Datang, Beraksi, dan Pergi ala Eric Cantona

Backpass

by M. Rifky Herlanda P.

M. Rifky Herlanda P.

Bola adalah pacar.

Datang, Beraksi, dan Pergi ala Eric Cantona

“King Eric”; itulah julukan yang disematkan kepada Éric Daniel Pierre Cantona oleh para pendukung Manchester United. Cantona lahir di Marseille pada 24 Mei 1966. Dia adalah salah satu dari sekian banyaknya legenda United yang mempunyai karakteristik yang unik. Bengal dan wataknya yang keras akan selalu diingat dari sosok Cantona.

Dari perawakan tubuh dan gestur, Cantona terlihat sebagai sosok yang cuek dan arogan, tapi ketika melihat sosoknya di lapangan, dia adalah pemain yang sanggup melakukan teknik-teknik yang tak semua pemain sepakbola bisa lakukan. Kerah baju yang selalu naik adalah satu hal lain yang selalu diingat dari dirinya.

Cantona adalah pemain bintang di tim juara Man United. Dia tak butuh waktu berpuluh-puluh tahun untuk menjadi raja di Old Trafford. Cantona hanya butuh waktu lima tahun, yaitu dari tahun 1992 hingga 1997. Dalam waktu singkat tersebut empat gelar Premier League, dua gelar Piala FA, dan tiga gelar Community Shield berhasil dia sumbangkan untuk Setan Merah.

Datang Ke United

Awal kedatangan Cantona ke United menimbulkan pro dan kontra. Alasannya karena Cantona adalah sosok yang disebutkan di atas tadi, serta arogan dan juga temperamental.

Sebelum datang ke Inggris, Cantona sudah terkenal karena tak bisa mengontrol amarahnya. Ketika membela Nîmes Olympique pada 1991, dia melempar bola ke arah wasit. Atas tindakannya itu, dia dipanggil oleh komisi disiplin FFF (asosiasi sepakbola Perancis) dan diputuskan untuk dihukum larangan bermain selama satu bulan.

Tak sampai di situ, Cantona yang kesal kemudian menghampiri satu per satu anggota komdis FFF sembari meledek mereka "idiot". Akhirnya dia mendapat tambahan hukuman satu bulan lagi, sehingga total larangan bermainnya menjadi dua bulan.

Sikap arogan Cantona terlihat ketika dia memilih pensiun setelah mendapatkan hukuman tersebut. Dia pun memutuskan kontrak kerjasamanya bersama Nîmes.

Michel Platini yang mendapat kabar pensiunnya Cantona mencoba membujuk agar Cantona mau kembali bermain sepakbola dan pindah ke Inggris untuk membersihkan namanya. Akhirnya pada pada Januari 1992, Cantona kembali dari pensiunnya dan bermain untuk Leeds United.

Di Leeds, dia berhasil mencetak 9 gol di liga sekaligus membawa Leeds menjadi juara First Division; Liga Inggris terakhir sebelum berganti menjadi Premier League. Dia bahkan sempat mencetak trigol pertama di Premier League saat Leeds menang 5-0 atas Tottenham Hotspur.

Awal cerita Cantona menuju Man United bermula pada 26 November 1992. Pada saat itu Man United mengalami krisis pemain di lini depan. Ferguson gagal mendatangkan Alan Shearer, kemudian membeli Dion Dublin. Sayang kemudian Dublin mengalami cedera patah kaki. Untuk menggantikan Dublin, Ferguson mendekati David Hirst, Matt Le Tissier, dan Brian Deane. Namun mereka semua gagal direkrut.

Dibuat pusing dengan kondisi itu, tiba-tiba Martin Edwards (Direktur United) mendapat telepon dari Pemilik Leeds United, Bill Fotherby. Keperluan Fotherby menelpon Edwards kala itu adalah mengajukan tawaran untuk membeli Denis Irwin. Ferguson yang pada saat itu berada di samping Edwards langsung ikut campur pada transaksi tersebut.

Bukannya menerima tawaran untuk Irwin, Edwards dan Ferguson malah menolak dan mengajukan tawaran balik, yaitu bertanya apakah Cantona dijual atau tidak. Karena Leeds pada saat itu sedang sedikit mengalami krisis keuangan, tawaran Fergie pun diterima. Dalam waktu 24 jam, Cantona pindah ke Man United.

Fergie tahu bawah kedatangan Cantona akan menjadi tugas yang berat bagi dirinya karena sikap temperamen yang dimiliki Cantona. Namun dengan tegas dia mengatakan bahwa dia (Ferguson) lebih temperamental daripada Cantona.

Beraksi di United

Tak butuh waktu lama bagi Cantona untuk menjadi pemain bintang di United. Pada tahun pertama, Cantona langsung berhasil membawa United meraih gelar juara Liga Primer 1992/93. Itu adalah musim pertama setelah Liga Inggris berganti dari First Division ke Premier League.

Di musim berikutnya, Cantona kembali beraksi, 18 gol dia cetak di musim 1993/94 dan mengantarkan United meraih dwigelar, yaitu Liga Primer dan Piala FA. Cantona terpilih sebagai Player of the Year versi PFA dan versi Manchester United.

