Penjaga Gawang Invincible

Backpass

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Penjaga Gawang Invincible

David Seaman pindah ke Manchester City setelah 13 tahun menjadi penjaga gawang Arsenal—menjadi salah satu penjaga gawang terbaik dalam sejarah Arsenal, lebih tepatnya. Pengganti sepadan harus ditemukan segera, dan penggantinya tak boleh sembarang penjaga gawang.

Tak boleh sembarang penjaga gawang karena Arsenal saat itu salah satu tim terkuat di Inggris. Tak bisa sembarang penjaga gawang, pada 2003, masuk ke tim yang meraih dwigelar di musim 2001/02 dan nyaris menjuarai Liga Primer 2002/03. Salah-salah, penurunan performa di musim semi 2003 berlanjut ke musim baru dan Arsenal malah terpuruk.

Arsenal tidak hanya membutuhkan penjaga gawang yang kemampuannya setara dengan Seaman, tetapi juga seorang pemimpin. Seseorang yang mampu memberikan dorongan yang dibutuhkan tim. Seseorang yang kehadirannya tidak hanya mengisi posisi yang kosong, tetapi juga mampu membawa tim ke tingkat yang lebih tinggi.

Arsene Wenger menjatuhkan pilihan kepada Jens Lehmann. Sang penjaga gawang kelahiran 10 November 1969 saat itu berusia 33 tahun. Tak lagi muda memang, tapi dialah yang dibutuhkan sang manajer untuk timnya. Entah apa yang ada di kepala Wenger saat itu, mengingat Lehmann memiliki julukan yang kurang sedap: Si Gila.

“Saya mengamatinya di Dortmund,” ujar Wenger berkisah pada 2014 kepada Amy Lawrence, penulis buku Invincible, tentang alasannya memilih Lehmann sebagai pengganti Seaman. “Saya suka sikapnya, kecerdasannya, kepribadiannya. Selanjutnya cukup sederhana karena kesepakatan ini terjalin antara dia dan saya lewat telepon. Tanpa agen, tanpa bertatap muka. Kami terlibat perbincangan yang cukup menarik. [Wenger tertawa] Kamu tahu Jens! Setiap detail menjadi penting.

“Jadi saya pikir orang ini hanya akan gagal total atau sukses besar karena dia istimewa dalam hal dia bersemangat, argumentatif, dan tidak sungkan menyampaikan pendapat. Saya sangat tertarik. Setelah dua perbincangan saya berpikir, orang ini cocok untuk tim karena tingkat motivasinya dan kepribadiannya sama dengan para pemain dalam tim.”

Pada akhirnya yang terbukti benar adalah kemungkinan kedua. Lehmann sukses besar. Dan Arsenal ikut sukses besar karenanya. Di musim pertamanya di Liga Primer Inggris, Lehmann hanya kebobolan 26 gol dan Arsenal tak terkalahkan sepanjang musim. Tanpa kehadiran Lehmann, ceritanya mungkin berbeda.

“Jens berargumen dengan semua pemain, tanpa kecuali, di latihan,” ujar Patrick Vieira, dikutip dari Independent. “Karena dia ingin kami berkonsentrasi, dia ingin kami bekerja keras, dia ingin kami menang.”

Vieira bisa berkata demikian karena dia sendiri tak lepas dari kritikan Lehmann. Bahwa Vieira adalah kapten Arsenal tak penting bagi Lehmann. Jika kawan tak bekerja keras, tugasmu mengingatkan. Kapten pun dia bentak. Raja pun dia bentak.

“Sikap di latihan butuh waktu untuk pembiasaan,” tulis Lehmann dalam kolomnya di Telegraph. “Dalam salah satu latihan pertamaku, aku satu tim dengan Thierry Henry, dan ketika dia kehilangan bola satu kali, aku melakukan apa yang sampai hari ini masih kulakukan: membuat para pemain bergerak. ‘Hey, Thierry! Ayo, kejar bolanya, lari dan rebut lagi bolanya!’

“Henry, yang kemampuan luar biasanya menjadikan dia raja Inggris yang sebenarnya, mengangkat kepalanya beberapa inci lebih tinggi dan mengata-ngataiku dalam bahasa Perancis.

“Rupanya aku telah menghina orang agung. Kami, orang-orang Jerman, telah menggulingkan kaum bangsawan lebih dari 80 tahun lalu; aku berpikir, jadi sekarang semuanya harus bekerja sama keras. Setelah itu, setiap kali dia kehilangan bola, aku meneriakinya lebih keras hingga akhirnya pemain-pemain lain mulai sadar dan Henry tidak bisa hanya diam, bertanya-tanya orang bodoh seperti apa yang berdiri di gawang.

“Pada akhirnya dia mengejar bola lepas—tidak istimewa buatku, tapi rupanya langkah besar untuk rekan-rekan kami.”

Penting bagi Arsenal mendatangkan pemain seperti Lehmann. Ruang ganti Arsenal pada 2003 sangat kuat dan sangat vokal. Dengan kepribadian yang sama, Lehmann langsung membaur. Lehmann terbiasa berada dalam lingkungan pemenang.

“Aku rasa kekuatanku adalah aku tidak benar-benar peduli,” ujar Lehmann kepada Lawrence. “Karena aku lebih tua dari yang lain, selain Martin Keown. Aku pernah memenangi kejuaraan Eropa, yang belum pernah mereka menangi, kecuali Dennis Bergkamp.”

Kehadiran Lehmann mendorong para pemain Arsenal untuk menjadi lebih baik. Si Gila—tidak, Si Vokal—membuat para pemenang menjadi Invincibles lewat kerja keras.

Komentar