 4-1.

Di tingkat ini pun saya rasa, kita cukup sadar diri terlalu sombong jika kita mengaku sebagai salah satu kekuatan sepak bola Asia. Terlalu angkuh jika kita mencoba menyejajarkan diri dengan Jepang, Korea Selatan, Iran, Arab Saudi atau mungkin Iran yang jelas-jelas lebih tangguh dari Indonesia.

Ironisnya, di level Asia Tenggara saja kita justru kalah prestasi dari Thailand, Singapura, atau Malaysia, yang notabene tidak pernah menyebut diri sebagai Macan Asia. Selain dua emas di SEA Games, kita masih puasa di Piala AFF. Sejak diadakan tahun 1996, Indonesia justru menjadi raja runner-up dengan 5 kali kalah di final.

Dengan berbagai fakta di atas, tentu cukup meragukan Indonesia pernah diakui sebagai salah satu kekuatan terkuat Asia. Entah dari mana dan siapa yang memulai mengatakan Indonesia Macan Asia sepakbola. Yang jelas, paparan saya berdasarkan fakta di atas tentu cukup menjawab pertanyaan “Benarkah Indonesia pernah dijuluki macan Asia?”.

***

Pembahasan panjang lebar saya ini bukanlah ungkapan yang berusaha mendiskreditkan timnas Indonesia, bukan pula memandang skeptis atau bahkan meremehkan perjuangan yang dilakukan timnas. Seperti penggemar sepakbola tanah air yang lain, saya sangat bangga setiap kali timnas bermain. Tak jarang, kebanggaan itu menjadi titik air mata ketika timnas kita kalah dalam pertandingan, seperti–yang paling berkesan--di Piala AFF 2010 ketika kita kalah dari Malaysia di saat sebenarnya kita sudah sangat dekat dengan gelar juara. Permainan sepakbola dibalut rasa nasionalisme ini membuat siapapun, termasuk saya rela berdarah-darah untuk melakukan apapun asalkan bisa menyaksikan kumandang Indonesia Raya di lapangan hijau.

Namun, rasa nasionalisme jangan sampai menghilangkan rasionalitas kita. Kenangan masa lalu saat kita pernah masing-masing sekali tampil di Piala Dunia dan Olimpiade, meraih sekali perunggu Asian Games dan belum pernah lolos dari fase grup piala Asia membuat kita sebenarnya tidak perlu mengagung-agungkan timnas kita pernah menjadi Macan Asia. Timnas kita, atau bahkan dalam lingkup yang lebih luas yakni sepakbola Indonesia, memang belum ke mana-mana.

Kita harusnya malu di hadapan Thailand yang tidak sibuk dengan romantisme prestasi yang mereka raih, namun selalu berusaha meningkatkan level dari tahun ke tahun. Thailand yang sudah setingkat di atas tim Asia Tenggara lain saja terus memperbaiki diri. Sementara kita masih jalan di tempat.

Dan sepertinya, melihat lika-liku sepakbola di tanah air sejauh ini, dengan berbagai permasalahan, mulai dari sering gonta-ganti pelatih timnas yang menyebabkan berubahnya pondasi tim, hingga polemik di PSSI, rasanya cukup meyakinkan kita, atau mungkin cuma saya bahwa untuk menjadi macan Asia Tenggara saja jalan masih panjang.


*Penulis merupakan mahasiswa S2 PPKn Universitas Negeri Padang. Bisa dihubungi lewat akun Twitter di @hendrafm7

**Tulisan ini merupakan hasil kiriman penulis melalui kolom Pandit Sharing. Segala isi dan opini yang ada dalam tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis.

Komentar