Tiga Situasi Rumit Danny Welbeck

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Tiga Situasi Rumit Danny Welbeck

Pada 9 November 2018, Arsenal jumpa Sporting Lisbon dalam pertandingan lanjutan fase grup Europa League. Laga itu berakhir imbang 0-0 dan menyisakan pahit bagi seorang Danny Welbeck. Pasalnya pada laga itu, pergelangan kakinya mengalami patah. Dia sempat diberi masker oksigen sebelum ditandu ke luar lapangan dan dirawat intensif di rumah sakit.

Malam itu bukan pertama kalinya Welbeck menderita cedera. Menurut Telegraph, sepanjang Mei 2015 hingga Januari 2017, dia absen sebanyak tujuh puluh pertandingan Arsenal karena cedera. Selain pergelangan kaki, riwayat cedera Welbeck juga terjadi di bagian tubuh lainnya seperti pinggul, pangkal paha, dan lutut.

Padahal dua bulan sebelumnya, Welbeck sanggup mencetak dua gol pada pertandingan yang berakhir 3-1 untuk kemenangan Arsenal. Setelah pertandingan usai, para jurnalis bertanya perihal masa depan Welbeck kepada Unai Emery, pelatih Arsenal. Hal itu karena kontrak sang pemain akan selesai pada akhir musim atau Juni 2019. Namun Emery mengaku tidak bisa memastikan masa depan pemain Inggris itu.

“Ada tiga situasi ketika membicarakan individu: klub, pemain, dan tim. Saya lebih pilih fokus ke tim. Saya tahu dia [Welbeck] memiliki satu tahun tersisa dalam kontraknya dan ini ranah klub untuk bicara seperti itu. Saya hanya fokus pada kinerja [Welbeck], setiap pertandingan dan setiap sesi latihan," ujar Emery dilansir dari Evening Standard.

Bagi Welbeck, dia juga punya setidaknya tiga situasi perihal kariernya di dunia sepakbola. Pertama, cedera. Menurut situs metro.co.uk, cedera pergelangan kaki Welbeck cukup parah. Bahkan Welbeck dikabarkan bakal menepi dari lapangan sepakbola hingga akhir musim.

Kedua, kontraknya di Arsenal. Hal ini bukan situasi sulit jika Welbeck tampil konsisten pada setiap laga yang dijalani. Namun kenyataan berkata sebaliknya. Welbeck bisa sangat tak efisien dalam kacamata manajemen klub profesional. Bagaimanapun klub sepakbola adalah badan hukum yang dibentuk untuk mencari untung. Bayangkan betapa meruginya klub jika terus membayar upah pemain, tapi yang bersangkutan tidak pernah terlibat di dalam pertandingan. Menurut saya, Arsenal sudah melakukan keputusan logis dengan tidak memperpanjang kontrak Welbeck yang bakal berakhir Juni 2019 mengingat situasi Welbeck yang pertama.

Ketiga, usia. Tepat hari ini usia Welbeck bertambah. Sebagai pesepakbola yang berposisi di area depan, usia dua puluh delapan tahun seharusnya sedang dalam masa kejayaan. Namun cedera Welbeck memaksanya harus merenung dengan cara apa mengisi usia ke-28 ini. Ketiga situasi tersebut membuat pria kelahiran Manchester, 26 November 1990 itu mungkin harus berpikir juga soal masa depannya yang rumit.

Situasi rumit itu mendapat simpati dari mantan pelatihnya, Arsene Wenger. Pria inilah yang punya kepercayaan besar terhadap Welbeck. Ketika sang pemain disia-siakan Louis van Gaal, Wenger menyelamatkan karier Welbeck dengan menebus mahar kepada Manchester United sebesar 16 juta Paun.

“Dia memiliki banyak alasan untuk merasa kasihan kepada dirinya sendiri. Gunung ini terlalu besar untuk dipanjat. Dia memiliki cedera pada lutut kanan, lutut kiri, dan hampir setahun sekali keluar [karena cedera]. Dia harus bekerja lebih keras yang tanpa disadari oleh semua orang. Orang-orang mempertanyakan: ‘Apakah dia akan kembali atau tidak?’ Ini adalah tes tersulit bagi atlet mana pun. Saya percaya apa yang telah dia lakukan itu luar biasa.” Ujar Wenger kepada Daniel Taylor, jurnalis Guardian.

Daniel Taylor sempat mewawancarai Welbeck bulan Mei lalu. Dia bertanya banyak soal badai cedera, penanganannya, hingga bagaimana mengisi waktu luang tanpa sepakbola.

“Tidak mudah untuk ditangani,” katanya getir. “Itu sulit. Ini periode yang sepi. Anda tidak berada di lapangan untuk membantu rekan-rekan dan melakukan apa yang Anda sukai. Saya memiliki begitu banyak waktu di tangan saya. Setelah selesai operasi, saya tidak bisa menahan beban di kaki saya selama dua bulan. Saya menjalani periode yang bahkan tidak meninggalkan rumah. Kemudian, setelah enam minggu, ketika saya kembali ke pelatihan, saya benar-benar hanya pergi ke sana dan langsung pulang ke rumah, membaca buku dan hal-hal lain. Namun Anda belajar tentang ketangkasan diri dan meningkatkan mental. Saya membaca lebih banyak buku dibandingkan ketika saya di sekolah. Buku mentalitas olahraga dan otobiografi.”

Semoga buku-buku itu membuat Welbeck semakin kuat dan terinspirasi untuk bangkit dari situasi-situasi rumit yang tengah dia hadapi. Namun bukan tidak mungkin dia bakal meluncurkan buku otobiografi versinya lebih cepat jika dua dari tiga situasi rumit di atas tak juga teratasi.

Komentar