Kepak Sayap Nolberto Solano

Backpass

by Redaksi 14

Redaksi 14

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kepak Sayap Nolberto Solano

Pada bursa transfer musim panas 1998, Newcastle United rela menggelontorkan duit dengan jumlah cukup tinggi, 2,5 juta paun, bagi pemain asal Peru yang namanya kurang dikenal publik, Nolberto Albino Solano Todco.

Keadaan ini bikin suporter Newcastle bertanya-tanya tentang kapabilitas sang rekrutan anyar. Tak peduli bahwa sebelum pindah ke Stadion St James` Park, Solano yang memperkuat Boca Juniors dihadiahi julukan Maestrito oleh rekan setimnya yang juga legenda sepakbola Argentina, Diego Maradona.

Walau kedatangannya diiringi skeptisme fans, pihak Newcastle tetap yakin kalau perekrutan Solano adalah keputusan tepat. Kemampuan Solano dianggap bisa meningkatkan kekuatan kesebelasan yang saat itu telah diperkuat nama-nama mentereng sekelas Warren Barton, Shay Given, Alan Shearer, dan Gary Speed serta dinakhodai oleh Sir Kenny Dalglish.

Berstatus sebagai anak baru, secara tak terduga Solano langsung mendapat kepercayaan masif dari Dalglish dengan mematri pos gelandang sayap kanan. Tatkala Dalglish kehilangan jabatannya (dipecat gara-gara sepasang hasil imbang di dua laga perdana musim 1998/99) dan disubstitusi oleh Ruud Gullit, posisi Solano sebagai pilar inti The Magpies tidak tergoyahkan.

Bahkan ketika Gullit dilengserkan dari kursi pelatih akibat penampilan jeblok (empat kali tumbang dari lima pertandingan) di awal musim 1999/00 sehingga digantikan oleh Sir Bobby Robson, Solano tetap dipertahankan di starting eleven. Sebuah bukti kalau pria kelahiran Callao, 12 Desember 1974 tersebut memiliki esensi yang setara dengan Barton, Given, Shearer, dan Speed.

Pada masa awal kepemimpinan Robson, performa The Magpies memang sangat jauh dari kata impresif. Walau begitu, pihak manajemen dan suporter yakin bahwa figur penuh pengalaman itu adalah sosok yang tepat untuk membawa Newcastle jadi tim yang lebih disegani. Benar saja, walau musim 2000/01 hanya diselesaikan Solano dan kawan-kawan di papan tengah, grafik mereka justru meningkat pada musim-musim berikutnya.

Skema 4-4-2 yang digemari Robson plus masuknya Craig Bellamy dan Laurent Robert, disebut-sebut sebagai momen krusial bagi perputaran roda nasib The Magpies. Bellamy menjadi tandem yang pas bagi Shearer di lini depan. Sementara kombinasi Robert dan Solano di pos gelandang sayap bikin siapa saja was-was. Musim 2001/02 disudahi Newcastle dengan finis di peringkat empat klasemen akhir. Pencapaian ini adalah momen terbaik mereka sejak musim 1996/97 dan membuat Solano dkk berhak lolos ke Liga Champions UEFA buat kedua kalinya sepanjang sejarah kesebelasan.

Aksi lebih impresif ditunjukkan Newcastle pada 2002/03 manakala finis di peringkat ketiga. Tak hanya itu, mereka pun sempat bersaing ketat dalam perburuan gelar juara dengan Manchester United serta Arsenal yang di pengujung musim finis berurutan di posisi satu dan dua.

Catatan manis Solano di Newcastle dalam arahan Robson berlanjut kembali di musim 2003/04 saat mereka bertengger di peringkat lima klasemen akhir Liga Primer Inggris. Bahkan mereka nyaris melenggang ke final Piala UEFA (kini Liga Europa) di musim tersebut andai tidak dibekap Olympique de Marseille pada babak semifinal.

