Menjadi Sederhana Seperti Arbeloa

Backpass

by Gilang Dejan (Gilde)

Gilang Dejan (Gilde)

Mengeja dan Menulis Sepakbola.

Menjadi Sederhana Seperti Arbeloa

Álvaro Arbeloa Coca, atau panggil saja dia Arbeloa, Álvaro, Coca, Robocop, dan beberapa juga menjulukinya Espartanos. Pria asal Salamanca kelahiran 17 Januari 1983 itu rasa-rasanya tak akan keberatan dipanggil apa saja. Sebagaimana jalan kariernya yang mengalir dan cukup sederhana sebagai pesepakbola profesional.

Meski namanya diarsipkan sebagai legenda Real Madrid, tapi dia bukanlah Roberto Carlos, Luis Figo, Zinedine Zidane, atau Raul Gonzalez yang familier dengan istilah “Zidanes”, sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut pemain-pemain bintang di Madrid pada masanya.

Jelas jika Arbeloa tak termasuk ke dalam bagian geng Zidanes tersebut. Sebab, terlepas dari usianya yang saat itu masih belia, sebagai seorang pemain belakang tradisional permainannya cenderung simpel, jarang mempertontonkan skill atau berlama-lama dengan bola bak Marcelo di lini belakang bagian kiri Madrid pada La Undecima.

Dalam perjalanannya, Arbeloa menimba ilmu di tim junior Real Zaragoza selama enam tahun sebelum akhirnya masuk ke lingkungan Galacticos melalui Real Madrid Castilla pada tahun 2001.

Banyak yang mengasumsikan tentang Arbeloa sebagai pemain yang “biasa saja”. Namun hal demikian masih bisa diperdebatkan. Sebab penilaian itu bisa patah dengan melihat durasi masa pengabdiannya di Real Madrid selama 13 tahun. Tak mungkin pemain yang biasa-biasa saja bertahan di kesebelasan besar selama itu.

Hebatnya lagi, dia bermukim di Madrid di tengah gencarnya pembangunan proyek “Los Galacticos” oleh presiden Florentino Perez. Arbeloa mampu menembus Los Galacticos jilid I dan II yang mana proyek tersebut dimulai sejak awal milenium. Pelatih sekaliber José Mourinho pun mengakui jika Arbeloa memiliki peranan penting di tim.

"Arbeloa mungkin tidak memiliki penghargaan tersebut (pemain hebat) tetapi dia pastinya merupakan salah satu pemain yang telah memberikan segalanya untuk Real Madrid, suporternya, pelatihnya, dan rekan-rekannya. Untuk Arbeloa, aku hanya memiliki kata-kata bersyukur. Selama 16 tahun berkarier sebagai pelatih, aku menempatkannya dalam podiumku sebagai pemain paling penting selama aku bekerja. Seorang pemain bagus dan pria luar biasa," tutur Mourinho, seperti dikutip dari Marca.

Namun Arbeloa menjalani musim debut yang cenderung muram, sebab sejak promosi dari Castilla ke tim utama pada 2004/05 dia hanya mengukir empat kali bermain bersama geng Zidanes. Hingga pada tahun 2006 keputusan krusial dalam karier dibuatnya untuk mencari jam terbang di kesebelasan lain. Deportivo de La Coruña jadi pilihannya di musim 2006/07. Semusim berselang dia berkelana ke Inggris dan berlabuh di Liverpool.

Memainkan 98 pertandingan dalam tiga musim di Anfield merupakan sebuah proses yang sangat positif. Motivasi dibalik penampilan cemerlangnya itu tidak lain agar bisa membuat pihak Madrid memanggilnya kembali. Berbarengan dengan proyek Los Galacticos jilid II di mana Ricardo Kaka, Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, Xabi Alonso, Mesut Özil, dan banyak lagi pemain bintang lainnya yang bermigrasi ke Santiago Bernabeu, Arbeloa mewujudkan tujuannya itu.

