Menunggu Kokok Nyaring Si Ayam Jantan

Backpass

by Budi Windekind

Budi Windekind

Penikmat sepakbola, khususnya Indonesia & Italia.

Menunggu Kokok Nyaring Si Ayam Jantan

Giornata ke-14 Serie A musim 1999/2000 pada 18 Desember 2000 kudu dilakoni Bari dengan menjamu Internazionale Milan di Stadion San Nicola. Dibekali materi yang lebih inferior, I Galletti diramalkan bakal keok di tangan I Nerazzurri. Terlebih, performa mereka saat itu sedang angin-anginan karena berkutat terus di papan bawah.

Namun bak cerita ajaib yang memang kerap muncul dari lapangan hijau, Bari justru berhasil membungkam segala macam prediksi. Sebiji gol Inter yang dibukukan Christian Vieri sukses dibalas tuntas oleh sepasang bocah ingusan yang menghuni sektor depan kubu tuan rumah, Antonio Cassano dan Hugo Enyinnaya. Lebih fantastisnya lagi, gol kemenangan nan indah yang dicetak Cassano hadir pada menit-menit terakhir laga!

Di pengujung musim, kemenangan tak terduga dari Inter pasti disyukuri oleh Bari. Bagaimana tidak, tripunti yang didapat dari partai tersebut berkontribusi atas kelolosan mereka dari jerat degradasi. Nangkring di peringkat ke-14 klasemen akhir alias batas aman dari zona merah, koleksi poin Cassano dan kawan-kawan cuma berselisih tiga atau berharga satu kemenangan dari kepunyaan Torino yang duduk di posisi ke-15 dan mesti rela tergusur ke Serie B.

Diinisiasi oleh tiga orang berbeda kewarganegaraan yaitu Floriano Ludwig (Jerman), Gustavo Kuhn (Swiss), dan Giovanni Tiberini (Italia), Bari didirikan pada tanggal 15 Januari 1908.

Layaknya kesebelasan-kesebelasan Italia lain yang cikal bakal skuatnya dijejali banyak pemain asing, hal serupa juga terjadi di tubuh I Galletti. Trio Ludwig, Kuhn, dan Tiberini membuka kesempatan selebar-lebarnya kepada pesepakbola asing, mulai dari Inggris, Jerman, Perancis, Spanyol dan Swiss untuk bergabung, dengan harapan bisa mengantarkan Bari ke level yang lebih tinggi.

Sayangnya, nasib mereka sebagai kesebelasan profesional tak pernah beranjak dari label yoyo. Bukannya tampil brilian sembari bersaing di jalur juara, entah di kancah Serie A ataupun Piala Italia, kesebelasan dari kawasan selatan Negeri Pizza ini malah rajin naik turun divisi. Hal itu bahkan sanggup Bari lakukan dalam tiga atau bahkan empat musim beruntun.

Praktis, trofi juara yang pernah singgah di Stadion San Nicola cuma empat gelar Serie B dan satu Piala Mitropa (sebuah kejuaraan bagi kesebelasan-kesebelasan di Eropa Tengah yang meliputi Austria, Cekoslovakia, Hungaria, Italia, Swiss, dan Yugoslavia).

Kendati tak memiliki prestasi yang kelewat gemilang, I Galletti adalah kesebelasan yang lihai dalam urusan meroketkan pemain muda potensial. Merasa sangsi? Namun Anda pasti akan mengangguk-angguk setuju tatkala saya menyebut nama-nama seperti Leonardo Bonucci, Cassano, Raffaele Costantino, Diego De Ascentis, Matteo Ferrari, Tommaso Maestrelli, Yksel Osmanovski, Simone Perrotta, Andrea Ranocchia, sampai Gianluca Zambrotta.

Masalah Finansial Akut

Problematika finansial yang mengguncang persepakbolaan Italia selama dua dekade terakhir rupanya ikut menggoyahkan Bari. Vincenzo Matarrese yang berstatus sebagai presiden terlama sepanjang sejarah kesebelasan, memulai dinastinya sejak tahun 1983, sampai harus meletakkan kekuasaannya per tahun 2011 silam. Sialnya, Matarrese meninggalkan warisan buruk berupa masalah keuangan akut yang bikin I Galletti seperti ayam pesakitan.

