Sepakbola Layar Kaca

Backpass

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Sepakbola Layar Kaca

Video Assistant Referee (VAR) dipastikan turut ambil peran di Liga Inggris per musim 2019/20. Meski di awal kemunculannya para pencinta sepakbola terbelah dua (pro dan kontra), secara perlahan VAR mulai diterima sebagai perubahan demi kebaikan.

Tidak sedikit yang menyuarakan perlawanan ketika FIFA mengumumkan bahwa VAR akan diterapkan di Piala Dunia 2018. Alasan utamanya jelas: VAR meminimalisir kesalahan-kesalahan (dari wasit) yang menjadikan sepakbola sebagai olahraga "berkemanusiaan".

Sepakbola dan kesalahan memang selalu benci tapi rindu. Jika tidak ada kesalahan, misalnya, maka tidak mungkin ada kisah turun-temurun tentang Diego Maradona menjadi Juru Selamat Argentina melalui Tangan Tuhan-nya.

Permasalahannya, kita sering lupa bahwa kelalaian itu merugikan tim lain. Terdapat "ketidakadilan" yang tidak dapat diralat. Pihak yang merugi terpaksa menelan mentah bahwa keberuntungan adalah bagian dari kekuatan tim.

Hal inilah yang kemudian mendorong sepakbola untuk berevolusi. Teknologi sudah tersedia dan siap diberdayakan untuk menciptakan hasil akhir yang seadil-adilnya (berdasarkan kemampuan teknik, taktik, dan mental kedua kesebelasan).

VAR memberikan wasit tiupan peluit cadangan. Mereka bisa melihat tayangan ulang untuk kemudian menganalisis sebuah pelanggaran; sebuah keistimewaan yang sebelumnya hanya dimiliki para penonton layar kaca.

***

Sebagaimana fungsi media massa, televisi mempunyai kekuatan yang amat besar. ketika Neil Armstrong dan Buzz Aldrin menginjakkan kaki di bulan pada 1969, manusia belajar bahwa alam semesta masih menyimpan banyak rahasia, sekaligus membuat Rusia sadar Perang Dingin telah berakhir (fungsi informasi).

Ketika tsunami menyapu Aceh pada 2004, seluruh dunia bahu membahu memberikan bantuan (fungsi pertalian/memengaruhi). Setiap ada pergolakan politik atau potensi bahaya, televisi wajib menyiarkan agar masyarakat waspada (fungsi pengawasan). Kemampuan inilah yang membuat Persatuan Bangsa-Bangsa menetapkan tanggal 21 November sebagai Hari Televisi Dunia; pengingat bahwa televisi harus memberikan manfaat positif bagi khalayak.

Guna positif lain yang diberikan oleh televisi adalah hiburan. Pertandingan olahraga termasuk di dalamnya, tak terkecuali sepakbola.

Romantisme antara sepakbola dengan televisi sudah terjadi sejak puluhan tahun silam, lebih tepatnya ketika Olimpiade Berlin 1936. Itu adalah gelaran olahraga pertama yang disiarkan melalui televisi. Sepakbola, sebagai salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan, pun tidak terlewatkan.

Kesuksesan Jerman menayangkan pertandingan olahraga, yang mendapatkan banyak atensi meski hanya mampu dinikmati kalangan terbatas, membuat Inggris tergelitik untuk ikut bereksperimen. BBC menyiarkan laga uji coba spesial antara tim utama Arsenal melawan tim cadangannya di Stadion Highbury pada 1937, tetapi hanya mereka yang tinggal di kawasan Alexandra Palace yang bisa menontonnya.

Final Piala FA pada Mei 1938 antara Preston North End dengan Huddersfield Town terpilih menjadi laga kompetitif lokal pertama yang disiarkan secara bebas (dan rutin) oleh BBC.