Pada periode ini dia cukup beruntung, sebab bisa menghabiskan tujuh musim dan mengoleksi beberapa medali prestasi termasuk dua Liga Champions UEFA, satu Piala Dunia Antarklub FIFA, dua Copa del Rey, satu La Liga, satu Piala Super UEFA, dan satu Piala Super Spanyol.

Selain prestasi di klub, Arbeloa juga punya satu tempat sejarah penting bagi sepakbola Spanyol. Bersama La Furia Roja, dia menghimpun 56 caps dan turut berpartisipasi dalam periode emas Timnas Spanyol mendominasi daratan Eropa maupun level internasional saat memenangi trofi Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2008 serta 2012.

Jiwa Madridismo

Kembali ke frasa “pemain biasa saja”, peranan Arbeloa sebetulnya tidak sesederhana yang publik lontarkan. Pengaruhnya sangat terasa baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan, terutama loyalitas, jiwa spartan, dan jiwa kepemimpinannya. Oleh karenanya Arbeloa boleh dinobatkan sebagai pengganti yang tepat bagi Juanito Maravilla.

Ihwal Juanito, dia merupakan penyerang Madrid medio 1977-1987 yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Meski dia sudah tiada, namanya tetap hidup di hati para pendukung Madrid karena Juanito bukan sekadar pemain biasa yang ditakar dari kemampuan, jumlah gol, popularitas, dan prestasi.

Pada diri Juanito tertanam jiwa yang mewakili nilai-nilai Madridismo yang mana di dalamnya terdapat semangat, kehormatan, dan kebanggaan tatkala menggunakan jersi Real Madrid. Ia juga selalu terdepan dalam mengatasi persoalan di luar lapangan dan mengejawantahkan kepentingan ultrassur dengan perwakilan kesebelasan maupun transfer pemain.

Arbeloa benar-benar menjawab apa yang selama ini sulit ditemukan di Madrid. Dia membela pemain, pasang badan untuk pelatih, menghargai fans, dan sikap-sikap lain yang dimilikki pendahulunya, Juanito, sebab Arbeloa selalu hadir paling depan untuk menuntaskan permasalahan internal Los Blancos.

Dia menjadi yang paling keras membela pelatihnya, Manuel Pellegrini, kala Madrid gagal lolos ke fase 16 besar Liga Champions dan gagal menjuarai La Liga 2009/10. Dia juga yang membuat beberapa bintang Los Galacticos jilid II bertahan di Madrid, seperti Gonzalo Higuaín yang sempat santer akan meninggalkan Madrid setelah menjuarai La Liga 2011/12. Dalam sebuah momen, Arbeloa membujuk pemain berpaspor Argentina tersebut pada perayaan gelar di Cilebes dengan menyanyikan sebuah lagu “Pipita quedate, Pipita quedate, Pipita quedate…” (Higuaín bertahanlah).

Pun saat isu Cristiano Ronaldo tak nyaman berada di Madrid pada September 2012, Arbeloa hadir sebagai senior yang merangkul kapten Portugal itu. Dia menemui, berbicara, dan meminta Ronaldo terbuka tentang persoalan yang dialaminya di Madrid . “I am here bro, with you, don’t sad,” tulisnya di akun twitter @aarbeloa17. Akhirnya Ronaldo memperpanjang kontraknya sampai 2018.

Arbeloa pun kerap menjadi yang paling lantang meladeni orang-orang yang mengejek kesebelasannya, contohnya saat perang urat saraf di media sosial dengan bek tengah Barcelona, Gerard Pique. Arbeloa adalah jelmaan Juanito yang sempurna!

Memilih Berpisah dengan Sepakbola Secara Sederhana

Arbeloa bisa saja memutuskan pensiun di laga terakhirnya bersama Real Madrid melawan Valencia pada 2016 silam, di mana dia mendapat ucapan perpisahan yang luar biasa dari publik Santiago Bernabeu.

Meski harus bermain di menit akhir menggantikan Cristiano Ronaldo, Arbeloa mungkin tak akan pernah melupakan beberapa menit terakhirnya di Madrid. Sergio Ramos menyambutnya dengan melepas ban kapten dan memberikannya kepada Arbeloa. Tak hanya itu, selepas pertandingan dia diangkat tinggi-tinggi oleh seluruh rekan setimnya. Sebuah seremoni perpisahan paling sempurna, tentunya hal tersebut kontras dengan apa yang didapatkan Iker Casillas yang di musim terakhirnya bersama Madrid lebih sering mendapat cemoohan.

