Panenka Berontak Lewat Titik Penalti

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Panenka Berontak Lewat Titik Penalti

Apa yang pertama kali terlintas di benak Anda ketika mendengar kata “Panenka”? Adalah wajar jika menyebut cara mengeksekusi tendangan penalti dengan cungkilan. Antonin Panenka melakukannya saat final Piala Eropa 1976 ketika Republik Ceko berhadapan dengan Jerman Barat. Namun sesungguhnya ada makna tersirat di balik aksi menawan itu.

Saat itu tugas Panenka tidak mudah. Dia membawa beban satu negara karena jika bola berhasil masuk ke gawang, maka Republik Ceko akan keluar sebagai juara untuk kali pertama. Kita semua tahu bahwa akhirnya Panenka menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan terlampau baik bila ditinjau dari metode eksekusi yang tidak lazim pada saat itu. Legenda sepakbola Brasil, Pele, mengatakan hanya orang genius dan orang gila saja yang berani melakukan tendangan penalti seperti itu.

Pele tidak berlebihan jika memuji Panenka sebagai seorang genius. Tendangan itu tidak muncul secara tiba-tiba. Ide eksekusi yang tak lazim itu lahir dari sebuah proses latihan dan rasa kecewa yang panjang.

Alkisah pada 1970-an, Panenka sering latihan tendangan penalti di kesebelasannya bernama Bohemian Praha. Tidak jarang latihan kerap disertai taruhan agar semakin menarik. Entah dengan segelas bir, sebatang cokelat, atau beberapa lembar uang. Sial bagi Panenka karena dia sering kalah dalam taruhan itu.

“Karena dia (Zdenek Hruska) adalah penjaga gawang yang jago, saya kehilangan banyak uang karena dia terus menggagalkan tembakan saya. Akibatnya, saya sering terbangun di malam hari memikirkan bagaimana bisa mengubah keberuntungan. Saya menyadari bahwa penjaga gawang selalu menunggu bola sampai sebelum momen terakhir, guna mengantisipasi ke mana bola akan pergi dan bergerak tepat sebelum ditendang, sehingga dia dapat mencapai arah tembakan tepat waktu. Saya memutuskan bahwa mungkin lebih mudah untuk mencetak gol dengan pura-pura menembak dan kemudian secara lembut mencungkil bola ke tengah gawang. Saya kemudian mencobanya ketika latihan dan ternyata itu berhasil. Satu-satunya masalah adalah badan saya mulai lebih gemuk karena memenangkan semua bir dan cokelat itu.” Kenang Panenka sebagaimana dilansir dari situs Czech Radio.

Tidak salah juga jika Panenka kemudian dibilang gila. Selain karena gaya tendangan yang tak lazim dan berisiko tinggi, bisa diartikan apa yang Panenka lakukan adalah ekspresi kebebasan di tengah rezim komunis yang serba membatasi, sehingga eksekusi penalti ala Panenka bukan hanya dilihat sebagai keindahan, melainkan bentuk protes atau pemberontakan kecil terhadap penguasa.

Baca selengkapnya: Kenapa Pemain Menendang Penalti dengan Panenka?

Panenka lahir di Praha pada 2 Desember 1948. Di tahun yang sama, partai Komunis Ceko memulai sebuah era baru di negara itu yang akan bertahan hingga 1989. Panenka belum lahir ketika tentara merah Uni Soviet membantu kaum nasionalis membasmi fasisme Jerman dari Praha dan sekitarnya. Bantuan itu berujung pada kemenangan sekaligus peluang Uni Soviet memperluas ideologi mereka di tanah Ceko.

Warga Ceko yang tidak mematuhi sosialisme tidak hanya diinterogasi, diintimidasi dan diawasi, tetapi juga digeledah tempat tinggalnya. Polisi Rahasia berperan penting dalam melecehkan hak-hak sipil. Mereka berhak menahan seorang atau sekelompok orang yang dianggap “berbahaya” bagi stabilitas negara tanpa surat perintah. Biasanya mereka hanya perlu satu buah literatur sebagai bukti untuk menahan tanpa peduli buku-buku atau pamflet-pamflet itu didapatkan dari mana.

Kehadiran agen-agen intelijen hingga ke rumah-rumah warga menghalangi orang untuk berbicara secara terbuka. Banyak antrean panjang di toko-toko karena distribusi barang yang terpusat. Laki-laki maupun perempuan dipenjara karena mengajukan keluhan atau menandatangani petisi.

Orang-orang kaya berubah menjadi miskin karena aturan hak milik yang beralih dari individu ke negara tanpa prosedur yang pasti. Kaum cendekiawan dan intelektual dipaksa melakukan pekerjaan kasar seperti membuat jalan atau membersihkan gedung-gedung bertingkat. Jika mereka membangkang, keluarga yang ditinggalkan dihukum berat dan kemungkinan tiada pernah berjumpa lagi.

Rezim saat itu mengontrol aktivitas warga hingga ke segala aspek, termasuk olahraga. Dalam hal sepakbola, federasi menerapkan aturan ketat pada transfer pemain. Khusus pesepakbola Ceko yang hendak bergabung dengan klub luar, federasi berhak melakukan screening terhadap calon klub tujuan. Biasanya federasi bakal menolak jika calon klub berasal dari negeri yang menganut paham liberalisme, kapitalisme, dan sebagainya. Hal itu semata-mata dilakukan karena khawatir ada warga negaranya yang terkontaminasi paham-paham di luar sosialisme.

Maka tidak heran, si genius Panenka tidak punya portofolio mentereng di level klub. Dia sebenarnya tertarik untuk membuktikan dirinya di tanah Inggris dan Spanyol yang kala itu dianggap sebagai kiblat sepakbola Eropa. Namun apa daya, rezim membatasi gerak-geriknya sebagai atlet profesional. Dia baru bisa pindah ke luar Ceko pada 1980-an ketika usianya sudah mencapai 32 tahun. Itu pun ke Rapid Vienna, kesebelasan Austria.

Banyak yang mengibaratkan pesepakbola adalah seniman di lapangan hijau. Sebagai seniman, Panenka berhak memilih panggungnya sendiri. Tak tanggung-tanggung, dia langsung menggebrak panggung Piala Eropa lewat cungkilan manis dari kakinya. Yang lebih menarik, dia melakukannya di Stadion Crvena Zvezda, Beograd yang masih dalam kekuasaan teritorial Yugoslavia dan menganut sosialisme.

Sejak kecil, Panenka sudah akrab dengan gaya sosialisme berkuasa. Dia paham bahwa telah terjadi krisis kebebasan dan kurangnya improvisasi dalam masyarakat sosialisme. Sehingga eksekusi penalti ala Panenka di Yugoslavia saat itu bukan hanya sekadar improvisasi dalam olahraga sepakbola, melainkan ekspresi kebebasan sang seniman yang merasa kerap dibatasi.

Komentar