Memutar Tayangan Ulang Bersejarah

Backpass

by Gilang Dejan (Gilde)

Gilang Dejan (Gilde)

Mengeja dan Menulis Sepakbola.

Memutar Tayangan Ulang Bersejarah

Evolusi siaran pertandingan olahraga terus bergegas ke arah yang lebih baik, termasuk di sepakbola. Dari zaman siaran radio, siaran televisi hitam putih, siaran televisi berwarna, hingga siaran televisi live eksklusif telah menjadi bagian revolusi dua industri berbeda: penyiaran dan olahraga.

Salah satu teknologi yang membuat banyak perbedaan adalah fitur instant replay atau tayangan ulang. Instant replay kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari siaran pertandingan olahraga. Bahkan teknologi ini telah banyak membantu para wasit dalam mengurangi kesalahan dan kontroversi.

Teknologi instant replay ini berawal dari sesuatu yang terjadi pada 7 Desember 1963.

Pada hari itu, secara resmi instant replay melakukan debutnya di sebuah pertandingan National Football League (NFL) di Philadelpia, Amerika Serikat, yang disiarkan langsung oleh CBS Television.

Kala itu, Angkatan Darat AS bertanding melawan Angkatan Laut AS. Momen itu datang ketika fans melihat gelandang angkatan darat Rollie Stichweh meninju dalam satu putaran touchdown. Kemudian tak berselang lama, mereka melihat Stichweh berlari lagi. Itulah instant replay pertama dalam sejarah.

Di dunia sepakbola sendiri tak ada waktu yang jelas kapan teknologi instant replay ini melakukan debutnya.

Otoritas tertinggi sepakbola dunia bahkan sempat menciptakan polemik sendiri terkait hal ini, sebab dibawah pimpinan Sepp Blatter teknologi ini sama sekali tak diizinkan untuk kebutuhan perwasitan, kecuali pada Piala Dunia 2018. Dalam dunia perwasitan sepakbola, teknologi ini dikenal dengan nama Video Assistant Referee (VARs).

Baca juga: Serba Salah VAR

Kendati demikian, teknologi ini memang lazim digunakan sejak jauh sebelum itu untuk kebutuhan penonton layar kaca.

Dalam versi Tirto.id, tayangan instant replay mulai dipakai di sepakbola sejak Piala Dunia 1966. Pada saat itu, stasiun televisi BBC menyiarkan laga final dan menampilkan rekaman ulang saat Geoff Hurst menjebol gawang Jerman Barat yang dijaga oleh Hans Tilkowski.

Konon, ada tiga kamera yang dipakai: dari atas tribun, dari pinggir lapang, dan dari belakang gawang. Rekaman tersebut menarasikan bahwa bola belum sepenuhnya melintasi garis gawang. Namun tak bisa dipastikan apakah final Piala Dunia tersebut jadi debut tayangan instant replay di sepakbola atau bukan.

Bisa dibayangkan, sebelum dunia pertelivisian mengadopsi instant replay, mereka yang menonton di rumah akan menemukan pengalaman yang sama seperti yang dialami penonton di stadion. Tidak ada tayangan ulang untuk gol yang baru saja terjadi, pelanggaran, dan aksi-aksi penting lainnya. Berkat teknologi ini kita bisa melihat dan memperjelas apa yang terjadi sebelumnya.

Seiring berjalannya waktu, metode pemutaran ulang secara langsung (atau instan) telah dikembangkan sedemikian rupa. Bukan sekadar melihat video yang mengulang aksi penting atau bagian tidak jelas dari permainan.

Server video dengan terobosan teknologi yang lebih canggih memudahkan penonton layar kaca, komentator sepakbola, bahkan perangkat pertandingan melihat reka ulang kejadian yang terlewatkan oleh kasat mata.

Bahkan bumbu tambahan yang lebih kompleks seperti replay dalam kecepatan bervariasi, alat analisis instant seperti kecepatan bola dan perhitungan jarak langsung, bingkai diam, dan lainnya telah memanjakan kita sebagai penonton baik di rumah maupun di stadion —meski dalam hal ini belum semua stadion bisa mengadopsi instant replay atau VAR— contohnya Stadion Anfield dan Old Trafford yang belum memiliki big screen.

