Chicharito dan Kebutuhan Lini Serang Leverkusen

PanditSharing

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Chicharito dan Kebutuhan Lini Serang Leverkusen

Bayer Leverkusen bergerak cepat mencari pengganti Son Heung-min yang pindah ke Tottenham Hotspur. Penyerang asal Meksiko, Javier ‘Chicharito’ Hernandez, didaratkan dengan nilai transfer lebih dari 7 juta pounds dari Manchester.

Die Bayer, julukan Leverkusen, jelas membutuhkan jasa pemain baru. Sebanyak sepuluh pemain sudah dilepas klub asal negara bagian Rhein-Westphalia ini, termasuk kapten Simon Rolfes yang memutuskan pensiun. Dari pemain-pemain yang dilepas ke klub baru tersebut empat di antaranya berposisi di lini serang yaitu Arkadiusz Milik, Robbie Kruse, Josip Drmic dan Heung-min. Tentunya hal ini akan berpengaruh kepada ketajaman lini serang Leverkusen yang kini hanya menyisakan Steffan Kiessling dan penyerang  asal Swiss yang baru didaratkan dari SC Freiburg, Admir Mehmedi.

Jadi apa yang bisa diharapkan Leverkusen dari penyerang asal Meksiko ini?

Ketajaman di Kotak Penalti

Sejak memulai debut kompetitifnya di tanah Inggris pada laga Community Shield tahun 2010, Chicharito dikenal sebagai penyerang yang memilki ‘keberuntungan’ tersendiri kala mencetak gol ke gawang lawan. Termasuk pada debutnya di Community Shield tersebut di mana dirinya mencetak gol unik ke gawang Chelsea. Menerima umpan Antonio Valencia dari sisi kanan, Chicarito yang sudah out of position, alih-alih melakukan tendangan, sepakan Chicharito justru membentur wajahnya sendiri dan masuk ke gawang Henrique Hilario.

Keberuntungan tersebut tidak hanya terjadi sekali, dalam beberapa kesempatan Chicharito seakan memang ditakdirkan untuk menciptakan gol. Bukan Chicharito yang menghampiri bola, seakan bola itu sendiri lah yang datang menghampiri Chicharito. Maka bukan sekali dirinya menciptakan gol yang tidak biasa, termasuk saat mencetak gol melalui sundulan bola menggunakan bagian belakang kepala kala United bertemu Stoke City di Liga Primer Inggris musim 2010/2011.

Sebenarnya catatan akurasi tembakan produk akademi Chivas Guadalajara ini tidak terlalu istimewa. Selama empat tahun berkarir di tanah Inggris, plus satu musim masa pinjaman bersama raksasa Spanyol, Real Madrid, seperti yang dilansir whoscored, Chicharito hanya mencatakan akurasi tembakan sebesar 61%.

Menularkan Mental Juara

Tim asuhan pelatih Roger Schmidt ini dilimpahi oleh barisan pemain-pemain muda. Schmidt jelas membutuhkan pemain pemain yang lebih senior untuk berbagi pengalaman bagi para pemain muda, yang nantinya akan berpengaruh terhadap mental bertanding skuad muda yang dimiliki oleh Die Bayer.

Empat tahun bermain untuk Manchester United dan memeroleh dua titel juara EPL, dua trofi Community Shield, dan satu gelar juara Piala Dunia Antar Klub kala berseragam Real Madrid membuat Chicharito memiliki pengalaman lebih dibanding rekan-rekan setimnya yang lain.  Mental juara yang dimiliki oleh Chicharito bisa ditularkan kepada pemain-pemain lain di klub barunya yang belum pernah sama sekali menjuarai Bundesliga ini.

Menghadirkan Pesaing untuk Steffan Kiessling

Sejak datang ke Leverkusen dari Nurnberg pada 2006, wakil kapten Leverkusen saat ini, Steffan Kiessling, terus mengunci pos penyerang utama Die Bayer. Penyerang penyerang lain yang didatangkan tidak ada satupun yang berhasil menggeser posisi Kiessling di starting line-up Leverkusen.

Pelatih berganti pun, Kiessling tetap menjadi pilihan utama sebagai ujung tombak tim. Terakhir dua penyerang muda, Arkadiusz Milik dan Josip Drmic harus dilepas ke klub lain, karena kesulitan menggoyahkan posisi Kiessling di tim utama.

Ada zona nyaman yang harus didobrak. Caranya dengan menghadirkan pesaing untuk meningkatkan peforma penyerang yang sudah mencetak 123 gol untuk Leverkusen tersebut. Dengan adanya persaingan maka Kiessling akan terdorong untuk bermain lebih baik lagi.

Stok penyerang Leverkusen yang ada sebelum datangnya Chicharito terhitung sangat minim, hanya ada Kiessling dan Mehmedi, bahkan Mehmedi dalam beberapa laga awal Bundesliga ditempatkan sebagai sayap kiri. Meskipun ketika dalam keadaan terpaksa bisa saja winger Karim Bellarabi digeser ketengah sebagai penyerang utama.

Usia Kiessling yang sudah mulai menua membuat Leverkusen mesti cepat-cepat menemukan suksesornya. Chicharito bisa menjadi jawaban karena ia masih berusia 27 tahun.

Menjadi ekspektasi yang berlebihan, apabila menganggap kehadiran Chicharito akan mendatangkan gelar juara bagi Leverkusen. Karena tentunya pemain yang nantinya akan menggunakan nomer punggung tujuh ini tentunya harus beradaptasi dengan gaya bermain sepakbola Jerman terlebih dahulu. Prosesnya bisa saja cepat, namun apabila penyesuaian yang dilakukan Chicharito berjalan lambat tentunya menjadi sebuah kerugian bagi Leverkusen. Maka target untuk tetap bertahan di empat besar Bundesliga menjadi target yang paling realistis.

 Penulis merupakan salah satu tenaga pengajar di Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran. Akun twitter: @aunrrahman

foto: Aztecadeportes.com

Komentar