Karena Pangeran Ali Berasal dari Asia

PanditSharing

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Karena Pangeran Ali Berasal dari Asia

Federasi Sepakbola Internasional, FIFA, akan melaksanakan kongresnya yang ke-65 di Zurich, Swiss, pada 28-29 Mei tahun ini. Kongres kali ini juga dipergunakan untuk memilih presiden anyar FIFA. sang petahana, Sepp Blatter kembali mencalonkan diri pada pemilihan kali ini, Blatter telah berkuasa selama 17 tahun. Dirinya dilantik pada tahun 1998 menggantikan Joao Havelange asal Brasil.

Pada pemilihan kali ini, yang dihadiri oleh 209 anggota FIFA, setiap anggota hanya memiliki satu suara untuk pemilihan. Sepp Blatter mendapatkan hadangan dalam rencananya untuk memperpanjang masa pemerintahanya di FIFA.  Setelah pesepakbola flamboyan David Ginola terpental dari peta persaingan, kini selain Blatter ada 3 nama lain yang memperebutkan kursi pimpinan tertinggi sepakbola internasional, yaitu Presiden Asosiasi Sepakbola Belanda (KNVB) Michael Van Praag, Legenda Sepakbola Portugal Luis Figo, dan Wakil Presiden FIFA, Pangeran Ali dari Yordania.

Ketiganya sudah melewati tahap pengecekan integritas yang dilakukan oleh Komite Etik FIFA, sebelum akhirnya kandidat kandidat tersebut mendeklarasikan pencalonan diri mereka sebagai Presiden FIFA ke-9,  diantara semua kandidat yang ada, sosok Pangeran asal Yordania bernama lengkap Pangeran Ali Bin Al Hussein  menjadi sorotan menarik.

Ini adalah kali kedua konfederasi Asia mengirimkan wakilnya, setelah pada pemilihan sebelumnya konfederasi Asia mengirim mantan presiden AFC, Mohammed Bin Hammam sebagai penantang Sepp Blatter.

Pangeran Ali merupakan putra ketiga Raja Hussein dari Yordania, lahir pada 23 Desember 1975, yang lahir dari rahim istri kedua raja, yaitu Ratu Alia. Pangeran yang fasih berbahasa Arab, Inggris, Circassian ini menghabiskan masa studinya di Inggris dan Amerika Serikat, Pangeran Ali terdaftar sebagai salah satu siswa di akademi militer kerjaaan Inggris, Sandhurst. Selang beberapa tahun kemudian Pangeran berhasil menyelesaikan masa studinya di salah satu univeristas ternama di dunia yaitu Princeton pada tahun 1999. Karir sang pangeran di dunia sepakbola dimulai ketika dirinya terpilih sebagai presiden asoisasi sepakbola yordania pada tahun 2001.

Prestasi Pangeran Ali di dunia sepakbola juga bukan main-main, selain dirinya tercatat sebagai wakil presiden FIFA termuda dalam usia yang kini baru memasuk 39 tahun. Pangeran Ali juga berperan besar dalam berdirinya federasi sepakbola Asia Barat atau WAFF.  Dirinya juga termasuk dalam bagian dari komisi FIFA yang mengusut kasus suap pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022, yang melibatkan banyak petinggi FIFA sebagai tersangka. Dan yang paling menakjubkan tentunya adalah ketika Pangeran Ali berhasil meyakinkan komite eksekutif FIFA untuk mencabut larangan hijab bagi pesepakbola wanita.

Dengan deretan prestasi yang mentereng bukan tidak mungkin, Pangeran Ali akan terpilih sebagai pimpinan tertinggi FIFA. Tetapi rencana Pangeran Ali untuk menggusur Sepp Blatter, tidak berjalan dengan mudah. Selain karena masih cukup banyak loyalis Blatter, alasan lain adalah karena Pangeran Ali berasal dari Asia.

Paham Neo-Kolonialisme yang pertama kali didengungkan oleh Presiden Ghana Kwame Nkrumah, menyebutkan bahwa secara sederhana dominasi barat atas timur, akan terus dilanjutkan karena adanya pemikiran bahwa adalah dari tugas barat untuk ‘mencerahkan’ peradaban timur yang terbelakang. Namun kini dominasi tersebut tidak harus melalui aksi represif seperti kolonialisme dan imprealisme pada zaman dahulu, banyak cara lain untuk melanjutkan dominasi ini diantaranya adalah melalui bidang ekonomi dan budaya sebagai pengganti kontrol politik dan militer secara langsung.