Lantas siapa penemu teknologi yang memanjakan kita dalam menonton sepakbola ini?

Penemu Instant Replay

Instant replay tidak terlahir dari pemikiran ilmuwan atau hasil penelitian laboratorium yang mewah. Semua bermula saat Anthony F. Verna, atau dikenal dengan nama Tony Verna, bersusah payah membawa sekitar 1.200 mesin berat yang beratnya lebih dari satu ton.

Mesin-mesin itu kemudian disimpan di pusat kaset video CBS di Grand Central Station di New York. Ia membawa itu semua demi siaran yang lebih baik dan terciptanya instant replay pada pertandingan angkatan laut melawan angkatan darat AS di Pennsylvania, Philadelphia.

Baca juga: Sepakbola Layar Kaca

Namun dia tak mempunyai kontrol langsung untuk melihat reka ulang kejadian di stand siaran, sebab perangkat baru yang dibawanya itu melibatkan tape deck seukuran lemari es dan ditempatkan di sebuah truk raksasa yang terparkir di area stadion. Dia tak bisa menentukan kapan harus memulai dan menghentikan replay secara eksklusif.

Akan tetapi Verna menemukan celah terkait rekaman dalam siarannya hari itu. Dia menemukan dua track audio yang salah satunya menyimpan ruang kosong alias tak digunakan. Verna pun membawa temuan ini ke laboratorium CBS untuk penelitian lebih jauh. Bahkan dia membawa tape teknis cadangan ke rumahnya dan mengembangkan metode untuk mengatur tape agar menunjukkan bagian permainan yang ingin segera dia tayangkan kembali secara intensif.

Upaya Verna tak hanya untuk mengabadikan momen, tetapi juga untuk mengulang momen. Ia sadar jika trik replay-nya gagal, para penggemar yang menyaksikan pertandingan di rumah tidak akan mendapatkan sudut pandang berbeda. Di lain hal, sebagai produser CBS Television, Verna memikirkan industri pertelevisian untuk jangka pendek maupun panjang.

Apakah setelah itu dia menemukan jawaban? Tidak selalu. Terkadang gambar keluar acak-acakan, berantakan, dan Verna tidak bisa menyiarkannya. Dia butuh enam sampai tujuh kali percobaan sebelum akhirnya penyiar Lindsey Nelson harus memperingatkan pemirsa bahwa dalam pertandingan, quarterback Angkatan Darat, Rollie Stichweh, mencetak gol.

“Ini bukan live (siaran langsung), pemirsa! Tuan dan Nyonya, Angkatan Darat tidak mencetak gol lagi,” ucap Lindsey mengomentari kejadian yang sama persis dalam tayangan ulang bersejarah itu. “Lindsey, ini dia!”, Verna menimpali.

Namun saat itu perangkat baru yang diciptakan Verna tak langsung diterima dengan mudah oleh pemirsa. Beberapa masih kebingungan, sebab pada saat itu jaringan membutuhkan 15 menit merapikan tayangan ulang dan menunjukkan permainan lagi. Verna terus berupaya hingga pada akhirnya dia mampu memangkas waktu lebih singkat, yaitu 15 detik.

Di saat itulah CBS dan olahraga berjaya. Setelahnya nama Verna melambung tinggi. Dia menjadi produser kenamaan di beberapa acara televisi besar, termasuk acara “Live Aid” pada 1985 dan “Doa untuk Perdamaian Dunia” Paus Yohanes Paulus II, yang ditonton oleh 1 milliar orang. Ia juga menerima penghargaan seumur hidup “Direksi Guild of America” pada 1995.

Verna meninggal dunia pada usia 81 tahun pada 18 Januari 2015 di rumahnya setelah berjuang melawan leukimia limfoblastik akut. Dia menulis lima buku semasa hidupnya, termasuk “Instant Replay: Hari yang mengubah olahraga selamanya”.

Dengan mengetahui perjuangan bagaimana tayangan ulang pertama dalam sejarah ditemukan, nama Tony Verna akan selalu bersemayam acap kali kita menyaksikan tayangan ulang sebuah kejadian di pertandingan sepakbola atau olahraga lainnya.

Komentar