Pemain Paling Overrated di Winning Eleven

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Pemain Paling Overrated di Winning Eleven

Beberapa orang yang mengingat Patrick Mboma biasanya akan langsung merujuk kepada tendangan kaki kiri geledeknya di gim sepakbola Winning Eleven. Sampai saat ini Mboma di Winning Eleven 4 (serta beberapa edisi sebelum dan sesudahnya) masih dianggap sebagai salah satu pemain paling overrated di gim sepakbola.

Dua pemain overrated yang satu generasi dengan Mboma di gim tersebut adalah Roberto Carlos dan Gabriel Batistuta. Namun tidak seperti Carlos atau Batigol yang dinilai sukses dan jago (secara umum), banyak yang tidak tahu sejago apa Mboma di kehidupan nyata pada saat itu.

Mungkin algoritme skill pesepakbola di gim saat itu belum sekompleks sekarang, sehingga Konami menetapkan bahwa shot power Mboma hampir mentok ke ujung—artinya tendangan Mboma hampir tidak bisa dihentikan kiper manapun.

Pada kenyataannya pemain yang lahir pada 15 November 1970 di Douala (Kamerun) ini memang memiliki tendangan kaki kiri yang fantastis.

Berkat overrated-nya Mboma, Konami dan Winning Eleven membuatnya sangat terkenal di Jepang. Kebetulan ia pernah bermain di Jepang bersama Gamba Osaka, Tokyo Verdy, dan Vissel Kobe.

“Orang-orang [Jepang] mengepungku di jalan, aku terus-menerus memberikan wawancara, anak-anak memiliki posterku, aku selalu muncul di televisi,” kata Mboma dalam wawancaranya kepada FIFA.com. “Para pendukung benar-benar luar biasa, dan itu adalah pertama kalinya aku melihat begitu banyak bendera Kamerun di stadion yang begitu jauh dari negaraku.”

Selama 12 tahun karier sepakbolanya dari mulai di Paris Saint-Germain sampai Kobe, Mboma berhasil mencetak 109 gol dari 263 pertandingan. Begitu juga saat bermain bagi Tim Nasional Kamerun, di mana ia mencetak 33 gol dari 57 caps.

Jumlah gol itu membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak ketiga bagi The Indomitable Lions, di bawah Samuel Eto’o (56 gol) dan Roger Milla (43). Salah satu gol yang paling diingat adalah gol saltonya ketika menghadapi Perancis di Stade de France.

“Aku hanya merasa harus mencoba tendangan salto untuk memperbaiki lintasan bola,” kata Mboma pada interviunya bersama Daily News Cameroon. “Pada saat aku merasa ada impak di kakiku terhadap bola, aku tahu jika aku menendangnya dengan baik.”

Bukan hanya gol dan catatan individual,bersama Eto’o bahkan Mboma berhasil mempersembahkan tiga gelar bergengsi bagi Kamerun, yaitu juara Afrika 2000 dan 2002, serta juara Olimpiade 2000.

“Kami berdua selalu menjadi andalan lini depan selama empat tahun. Ia sama suburnya denganku. Dengan dua jenis kaki [dominan] yang berbeda, kami melengkapi sesama,” kata Mboma, berkomentar soal Eto’o.

Momen Terbaik di Olimpiade 2000

Menurutnya, medali emas pada Olimpiade di Sydney adalah yang paling spesial. “Menyanyikan lagu kebangsaan Kamerun di Sydney dan dikalungi medali emas di Olimpiade 2000, itu adalah perjalanan ego yang benar-benar luar biasa,” kata Mboma dalam wawancaranya yang dimuat di laman web FIFA.

“Aku merasa berada di puncak dunia setelah memberi negaraku medali emas Olimpiade; sebuah kehormatan yang bahkan tidak pernah aku impikan di awal karier. Sejujurnya aku telah membeli kamera digital sebelum perjalanan, berpikir kami akan pergi ke Australia lebih sebagai turis daripada pesaing peraih medali,” katanya.

