Albert Camus (Tidak) Belajar Arti Hidup dari Sepakbola

Backpass

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Albert Camus (Tidak) Belajar Arti Hidup dari Sepakbola

Para penjaga gawang merayakan fakta bahwa Albert Camus adalah salah satu dari mereka. Mereka yang memuja sang filsuf merasa bahwa posisi paling tepat bagi Camus memang penjaga gawang—berdiri sendiri, anggota kesebelasan tapi bukan benar-benar bagian dari permainan. Tak sulit membayangkan Camus merenungkan arti kehidupan setiap kali bola berada di wilayah permainan lawan, setiap kali gawangnya bebas dari ancaman.

Camus gemar bermain sepakbola sejak kanak-kanak. Filsuf kelahiran Mondovi (sekarang Drean), Aljazair, 7 November 1913 itu adalah bagian dari tim sepakbola sekolahnya. Camus juga bergabung dengan tim sepakbola bernama Racing Universitaire d’Alger (RUA). Di sanalah “karier” sepakbola Camus berakhir.

Kemampuannya sebagai penjaga gawang terbilang lumayan. Camus berhenti bermain sepakbola bukan karena kalah bersaing, melainkan karena mengidap tuberkulosis di usia 17. Tirah baring membuatnya absen bermain sepakbola selama berbulan-bulan. Camus sembuh pada akhirnya, namun paru-parunya terlalu rusak untuk bisa bermain sepakbola.

Camus, walau demikian, tak berhenti mencintai sepakbola. Pernah seorang kawan bernama Charles Poncet bertanya kepada Camus yang mana di antara teater dan sepakbola yang lebih dia sukai. “Sepakbola, tanpa ragu,” jawab Camus.

Pada lain kesempatan, setelah namanya besar sebagai novelis dan penulis esai, Camus diminta menceritakan masa-masa bermain sepakbola di RUA. Dari naskah yang dia serahkan kepada pengelola majalah alumni kampusnya, satu kalimat menonjol di antara yang lain:

“Setelah bertahun-tahun di mana aku melihat banyak hal, yang benar-benar aku tahu tentang moralitas dan tanggung jawab seorang manusia aku pelajari dari olahraga dan aku mempelajarinya di RUA.”

Ringkas dan tepat sasaran, buah pemikiran Camus itu masih termahsyur sampai saat ini. Sayangnya kutipan tersebut seringkali ditampilkan tak penuh dan diubah menjadi “Setelah bertahun-tahun di mana aku melihat banyak hal, yang benar-benar aku tahu tentang moralitas dan tanggung jawab seorang manusia aku pelajari dari sepakbola.”

Para pemujanya—entah mereka yang memuja Camus sebagai filsuf maupun mereka yang “berbangga” karena Camus mempelajari “arti kehidupan” dari sepakbola—memaknai kutipan Camus secara keliru. Setidaknya begitulah menurut The Albert Camus Society.

“Orang-orang, mengartikan kalimat tersebut lebih dalam dari yang dimaksud Camus,” tulis organisasi internasional tersebut dalam artikel berjudul “Albert Camus and Football”. “Beliau hanya merujuk kepada jenis moralitas sederhana yang ditulisnya dalam esai awal, etika membela kawan, [etika] menghargai keberanian, dan fair play.

“Camus meyakini bahwa orang-orang politik dan agama berusaha membingungkan kita dengan sistem moral yang berbelit untuk membuat segala hal tampak lebih rumit dari keadaan sebenarnya, [yang] kemungkinan [dilakukan] untuk mencapai tujuan mereka sendiri. Orang-orang akan menjadi lebih baik jika mengikuti moralitas sederhana lapangan sepakbola ketimbang politisi dan filsuf.”

Jim White, dalam buku karyanya yang berjudul “A Matter of Life and Death: A History of Football in 100 Quotations”, berpendapat serupa. (Walau demikian perlu dicatat bahwa White termasuk salah satu yang mengganti “olahraga” dalam kutipan Camus menjadi “sepakbola”.)

“Analisis yang lebih mendalam terhadap tulisannya untuk majalah universitas, lebih dari kalimat pembuka yang membumbung itu, memberi kesan bahwa Camus nyatanya memberi sentuhan ironi [dalam tulisannya],” tulis White. “Tentu, berdiri di antara tiang-tiang [gawang] memberinya masukan tentang la condition humaine. Tapi itu tidak sepenuhnya bisa disetujui. Ambil paragraf ini: ‘Aku belajar… bahwa bola tidak pernah datang dari arah yang diduga. Itu membantuku kemudian dalam hidup, terutama di Perancis daratan, di mana orang-orang tidak pernah bermain jujur.’

“Jika Anda melihat lagi kata-kata yang digunakan Camus dalam homage kepada le foot, Anda akan sadar bahwa tulisan itu mengandung bau sarkasme. Kenyataannya adalah dia memberi kesan dalam esainya bahwa masa-masanya sebagai penjaga gawang membuatnya terpapar beberapa sisi terburuk sifat manusia: orang-orang tak bisa diandalkan; orang-orang cenderung curang dan menipu. Tentu itu hal-hal yang perlu diingat, tapi tidak benar-benar memperdalam pemahaman tentang hidup. Alih-alih morality, dari sepakbola Camus belajar immorality.”

Entah bagaimana sebenarnya. Satu hal yang pasti, Camus punya alasan memilih posisi penjaga gawang yang sepi ketimbang posisi-posisi lain yang lebih glamor.

Camus, yang tidak pernah mengenal ayahnya karena sang ayah terbunuh di Pertempuran Marne Pertama saat usia Camus bahkan belum mencapai satu tahun, dibesarkan oleh ibu dan neneknya. Ibu Camus bernama Catherine Helene; neneknya dikenal dengan nama Madame Sintes.

Bahwa Camus bermain sebagai penjaga gawang membuatnya diagungkan sebagai “outsider pertama sepakbola”. Padahal Camus mengaku dia bermain di posisi itu untuk mencari aman dari sang nenek. Madame Sintes keras dalam mendidik Camus dan akan memukulinya jika mendapati sol sepatu sepakbola Camus aus. Keluarga Camus memang hidup dalam kemiskinan.

Dengan bermain sebagai penjaga gawang, sol sepatu Camus jarang bergesekan dengan permukaan lapangan dan karenanya tidak cepat aus. Karena tidak aus, Camus tak dipukuli neneknya.

Baca juga artikel-artikel bertema filosofi lainnya.

Komentar