90.000 Kilometer Menuju Spanyol

Backpass

by Fahmin

Fahmin

Playing football with his hands. Writing and playing PlayStation.

90.000 Kilometer Menuju Spanyol

Perjalanan dari Selandia Baru ke Spanyol hanya berjarak 19.878 kilometer, namun Tim Nasional Sepakbola Selandia Baru pada tahun 1982 setidaknya harus menjalani 5 kali lipat jarak tempuh perjalanan atau hampir 90.000 km ke tempat yang sama dalam misi menciptakan sejarah baru persepakbolaan negara mereka.

Sepakbola pada awalnya bukanlah olahraga populer di Selandia Baru. Selandia Baru adalah negara yang mayoritas penduduknya menggilai rugbi sebagai olahraga dengan sejarah panjang dan segudang prestasi mengkilap. Sementara timnas sepakbola di negara yang terletak di barat daya Samudera Pasifik ini butuh waktu lama untuk meraih gelar mayor perdana sejak sepakbola dimainkan secara resmi untuk pertama kalinya pada 17 Juni 1922.

Namun pada 10 Januari 1982, Timnas Selandia Baru untuk pertama kalinya berhasil lolos menuju Piala Dunia. Turnamen sepakbola terbesar dunia itu dilangsungkan Spanyol pada tahun yang sama ketika mereka memastikan diri lolos. Setelah itu, seketika sepakbola menjadi populer ke seantero negeri.

“Sebelum kami melenggang ke Spanyol pada 1982, rugbi merupakan olahraga kegemaran, lalu All Whites hadir dan memulai memenangi sejumlah laga, membuat seluruh negeri menjadi pendukung kami di Piala dunia,” ujar Ricky Herbert, salah satu pemain yang ikut andil membawa Selandia Baru ke Piala Dunia 1982.

Saat itu babak kualifikasi benua Asia (AFC) dan Oseania (OFC) digabung. Selandia Baru tergabung di Grup 1 bersama Australia, Indonesia, Tionghoa Taipei, dan Fiji.

Perjalanan panjang menuju Spanyol dimulai dengan menahan imbang rival klasik mereka, Australia, lalu dilanjutkan dengan mengandaskan dua kali perlawanan Indonesia anak asuhan Harry Tjon. Sempat melumat Fuji dengan skor bola kriket, 13-1, mereka melenggang mulus ke babak kedua kualifikasi Piala Dunia dengan menantang Arab Saudi, Kuwait, dan Tiongkok.

Dengan catatan sekali menang, tiga hasil imbang, dan satu kali kalah di babak kedua kualifikasi, Selandia Baru membutuhkan lebih banyak keberuntungan di laga terakhir grub. Mereka butuh setidaknya 6 gol away di Riyadh agar bisa lolos otomatis ke Piala Dunia Spanyol.

Masalahnya, mencetak setengah lusin gol di Arab Saudi hampir sama mustahilnya dengan menemukan salju di padang pasir. Tapi bukankah selalu ada kemungkinan pada setiap ketidakmungkinan bagi siapapun yang meyakininya, sekecil apapun itu?

Alhasil, mereka tanpa ampun membombardir lima kali gawang Arab Saudi di babak pertama. Sayangnya, satu gol (lagi) yang mereka butuhkan untuk memastikan tiket langsung ke Piala Dunia tak kunjung berhasil mereka buat di babak kedua.

Namun kans lolos ke Piala Dunia tetap terbuka, memiliki poin dan agregat gol yang identik dengan Tiongkok, kedua negara harus adu kuat di pertandingan hidup-mati yang diselenggarakan pada 10 Januari 1982 di Singapura.

Dihadiri hampir 60.000 penonton dengan mayoritas pendukung Tiongkok di tribun, pasukan putih-putih garapan John Adshead memulai laga secara meyakinkan dengan unggul lebih dulu melalui gol Steve Wooddin di menit ke-25. Sepakan Wynton Rufer hasil umpan lambung Richard Wilson di menit awal babak kedua membuat Selandia Baru berada di atas angin. Satu gol balasan Tiongkok yang dicetak Liu Chengde melalui sepakan keras dari dalam kotak penalti tidak cukup mampu untuk mencegah pasukan All Whites melenggang ke pergelaran Piala Dunia di Spanyol, tempat di mana perjalanan panjang tim ini akhirnya berhenti.

Sepanjang kualifikasi, selain menjadi tim dengan jarak tempuh terpanjang pada Piala Dunia, Selandia Baru juga tercatat sebagai tim yang paling banyak memainkan laga kualifikasi dibanding negara-negara lain. Selain itu, 44 gol yang mereka lesakkan dan 921 menit tanpa kebobolan membuat perjalanan ke Spanyol lebih mengesankan.

Pada putaran final Piala Dunia 1982 sendiri, Selandia Baru bermain tanpa beban. Dihajar Skotlandia 2-5, dihujam tiga gol oleh Uni Soviet, dan empat kali dibobol talenta-talenta Brasil tidak berarti banyak bagi para debutan seperti Selandia Baru.

Kiprah mereka di Piala Dunia 1982 di Spanyol lebih kepada tentang narasi seputar pencapaian yang luar biasa yang sudah mereka lakukan selama kualifikasi, tentang kegigihan melawan ketidakmungkinan di Arab Saudi, serta penampilan luar biasa yang mereka tunjukkan di laga penentuan kontra Tiongkok.

Namun terlepas penampilan ala kadarnya di putaran final Piala Dunia 1982, atas apa yang sudah mereka torehkan mereka layak untuk dikenang, nama mereka adalah bagian sejarah sepakbola di Selandia Baru.

“Apa yang tim Selandia Baru capai di pergelaran di Piala Dunia 1982 meletakkan Selandia Baru di peta persaingan sepakbola dunia dan warisan mereka akan bertahan selamanya,” ujar Chief Executive Selandia Baru, Andy Martin. “The gank 82 adalah fondasi sepakbola Selandia Baru dan kita tidak akan di sini hari ini tanpa sejarah yang sudah mereka ciptakan.”

Setidaknya sampai Piala Dunia 2018, lolosnya wakil Oseania seperti Selandia Baru ke Piala Dunia adalah sebuah perayaan. Bagaimana tidak dirayakan? Benua Oseania (OFC) selalu dianaktirikan. Mereka memiliki jatah setengah ke Piala Dunia, artinya pemenang Oseania harus memainkan play-off melawan negara dari benua lain (biasanya Amerika Latin) terlebih dahulu jika ingin lolos ke putaran final.

Baca juga: Membayangkan Indonesia ke Piala Dunia Lewat Jalur Oseania

Komentar