Bagaimana pun, fenomena siaran pertandingan sepakbola di televisi baru mulai berkembang selepas Perang Dunia ke-II. Eropa belajar dari Amerika untuk urusan satu ini. Mereka meniru cara Paman Sam menyiarkan World Series (bisbol) di televisi nasional pada 1948. Memasuki era 1950, terciptalah European Broadcastion Union (EBU), yang membuat jaringan semakin luas.

Memiliki televisi tentu bukan prioritas bagi masyarakat pasca perang, tetapi sempat menjadi salah satu identitas kelas sosial di tahun-tahun awal. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya persaingan harga, maka hadirlah televisi-televisi yang relatif terjangkau bagi pasar secara luas.

Hal ini dimaksimalkan dengan baik oleh EBU. Mereka menayangkan sembilan laga Piala Dunia 1954, yang mampu membuktikan keberadaan potensi pasar internasional.

Dua tahun berselang, tayangan sepakbola semakin menjamur. Warga Italia menikmatinya melalui stasiun televisi RAI. Prancis juga memulainya, dengan pertandingan Stade Reims melawan Metz sebagai awal tonggak.

Jumlah penonton terus meningkat. Tercatat 15 juta orang menyaksikan final Piala Dunia 1966 antara Inggris melawan Jerman Barat. Pada Final Piala Dunia 1970, sebanyak 17 juta warga Italia menyaksikan tim nasionalnya luluh lantak oleh sebab kedigdayaan Pele dan kawan-kawan.

"Dalam seluruh sejarah republik tersebut, sebelumnya tidak pernah (ada) momen kebersamaan dengan jumlah sebanyak itu," tulis David Goldblatt dalam bukunya, The Ball Is Round.

Penting untuk diketahui bahwa, sekalipun jumlah penonton relatif menurun, pemasukan klub paling besar di periode tersebut tetap berasal dari penjualan tiket pertandingan. Goldblatt mengklaim bahwa bukan permainan antara kedua kesebelasan yang membuat para penonton mulai berpaling dari tribun ke depan televisi, melainkan cara pengemasan siaran beserta produk-produk tambahannya.

Inovasi pertama adalah rekap pertandingan. Mesin VTR memungkinkan proses sunting rekaman dilakukan secara cepat. Kehadiran program tayangan ulang dalam gerak lambat, yang diciptakan oleh Amerika, langsung menjadi idola publik untuk membaca pertandingan dengan sudut pandang lain.

Inovasi ini memunculkan program Sportschau di Jerman pada 1961, yang disusul Match of The Day di Inggris (1964) dan 90 Minuto di Italia (1970). Semuanya bertujuan untuk membedah laga, baik sebelum maupun sesudah.

Infrastruktur stadion pun terus ditingkatkan, memungkinkan atmosfer stadion (berupa suara suporter di tribun) dihadirkan kepada penonton. Belum lagi dengan komentator televisi yang memberikan dimensi baru dalam menikmati pertandingan.

Kemajuan teknologi secara bertahap memang menjadi pembeda. Fitur-fitur yang hanya bisa didapatkan melalui televisi menjadi tawaran menggiurkan bagi para penonton untuk merasakan sensasi berbeda. Inilah yang barangkali disebut Zen R. S. sebagai Simulakra Sepakbola.

Sialnya, ketika sudah menerima `tayangan sepakbola` sebagai sebuah realitas, penonton layar kaca lupa bahwa yang ada di atas lapangan itu tidak berada di dalam realitas serupa. Oleh sebab yang nonton lewat televisi selalu tidak puas dengan keputusan wasit karena telah melihat tayangan ulang, maka si wasit pun diharuskan melakukan hal yang sama.

Menarik melihat sesuatu yang sejatinya adalah pengemasan media justru menjadi salah satu terobosan peraturan secara riil di atas lapangan. Jika untuk sementara baru sebatas pilihan, bukan tidak mungkin di masa mendatang akan menjadi standar baku digelarnya sebuah pertandingan.

Komentar