Dengan tugas utama menjadi pelayan bagi para striker via umpan-umpan manisnya dari sisi sayap, Solano yang energik dan lincah juga piawai dalam urusan mencetak gol. Dalam situasi open play, dirinya bisa merangsek tiba-tiba di dekat kotak penalti guna melepaskan tembakan geledek yang susah diantisipasi. Keahliannya buat mengeksekusi bola-bola mati juga membuat Solano diplot sebagai eksekutor utama The Magpies sehingga cukup banyak gol indah yang ia ciptakan dari cara tersebut.

Kegemilangan yang dipertontonkan kesebelasan yang berdiri tahun 1892 tersebut selama dilatih Robson bahkan menggoda saya untuk menggunakan mereka di gim simulasi Championship Manager 3 musim 2001/02. Mengandalkan formasi yang tak berbeda jauh dengan kesukaan Robson di dunia nyata, Newcastle asuhan saya berhasil memenangi dua gelar Liga Primer, dan masing-masing sebiji Piala Liga serta Community Shield dalam kurun tujuh musim melatih. Rekor yang cukup apik, bukan?

Duet Bellamy dan Shearer di sektor penyerangan berikut sayatan tajam Robert dan Solano di area sayap menghadirkan sepakbola yang ofensif, dan amat seksi bagi saya dalam gim tersebut. Ah, andai saja hal itu juga muncul di dunia nyata, paceklik titel liga The Magpies sedari tahun 1927 barangkali sudah berakhir.

Musim 2003/04 sendiri jadi periode pamungkas Solano mengabdikan diri di Stadion St James` Park. Menurut pengakuan Solano, keputusannya hengkang ke Aston Villa lantaran relasinya dengan Robson semakin meruncing.

Usut punya usut, selama keduanya berkolaborasi, sang pelatih acap geram dengan seringnya Solano absen membela The Magpies gara-gara membela Tim Nasional Peru, baik di laga persahabatan, maupun kualifikasi Copa America dan Piala Dunia. Akibatnya, Robson semakin enggan memainkannya dan memilih untuk meletakkan Solano ke dalam daftar jual kesebelasan.

"Hubunganku dengan Robson jauh dari kata harmonis. Ada hal yang tidak disukainya dariku, tapi ia tak membicarakannya secara langsung denganku", tutur Solano seperti dilansir Sky Sports.

Namun janggal, Solano gagal menduplikasi performa apiknya dengan Newcastle saat mengenakan baju Aston Villa. Alhasil dirinya cuma bertahan satu musim di Stadion Villa Park sebelum `mudik` ke Stadion St James` Park lagi di musim 2005/06. Bahkan demi memuluskan kepulangannya tersebut, Solano menolak tawaran dari Liverpool yang kepincut pada kemampuannya.

Di periode keduanya membela The Magpies, Solano selalu jadi penggawa inti meski dalam rentang 2005/06 sampai 2006/07 Newcastle kerap melakukan pergantian pelatih dan secara berturut-turut hanya mampu nangkring di posisi tujuh serta 13 klasemen akhir.

Akan tetapi, keputusannya pindah ke West Ham United jelang bergulirnya musim 2007/08 seolah jadi penanda merosotnya karier Solano. Kegagalannya tampil prima di Stadion Upton Park mendorong ia berpetualang ke Liga Yunani bareng Larissa, pulang ke kampung halaman di Peru guna membela Universitario, sebelum balik lagi ke Negeri Tiga Singa guna memperkuat Leicester City, Hull City, dan Hartlepool United pada tahun-tahun selanjutnya hingga memutuskan untuk gantung sepatu.

Terkesan aneh memang tapi kenyataannya, selama di Inggris, cuma di Newcastle Solano benar-benar mampu mengepakkan sayapnya secara paripurna dan beroleh cinta luar biasa dari kesebelasan maupun suporter. Walau demikian Solano pun sadar bahwa terdapat noda hitam dalam karier cemerlangnya di Stadion St James` Park.

"Dukungan suporter kepadaku sungguh luar biasa. Mereka membuatku serasa di rumah. Namun satu hal yang jadi penyesalanku sampai hari ini adalah kegagalan menghadiahkan gelar apapun bagi kesebelasan dan mereka", terang Solano seperti dikutip dari Sky Sports.

Komentar