Dan sepakbola adalah salah satu bidang yang digunakan sebagai praktik dominasi tersebut. Sudah amat dirasakan oleh kita yang ada di dunia timur bahwa perkembangan sepakbola kita tidak sepesat yang terjadi di bagian barat. Kita berada di Asia lebih terkenal sebagai fans yang menggilai sepakbola dibandingkan bakat bakat yang dimiliki. Amerika Latin juga ‘dianggap terbelakang’ akan tetapi mereka lebih terkenal sebagai produsen pesepakbola. Keberadaan pasar penggemar sepakbola di Asia adalah salah satu sumber dana yang menggiurkan, tentu saja dikarenakan kepadatan penduduk Asia yang memang lebih banyak dibandingkan dengan yang ada di dunia barat. Dan segar yang berasal pasar Asia tidaklah dalam jumlah yang sedikit. Karena hal tersebut keberadaan Asia sebagai ‘pasar’ akan tetap dipertahankan.

Apabila nantinya terpilih sebagai Presiden FIFA, hal ini tentunya tidak akan sesuai dengan point utama mengenai dominasi barat. Terpilihnya Pangeran Ali juga akan melukai ego poros sepakbola dunia yang kebanyakan berasal dari barat, dimana nantinya mereka akan dipimpin oleh seseorang yang berasal dari dunia yang mereka anggap terbelakang. Hal ini tentunya tidak akan dibiarkan terjadi. Superioritas barat atas timur harus terus dilanjutkan. Jalan terjal akan dihadapi oleh Pangeran Ali, ditambah fakta bukan hanya karena berasal dari Asia, Pangeran Ali juga berasal dari dunia Arab yang selama beberapa dekade ke belakang, dianggap sebagai Axis of Evil oleh dunia barat. Sangat Kecil Kemungkinan untuk Pangeran Ali menduduki kursi pimpinan FIFA.

Belum lagi dengan kampanye yang didengungkan oleh Pangeran Ali apabila nantinya terpilih sebagai Presiden, maka dirinya akan mereformasi induk sepakbola dunia tersebut. Hal ini akan berdampak kepada dukungan dari federasi sepakbola negara. Sepp Blatter mendapatkan banyak suara dukungan dikarenakan dirinya mendukung proyek Federasi Sepakbola yang bebas dari Intevensi Pemerintah. Suatu hal yang pasti akan ditanggapi positif oleh Federasi Sepakbola negara, karena nantinya seluruh pendapatan hasil kegiatan sepakbola murni akan masuk ke kantong federasi sepakbola tanpa harus disetorkan terlebih dahulu ke pemerintah suatu negara.Disitulah pangkal betapa sulitnya hal yang dihadapi oleh Pangeran Ali dalam meraih suara untuk pemilihan. Apabila Pangeran Ali memilih untuk mengikuti hal yang sama dengan yang dilakukan Blatter, maka darimanakah Proyek Reformasi FIFA akan dimulai?

Terpilihnya Pangeran Ali yang berasal dari Asia, berpotensi untuk mengalihkan banyak dana pengembangan ke Asia. Bukan lagi ke daerah daerah tertentu yang “dipilih” oleh rezim Blatter. Hal ini tentu tidak akan dibiarkan begitu saja, karena ini menyangkut nominal ratusan miliar dollar yang biasanya bisa masuk kedalam rekening pribadi para petinggi FIFA.

Yang terjadi pada Mohammed Bin Hammam adalah sebagian contoh bagaimana sulitnya timur menghadang superioritas barat, Bin Hammam yang melangkah mulus dalam pemilihan presiden FIFA tahun 2011, sampai akhirnya tinggal berhadapan dengan Blatter, tiba-tiba terjerat kasus suap Federasi Sepakbola Karibia yang melibatkan dirinya dan Presiden CONCACAF Austin “Jack” Warner. kasus ini membuat Bin Hammam dikeluarkan dari FIFA dan mendapatkan larangan terlibat dalam sepakbola seumur hidup, kasus serupa bisa terjadi terhadap Pangeran Ali yang kini maju dalam pemilihan.

Slogan AFC Future is Asia, yang dimana menggambarkan optimisme timur untuk memutar poros sepakbola dunia ke wilayah Asia adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan paham dominasi barat. Padahal dalam sejarahnya saja sepakbola pertama kali dimainkan di Tiongkok, yang notabene merupakan bagian dari timur.

Mari berharap pemilihan Presiden FIFA bisa berjalan baik, transparan dan penuh integritas, sebagai orang Indonesia yang merupakan bagian dari timur, tentunya kita berharap Pangeran Ali akan terpilih sebagai Presiden FIFA berikutnya.

==============

Dikirim oleh: Aun Rahman

Penulis bisa dihubungi melalui akun twitter: @aunrrahman

Komentar