Adolf ?Adi? Dassler dan Revolusi Sepatu Olahraga

Backpass

by Fathru Qalbie Septizar Akbar

Fathru Qalbie Septizar Akbar

Gold, Goal, and Glory.

Adolf “Adi” Dassler dan Revolusi Sepatu Olahraga

Siapa yang tidak mempunyai atau setidaknya mengenal dengan merek perlengkapan olahraga Adidas? Nama Adidas merupakan singkatan dari sang penemu, Adolf Dassler atau dikenal dengan Adi Dassler. Jauh sebelum menjadi brand ternama yang kini digunakan berbagai atlet mega bintang, Adi Dassler memiliki jalan panjang dan berliku sebelum membentuk Adidas.

Lahir pada 3 November 1990 di kota industri Bavaria bernama Herzogenaurach, Adolf Dassler adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Adolf kecil bersama saudara laki-lakinya membantu pekerjaan ibunya yang mendirikan binatu di belakang rumahnya. Ayahnya, Christoph, adalah seorang dari keluarga penenun yang sudah turun-temurun. Namun karena anjloknya industri tekstil, Christoph beralih mempelajari keterampilan menjahit sepatu dan mendapat pekerjaan di pabrik sekitar.

Adolf menyelesaikan pendidikan sebagai pembuat roti, meski begitu dia memutuskan untuk tidak melanjutkan karier sesuai bidang pendidikannya. Ia kemudian belajar menjahit dari ayahnya. Adolf adalah seorang fanatik olahraga, waktu luangnya dia habiskan bersama temannya untuk mengikuti berbagai ajang olahraga seperti sepakbola, tinju, hoki dan ski. Adolf mulai memikirkan bagaimana desain sepatu dapat mempengaruhi performa atletik. Dia mempunyai kesimpulan bahwa sepatu khusus dari setiap olahraga dapat memberikan hasil yang cukup signifikan. Itu adalah ide awal yang memandu karier dan perkembangannya di hari-hari berikutnya.

Menjelang usia 18 tahun, Adi mengikuti wajib militer pada tahun 1918 dan menjadi tentara selama lebih dari satu tahun. Ketika Adi kembali, ibunya telah menutup bisnis laundry dan sedang mengalami krisis ekonomi akibat perang. Melihat kondisi tersebut, Adi memutuskan untuk melanjutkan pemikirannya mengenai desain sepatu atletik dengan menggunakan gudang bekas cucian ibunya sebagai tempat produksi.

Industri sepatu rumahan tersebut memulai usaha dengan membuat sandal kamar dari bahan bekas dari ban, helm, dan ransel. Saudara perempuannya bertugas memotong pola dari kanvas, sementara Adi menggunakan pemotong bahan yang dia ciptakan sendiri menggunakan sepeda.

Pabrik Sepatu Dassler Bersaudara dan Alih Fungsi saat Perang

Pada tahun 1924, Adolf Dassler menggandeng saudaranya, Rudolf Dassler, sebagai rekan bisnis yang lebih serius dengan mendirikan Gebrüder Dassler Schufabrik (Pabrik Sepatu Dassler Bersaudara). Bisnis adik-kakak ini semakin berkembang, sehingga Adi dan Rudolf memiliki cukup uang untuk membuat pabrik sepatu kecil-kecilan. Gebrüder Dassler Schufabrik pertama kali menjual sepatu yang dibuat khusus untuk pemain tenis, kemudian berkembang ke olahraga lain.

Banyak inovasi teknis mereka, termasuk sepatu atletik pertama dengan penyangga lengkung, membuat sepatu ini populer di kalangan atlet. Perusahaan menambah ketenarannya dan mendapatkan publisitas dengan memberikan sepatu kepada para atlet Olimpiade pada pertandingan Amsterdam 1928. Merek sepatu Dassler Bersaudara kian melejit ke kancah internasional ketika pada tahun 1936 membuat sepatu lari untuk Jesse Owens, atlet Amerika Serikat yang memenangkan medali emas di Olimpiade Berlin.

Faktor lain yang menjadi kunci kesuksesan Dassler Bersaudara adalah di awal 1930-an kala mereka bergabung dengan partai Nazi yang kerap memainkan peran olahraga dalam filosofi rasial-nasionalis Hitler. Dassler Bersaudara bergabung dengan partai Nazi di tahun 1933, tiga tahun setelah Hitler ditunjuk sebagai Kanselir. Rudolf dikatakan menjadi yang paling loyal kepada Nazi, namun Adi-lah yang memiliki ide untuk memasok klub-klub dalam gerakan pemuda Hitler yang memperluas produksi.

Adi memang terlihat tidak begitu ‘tulus’ kepada keterlibatan Nazi, melainkan lebih kepada faktor pengembangan bisnis. Dalam proses denazifikasi setelah perang, Adi mengaku bahwa dirinya membatasi pada pelatihan dan menghindari demonstrasi politik. Adi juga mengaku dia terlibat dalam afiliasi politik lain, seperti klub senam liberal, klub sepak bola konservatif Herzogenaurach, dan klub sepak bola para buruh yang bernama Union. Meski begitu, tetap Adi dan Rudolf adalah anggota dari National Socialist Motor Corps, yang memiliki jargon “Heil Hitler”.

