Kiamat, Suku Maya, dan Sepakbola

Backpass

by Adrianus Eduard Johanes Saerong

Adrianus Eduard Johanes Saerong

"Losing my religion to football"

Kiamat, Suku Maya, dan Sepakbola

Kalender Suku Maya terhenti. Setelah 5.125 tahun mereka menghitung hari, 21 Desember 2012 menjadi akhir dari semuanya. Setidaknya itulah yang dipercaya kalender tersebut ditemukan di Guatemala. Pada 2009, Sony dan Columbia Pictures bahkan merilis film berjudul `2012`.

Film yang diarahkan oleh sutradara `Godzilla` (1998) dan `The Day After Tomorrow` (2004), Roland Emmerich, sukses secara komersil. Bermodal 200.000.000 dolar AS, film tersebut menghasilkan uang lebih dari tiga lipatnya. Akan tetapi para kritikus tidak menyukainya. Hanya 40% yang jadi skor RottenTomatoes mereka. Anthony Lane dari New Yorker bahkan menyebut film `2012` sebagai sesuatu yang mudah ditebak dan terlalu panjang.

`Prediksi` kalender Suku Maya kurang lebih juga memiliki nasib yang sama dengan film tersebut. Menarik perhatian masyarakat, jelas. Tapi saat kita masuk ke 22 Desember 2012, ramalan tersebut menjadi lelucon. Ramalan ini memang ditanggapi secara berbeda-beda. Penyerang kelahiran Inggris dengan keturunan Ghana, Dan Agyei, meminta semua orang yang percaya dengan ramalan tersebut untuk memberikan barang-barang peninggalan mereka kepada dirinya.

"Untuk semua orang yang percaya besok akan kiamat: Tolong tinggalkan semua kepemilikan Anda di rumah saya," tulis Agyei yang saat itu berusia 15 tahun di Twitter.

Sementara masyarakat di Provinsi Sichuan, Tiongkok berbondong-bondong membeli lilin dan Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev, sampai harus menghimbau masyarakat di sana untuk tetap tenang. Tapi ternyata 22 Desember 2012 masih bisa dirasakan oleh dunia.

Entah apa alasan kalender Suku Maya itu terhenti di 21 Desember 2012. Pasalnya, keturunan mereka masih bisa ditemukan di daerah Guatemala, Meksiko, Honduras, dan lain-lain. Kalender tersebut kini hanya jadi sebuah artefak, warisan. Satu dari berbagai warisan Suku Maya lainnya, seperti sepakbola.

Dari mana sepakbola ditemukan memang memiliki banyak versi. Ada yang mengatakan Tiongkok adalah penemu permainan sepakbola. Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter adalah salah satu orang yang mempercayai hal ini.

Ada juga yang mengatakan Inggris sebagai tempat sepakbola lahir, karena mereka yang membuat aturan-aturan tertentu hingga kita mengenal permainan tersebut bertahun-tahun kemudian. Versi sepakbola lahir dari permainan Suku Maya juga ada.

Baca juga: Rumah Sepakbola adalah Tiongkok, Bukan Inggris

Childcraft, buku edukasi untuk anak-anak yang terbit pada 1993, menjelaskan permainan ini diikuti oleh dua kelompok. Masing-masing kelompok terbentuk dari tiga orang. Mereka menggunakan sarung tangan dan berbagai pelindung, menyerang satu sama lain dengan bola karet.

Permainan ini ditemukan Suku Maya, dan berbagai lapangan disediakan untuk pertandingan. Ini bahkan bukan sekedar olahraga, namun juga bagian dari ritual religi mereka. Dikenal dengan sebutan `Pok a Tok`, permainan ini mempertaruhkan nyawa.

Menurut mitos yang ada, Dewa Hun Hunahpu dan Vucub Hunahpu kesal mendengar kebisingan yang terjadi di bawah langit. Hun Hunahpu akhirnya memberikan izin pada mereka yang ada di bumi untuk bermain. Hanya saja ada satu syarat: Jika kalah, kepala mereka akan dipenggal.

Biasanya, kapten dari masing-masing kelompok yang menjadi korban. Tumbal manusia sesuai permintaan dewa inilah yang membuat Pok a Tok menjadi upacara religi. Padahal awalnya mereka hanya bermain dengan bola berdiameter 10-30 centimeter dengan berat 500 gram hingga 3,5 kilogram. Hanya karena terlalu berisik bagi para dewa, permainan itu menjadi sebuah ritual.

Beruntung bukan itu sepakbola yang kita kenal di masa modern. Meski pada 1942, pertandingan sepakbola yang mempertaruhkan nyawa masih terjadi. Tapi itu cerita lain. `Pok a Tok` juga hanya satu dari berbagai permainan yang diklaim menjadi asal usul sepakbola. Namun setidaknya konsep di mana dua kelompok bertanding dengan sebuah bola tanpa menggunakan tangan mereka hidup sampai `kiamat` lewat.

Bayangkan jika 21 Desember 2012 benar-benar menjadi akhir dari dunia yang kita ketahui. Mungkin, ada beberapa hal positif. `Emoji Movie` tidak akan keluar di layar lebar. Machine Gun Kelly dan Eminem masih damai.

Tapi itu juga berarti kita tak akan melihat Leicester City menjadi juara Liga Primer Inggris. Belum pernah ada kesebelasan yang bisa menjuarai tiga Liga Champions berturut-turut; Real Madrid melakukannya pasca "kiamat". Zinedine Zidane tak akan dikenal sebagai salah satu pelatih terbaik di dunia, dan masih banyak lagi!

Andai kiamat terjadi pada hari itu, Manchester United akan punah bersama Sir Alex Ferguson sebagai manajer mereka. RB Leipzig tidak akan mewarnai Bundesliga. Erick Thohir tidak akan terdaftar sebagai pemilik Internazionale Milan. Atletico Madrid tidak akan merusak tatanan La Liga dan mendapatkan gelar juara ke-10 mereka. Namun yang lebih penting lagi, sepakbola Indonesia akan terhenti dengan dualisme sebagai catatan terakhir PSSI.

Pergi dengan kondisi dualisme tentu bukan sejarah positif, sekalipun tidak akan ada yang mempedulikan hal tersebut karena kita semua sudah tiada. Beruntung, ramalan Suku Maya tidak terjadi. Sehingga seburuk apapun kondisi sepakbola Indonesia, masih ada waktu untuk memperbaikinya. "Kiamat" 21 Desember 2012 sudah jauh berlalu; masa depan terus menanti.

Komentar