"Setiap pemain Madrid layak mendapatkan perpisahan seperti itu, dengan rekan setim dan suporter ada di sekelilingnya. Aku menghormati apa yang telah ia lakukan untuk Madrid dan berharap yang terbaik untuk Arbeloa di fase baru dalam hidupnya," pekik Casillas dengan nada sarkas, seperti dikutip dari Football Espana.

Namun Arbeloa memilih jalan takdir lain untuk melanjutkan karier di West Ham United pada 2016/17. Bersama The Hammers, dia hanya tampil di tiga pertandingan. Oleh karena itu pula lah, motivasinya dalam bermain sepakbola menurun untuk kemudian keputusan pensiun diambilnya.

Ironisnya, di internal West Ham United, penyambutan bek anyar, Pablo Zabaleta, pada musim itu lebih ramai dibicarakan ketimbang keputusan gantung sepatu Álvaro Arbeloa. Bahkan keputusannya untuk pensiun diumumkan lewat konferensi pers sederhana. "Banyak orang telah mendorongku terus, mengatakan bahwa aku memiliki fisik untuk terus bermain, tetapi itu lebih merupakan masalah mental," kata Arbeloa seperti dikutip dari Marca.

Walau nama besar dan popularitasnya sebagai legenda Madrid menarik minat pasar sepakbola Tiongkok dan Amerika Serikat, ditambah lagi usianya yang masih sangat menopang untuk berkelana ke negeri yang kerap dipilih bintang dunia menghabiskan sisa karier di masa tua, tapi Arbeloa dengan tegas menolaknya.

"Bagiku, sepakbola adalah tentang berjuang hari demi hari, berkompetisi. Pergi berlatih untuk memberikan segalanya, termasuk pada hari liburmu. Pilihan untuk terus bermain di Tiongkok atau Amerika Serikat tidak menarik minatku. Waktunya telah tiba untuk mengatakan cukup karena apa yang disajikan kepadaku sekarang bukan apa yang aku sukai tentang sepakbola,” ucapnya.

"Aku selalu berpikir bahwa aku akan terus bermain sampai kakiku bertahan, tetapi pada akhirnya itu adalah masalah kepala dan motivasi. Hal-hal musim ini tidak berjalan seperti yang aku impikan dan aku jujur pada diri sendiri ketika aku mengucapkan selamat tinggal," tambahnya lagi.

Andai keputusan bermain di Tiongkok dan Amerika Serikat diambil, selain bisa menambah petualangan sepakbolanya, dia juga bisa menambah pundi-pundi kekayaannya. Namun berapapun bayarannya, Arbeloa pada saat itu tak punya motivasi bermain lagi.

"Ketika aku bertanya pada diri sendiri apa yang akan aku lakukan, aku mengerti bahwa aku tidak ingin terus bermain demi uang, aku tidak ingin membawa keluargaku pergi lagi, jadi aku tidak punya apa pun yang memotivasiku,” katanya.

Beberapa pihak mungkin menyayangkan ketika Arbeloa kehilangan motivasi di saat yang tidak tepat. Kenapa dia tidak kehilangan itu di musim sebelumnya ketika Los Blancos memberikan perpisahan hebat untuknya? Namun itulah narasi Arbeloa. Sebuah nilai Madridismo alamiah yang tidak mementingkan popularitas dan nilai-nilai berbau pengakuan.

Dia mengajarkan sebuah kesederhanaan dan nilai-nilai luhur lewat sepakbola. Permainan simpel di lapangan, tidak memprioritaskan uang, dan pensiun secara sederhana di West Ham sebab dia tahu andai keputusannya berpisah dengan sepakbola diambil di Madrid saat itu juga, hal tersebut hanya akan mencederai nilai-nilai Madridismo yang telah dibangunnya.

Komentar