“Kami akhirnya meraih apa yang saudara-saudara Nigeria kami raih empat tahun sebelumnya (Nigeria juara Olimpiade 1996).”

Meski tanpa Rigobert Song, Marc-Vivien Foe, dan Salomon Olembe, Kamerun saat itu dihuni oleh Eto’o, Carlos Kameni, Geremi Njitap, Lauren, dan Pierre Wome. Mboma saat itu sudah berusia 29 tahun dan didaftarkan sebagai pemain senior bersama Serge Mimpo.

Di final, Kamerun bermain imbang 2-2 dengan Spanyol. Pertandingan kemudian berlanjut ke babak adu penalti, di mana Kamerun menang 5-3. Mboma menjadi pencetak gol pertama di babak adu penalti.

Sebagai perbandingan, Spanyol saat itu berisi pemain-pemain seperti Albert Luque, Carlos Machena, Carles Puyol, David Albelda, Joan Capdevilla, José Mari, dan Xavi Hernandez.

Perjalanan Kamerun ke final tergolong berat karena harus berhadapan dengan Brasil (ada Ronaldinho dan Lucio) di perempat final serta Chile (Ivan Zamorano) di semifinal. “Ronaldinho-nya Brasil kami kalahkan dengan 9 lawan 11 (Kamerun menerima dua kartu merah). Aku juga bertukar kaus dengannya,” kata Mboma.

Momen Terburuk dari Rasisme

Hampir sama dengan pemain kulit hitam lainnya, Mboma memiliki kenangan buruk terhadap perilaku rasisme.

“Bagiku, satu-satunya penyebab yang jelas [rasisme di sepakbola] adalah bahwa orang dipengaruhi dan dimanipulasi oleh orang lain. Sepakbola adalah olahraga universal yang menyatukan penggemar dari setiap ras, jenis kelamin, atau kelas sosial,” kata Mboma pada wawancaranya dengan FIFA.com.

“Rasisme berbeda. Terkadang malah tidak ada. Tergantung di mana kamu berada dan berapa banyak perhatian yang diberikan. Semuanya kembali ke budaya negara.”

Dalam 12 tahun kariernya, Mboma telah bermain di Perancis, Italia, Inggris, Jepang, dan Libya. Menurutnya tidak ada rasisme di Jepang. Kemudian di Libya rasisme sering digunakan untuk memprovokasi atau mengganggu ketenangan. Sementara di Italia rasisme hanya ada karena ikut-ikutan.

“Aku berjuang melawan rasisme dengan mengabaikannya. Kebanyakan mereka bahkan tidak bermaksud berkata-kata jahat. Mereka hanya mengulang kata-kata yang mereka dengar di tempat lain. Mereka yang memiliki kecerdasan terbatas atau tidak berpendidikan biasanya yang pertama memprovokasi orang lain tanpa alasan yang jelas,” kata peraih pemain terbaik Afrika 2000 tersebut.

Bukan hanya oleh lawan, Mboma bahkan dicemooh oleh para penonton kesebelasannya sendiri. “Aku berusaha keras mencetak gol, dan gol-golku membawa mayoritas orang kembali ke akal sehat mereka.”

Menurut Mboma, sepakbola adalah sarana yang bisa memikat banyak orang, terutama sejak anak-anak, sehingga sejak kecil mereka perlu diberi pemahaman jika perbedaan itu wajar untuk disikapi sebagai rivalitas, bukan permusuhan.

Namun ia tak ingin berlebihan juga untuk menyebut sepakbola bisa menjadi jawaban terhadap segala sesuatu. “Sepakbola tidak akan pernah menyelesaikan semua masalah kita dan itu terbatas dalam apa yang bisa dilakukan. Tetapi aku percaya bisa menggunakan olahraga ini untuk melawan sejumlah pertempuran, terutama melawan rasisme dan xenofobia,” katanya.

Komentar