Cantona adalah bintang besar di Inggris kala itu. Cara bermain dengan skill dan gaya percaya diri mengolah bola yang dia tampilkan adalah cara bermain yang sempat hilang di era sepakbola Inggris 1980-an. Cantona membawanya kembali di Inggris. Cantona kembali membawa sepakbola Inggris kembali bergairah.

Kegemilangan Cantona sayangnya harusnya ternoda oleh salah satu aksinya yang menggemparkan sepakbola Inggris pada tahun 1995. Namanya akan selalu diingat karena aksi “tendangan kung-fu” yang dia lakukan kepada suporter Crystal Palace di Stadion Selhurst Park.

Ceritanya begini. Pada 22 Januari 1995, United bertandang ke kandang Palace. Cantona mendapat kartu merah setelah meluapkan emosi yang berlebihan kepada Richard Shaw setelah menarik bajunya. Cantona harus keluar lapangan.

Tak melakukan protes setelah mendapatkan kartu merah, dia pergi meninggalkan lapangan. Ketika tengah berjalan, Cantona mendengar sebuah teriakan yang bernada makian.

“Kembalilah ke Perancis, bajingan,” makian itu berasal dari seorang suporter yang bernama Simmons Matthew.

Mendengar makian itu, dia langsung membalikkan badannya dan meloncat ke gerombolan penonton, tendangan kung-fu pas mendarat ke tubuh Simmons. Situasi di tribune mulai tak terkendali dan ricuh.

Cantona mendapat hukuman dari FA berupa larangan bermain selama delapan bulan. Dia juga harus menjalani hukuman 120 jam melakukan community service. Kehilangan Cantona pada saat itu membuat Man United kehilangan gelar juara Liga Primer dan Piala FA.

Cerita tak berhenti sampai di situ. Setelah diputuskan menerima hukuman, Cantona melakukan sebuah konferensi pers, dan ini adalah kesempatan yang harus dimanfaatkan para jurnalis untuk mendapat kutipan spesial. Namun yang diharapkan para jurnalis ternyata tak sesuai harapan. Cantona malah mengeluarkan sebuah kalimat yang terbilang puitis dan terbilang lembut, kata-kata yang hingga kini mungkin masih tetap akan diingat.

“Ketika burung camar mengikuti kapal pukat ikan, itu karena mereka berpikir ikan sardin akan dilemparkan ke laut. Terima kasih.”

Entah apa maksud dari seorang Cantona mengatakan hal itu. Namun kata-kata itu semakin menegaskan bahwa Cantona adalah seorang yang kultus dan arogan.

Pada September 1995, Cantona mulai kembali ke dalam skuat Ferguson. Hukuman larangan bermain yang diterimanya tak mengubah seorang Cantona yang genius. Dia langsung membawa Man United meraih dua gelar liga dua tahun berturut-turut dan gelar juara Piala FA 1996. Atas penampilannya itu, Cantona meraih penghargaan Foolball Writers` Association Footballer of the Year pada 1995/96. Dia juga dikukuhkan sebagai kapten utama menggantikan Steve Bruce yang pergi.

Pergi dari United

Setelah lima tahun bersama United, Cantona pun memutuskan untuk pergi dari United. Namun pergi dari United itu bukan untuk bermain dengan kesebelasan lain, melainkan pensiun. Tepatnya pada 18 Mei 1997.

Pengumuman pensiunnya itu dilakukan tujuh hari setelah dia meraih gelar Juara Liga Primer keempatnya untuk United, di umurnya yang masih 30 tahun, di mana usia itu masih cukup emas bagi seorang pesepakbola. Sungguh sebuah keputusan yang sangat mengejutkan banyak pihak.

Namun keputusan pensiunnya Cantona bisa dibilang sebagai salah satu bentuk karakter dari dirinya. Dia tahu kapan harus berhenti. Pada saat itu menurutnya adalah saat yang tepat untuk berhenti, berhenti ketika sedang berada di puncak. Dia telah meraih segala kesuksesan di United, dia telah menjadi raja di sana.

Cantona layak diingat sebagai pemain sukses di era kepelatihan Ferguson. Dia adalah kepingan terakhir yang ditemukan Ferguson untuk membangun Man United selama 26 tahun untuk meraih gelar Liga Primer pertamanya. Cantona telah membantu Man United menjadi sebuah kesebelasan yang hebat dan jadi contoh spesial bagi anak-anak muda United kala itu seperti Ryan Giggs, Paul Scholes, dan David Beckham. Cantona menunjukkan bagaimana menjadi pemain hebat kepada mereka.

Dari awal datang, Cantona sudah siap untuk menjadi raja di Old Trafford.

"Beberapa pemain dengan reputasi hebat sering gagal memenuhi ekspektasi dari manajemen United. Namun berbeda dengan Éric. Dari awal kedatangannya, dia sudah sangat percaya dengan membusungkan dada, menaikkan kepala, dan melihat sekeliling seakan-akan berkata: `Saya Cantona, apakah kesebelasan ini cukup layak mempekerjakan saya?`" ungkap Alex Ferguson.

Meski bukan berasal dari Inggris, Cantona adalah representasi yang pas untuk sepakbola Inggris, lebih dari pemain Inggris manapun. Julukan King Eric akan selalu melekat kepada dirinya.

Komentar