Kejayaan Dasslers kala bersama Nazi berakhir ketika perang dimulai karena Reich berubah total menjadi mesin tempur. Pabrik Sepatu Dassler masih diizinkan untuk beroperasi, namun dengan pembatasan produksi. Pada 7 Agustus 1940, Adi melakukan wajib militer ke Wehrmacht, namun dia dibebaskan dari kewajibannya setahun kemudian karena dianggap sudah cukup berjasa. Sementara Rudolf tetap mengabdi dan ikut perang besar selama empat tahun setelah direkrut pada 1943 (yang selanjutnya dianggap sebagai rencana Adi).

Pada masa perang, perusahaan Dasslers mengalami penurunan karena sebagian digunakan untuk produksi bahan militer. Tenaga kerja sulit didapat namun produksi sepatu harus terus berjalan, sehingga Adi secara resmi meminta lima tawanan perang Soviet untuk direkrut menjadi pengelola berbagai sektor perusahaannya.

Perpecahan Saudara yang Melahirkan Adidas dan Puma

Pertikaian kerap terjadi karena Rudolf tidak suka dengan sikap Käthe Dassler, istri dari Adi yang kerap mencampuri urusan bisnis. Rudolf dan Adi bersama keluarganya masing-masing memang tinggal bersama-sama dalam satu rumah, istri Adi juga sering bertikai dengan anggota keluarga lainnya dalam rumah tersebut.

Kondisi masa perang membuat perselisihan semakin membara di keluarga Rudolf dan Adi, sang kakak marah besar ketika adiknya bertekad ingin memimpin perusahaan Dassler dan mulai membeberkannya di depan anggota keluarga. Hal itu dimulai ketika Adi menolak untuk mempekerjakan dua anak Marie (saudari Rudolf dan Adi) dengan alasan sudah cukup banyak masalah keluarga di perusahaan.

Sebenarnya, tidak ada yang benar-benar yakin apa yang terjadi sehingga membuat keretakan besar antara keluarga Dassler. Namun terdapat rumor yang menyatakan bahwa Adi telah mengatur agar Rudolf dipanggil oleh Angkatan Darat Jerman pada tahun 1943 untuk wajib militer sebagai cara mengeluarkan kakaknya dari bisnis.

Dari berbagai teori yang menyebabkan retaknya hubungan saudara tersebut, yang paling populer adalah karena Adi membuat pernyataan yang menghina Rudolf selama serangan bom di masa-masa akhir perang.

Adi mengganti nama bisnisnya menjadi singkatan Adi Dassler yaitu ‘Adidas’. Perusahaannya, yang berbasis di Herzogenaurach, menjadi makmur, menyediakan pakaian, alas kaki, dan barang-barang lainnya untuk berbagai jenis olahraga dan aktivitas rekreasi lainnya, memperoleh banyak keuntungan dari dukungan selebriti.

Sementara Rudolf mendirikan bisnis paralel yang disebutnya `Puma`, dengan kantor dan pabrik di seberang Sungai Aurach. Puma awalnya dipanggil Ruda, karena Rudolf Dassler mencoba mencuri ide adiknya tapi itu tidak terdengar sekeren Adidas jadi dia memilih Puma.

Kampung halaman mereka di Herzogenaurach terpecah dalam persaingan sengit antara kedua perusahaan tersebut. Kota itu mengembangkan julukan "kota dengan leher bengkok" karena dikatakan bahwa setiap orang akan melihat ke bawah untuk melihat merek sepatu apa yang Anda kenakan.

Beberapa mengambil keuntungan dari persaingan ini seperti tukang yang dengan sengaja datang ke rumah Rudolf dengan memakai sepatu Adidas yang akan mengakibatkan Rudolf menyuruh mereka untuk mengambil sepasang Puma gratis dari ruang bawah tanahnya. Bahkan dua tim sepak bola kota tersebut dibagi menjadi dua merek dengan ASV Herzogenaurach didukung oleh Adidas dan 1 FC Herzogenaurach didukung oleh Puma.

Meskipun kedua perusahaan memiliki masa lalu yang kelam, inovasi mereka berperan sangat besar dalam perkembangan perlengkapan olahraga. Adi Dassler merevolusi sepatu olahraganya dengan pul yang dipasangkan di bawah bagian sepatu, sesuatu yang tercatat dalam sejarah saat Jerman Barat melakukan comeback ajaib dengan skor 3-2 melawan Hungaria saat memulai debut dengan memakai inovasi Adi pada tahun 1954.

Sumber:

  • Adidassler, diambil pada 02/11/20 dari https://www.adidassler.org/en/life-and-work/chronicle
  • Business Insider, diambil pada 02/11/20 dari https://www.businessinsider.com/how-puma-and-adidas-rivalry-divided-their-founding-town-for-70-years-2018-10?r=US&IR=T#the-dasslers-dispute-split-herzogenaurach-into-two-camps-4
  • Medium, diambil pada 02/11/20 dari https://medium.com/history-of-yesterday/the-nazi-origins-of-adidas-and-puma-ee617aad8b00
  • Smit, Barbara (2008). Sneaker Wars: The Enemy Brothers who Founded Adidas and Puma and the Family Feud that Forever Changed the Business of Sport. New York: CCCO/HarperCollins Publishers

Komentar