Tanpa keberadaan Matarrese, Bari melaju tak tentu arah. Manajemen baru yang dibentuk juga tak mampu membawa mereka lepas dari ancaman berbagai virus penyakit (baca: masalah). Akibatnya, utang mereka semakin menumpuk dan mencapai 30 juta euro pada Februari 2014. Sebuah nilai yang sangat musykil untuk dilunasi.

Berselang satu bulan, badan administrasi menyatakan bahwa I Galletti resmi bangkrut. Di tengah kondisi serba sulit itu, badan administrasi melakukan proses lelang agar Bari bisa diselamatkan. Ironisnya, dalam dua proses lelang yang diselenggarakan, tak ada satu pun tawaran yang memenuhi kriteria. Keadaan ini sungguh mengancam eksistensi Bari lantaran mereka terancam lenyap dari persepakbolaan Italia untuk selamanya.

Namun mujur bagi I Galletti, di saat proses lelang ketiga dilakukan, sebuah konsorsium yang dipimpin oleh bekas wasit profesional dan ternama Italia, Gianluca Paparesta, sukses mengambilalih kepemilikan tim berikut aset dan gelar yang dimiliki via mahar sebesar 2 juta euro saja. Momen penting tersebut meniupkan asa kepada Bari untuk melanjutkan kiprahnya di dunia sepakbola.

Di bawah komando Paparesta, Bari menunjukkan performa yang menjanjikan dengan menembus play-off Serie B musim 2013/14 usai menempati peringkat tujuh klasemen akhir meski dihukum pengurangan empat angka sedari awal kompetisi. Tragisnya, perjuangan I Galletti buat promosi juga terhenti pada babak semifinal play-off.

Aksi-aksi Bari yang mulai apik bikin Cosmo Giancaspro tertarik untuk membeli saham kesebelasan. Dimulai dengan saham sebesar 5 persen, Giancaspro lantas membeli seluruh saham I Galletti dari tangan Paparesta per tahun 2016 lewat perusahaan bernama Kreare Impresa. Apesnya, Giancaspro dan perusahaannya itu malah terlibat dalam kasus pencucian uang (termasuk saat mengakuisisi saham mayoritas Bari dari konsorsium pimpinan Paparesta).

Situasi buruk yang melanda, sesungguhnya tak bikin performa Bari seketika jeblok di atas lapangan. Di musim 2017/18 silam, mereka bersemayam di posisi tujuh klasemen akhir Serie B dan mengantongi tiket ke babak play-off. Namun situasi keuangan yang makin buruk, memaksa federasi sepakbola Italia (FIGC) dan operator kompetisi, mendegradasi I Galletti secara paksa ke Serie D per musim 2018/19.

Mainan Baru Aurelio De Laurentiis

Saat masa depan Bari nyaris gelap, datanglah sosok Aurelio De Laurentiis. Penggemar Serie A tentu hafal siapa figur yang satu ini. Selain memiliki perusahaan film bernama Filmauro, De Laurentiis juga pemilik dari kesebelasan Napoli.

Memanfaatkan Artikel 52 N.O.I.F yang merupakan aturan internal dari FIGC terkait pembentukan kesebelasan baru di sebuah kota yang sebelumnya punya kesebelasan tapi dilanda kebangkrutan, De Laurentiis kini jadi pemilik Bari yang baru. Walau demikian, De Laurentiis menyerahkan pengelolaan kesebelasan yang satu ini kepada putra tertuanya, Luigi De Laurentiis.

"Saya tak menjanjikan apapun kepada tifosi tapi akan bekerja semaksimal mungkin agar Bari jadi kesebelasan yang kompetitif dan sanggup bertarung lagi di Serie A. Ilusi dan kekecewaan yang berkelindan di tubuh kesebelasan ini selama beberapa tahun terakhir wajib disudahi", papar Luigi seperti dilansir gazzetta.it.

Tak ada yang tahu tentang perputaran nasib, tapi satu hal yang pasti, kokok sumbang yang terdengar dari Bari mesti diubah sesegera mungkin jadi kokok yang nyaring. Mungkin saja perubahan tersebut bisa terwujud di bawah pimpinan Luigi De Laurentiis mengingat pada awal 2019, mereka ada di puncak klasemen Girone I (Serie D dibagi ke dalam sembilan Girone) dan berpeluang promosi ke Lega Pro musim 2019/20.

Komentar