Transfer Murah, Seratus Rupiah!

Backpass

by redaksi

Transfer Murah, Seratus Rupiah!

Rekor transfer Indrianto Setyo Nugroho menjadi rekor terunik dalam sejarah sepak bola Indonesia. Pada era Galatama, ia resmi dijual oleh Arseto Solo ke Pelita Jaya dengan nilai seratus rupiah saja, Rp 100!

Bukan (sama sekali bukan) karena saat itu Rp 100 cukup sangat besar jika disejajarkan dengan masa kini. Nilai Rp 100 kala itu kalau dibandingkan masa kini mungkin hanya sekitar Rp 1000. Harga Rp 100 itu diberikan Arseto sebagai buntut kekesalan mereka pada sang striker dan Nirwan Bakrie.

Kisruh ini terjadi usai Indrianto pulang dari program PSSI Primavera ke Italia selama dua tahun. Sebelum berangkat, ia memang pemain binaan Diklat Arseto. Saat pulang pada awal Maret 1996 pun ia sempat kembali berlatih lagi bersama Arseto di Kadipolo, Solo.

Namun PSSI tiba-tiba memutuskan bahwa semua pemain eks Primavera akan dilepas ke klub yang mengajukan penawaran tertinggi.

Kian ricuh, Indrianto lalu ikut-ikutan berkomentar di sebuah media olahraga kalau ia tak merasa dibesarkan oleh Arseto. Ia kemudian ikut berlatih bersama Pelita Jaya yang dimiliki Nirwan.

Sementara Nirwan yang juga menjabat sebagai Direktur Komite Tim Nasional PSSI sekaligus penyandang dana proyek Primavera mengatakan bahwa meski tercatat sebagai pemain Arseto, Indrianto tidak terikat kontrak.

Arseto jelas kecewa. Klub yang dimiliki dan didirikan oleh putra Keluarga Cendana, Sigit Harjoyudanto, ini pun berang diperlakukan demikian.

Tak mau permasalahan melebar, PSSI ikut turun tangan dan mempertemukan Pelita Jaya dengan Arseto di kantor sekretariat liga pada 29 Maret 1996. Dalam pertemuan itu Pelita bersedia membeli Indrianto dari Arseto.

Klub Solo yang masih tak terima kemudian melancarkan serangan baliknya. Menurut mereka, darah dibalas dengan darah, dan penghinaan harus dibalas dengan penghinaan. Arseto bersedia menjual Indrianto namun dengan harga Rp 100.

Di hari itu juga, Pelita kemudian membayar uang dengan kertas Rp 100. Indrianto resmi menjadi milik mereka dan kemudian dijuluki "Mister Cepek".

Indrianto sendiri beberapa hari kemudian hanya mampu berkomentar lirih. "Saya kira lebih baik bebas transfer daripada hanya dengan harga seratus rupiah," ujar striker yang pernah bermain untuk PSIS Semarang ini.

Komentar