Menjadi Merah-Putih Seperti Alan Smith

Backpass

by M. Rifky Herlanda P.

M. Rifky Herlanda P.

Bola adalah pacar.

Menjadi Merah-Putih Seperti Alan Smith

Beberapa orang mungkin akan berpikir dan bingung apabila harus menceritakan seorang Alan Smith. Ada banyak orang terkenal dengan nama Alan Smith. Dua di antaranya adalah pesepakbola. Alan Smith yang satu adalah legenda Arsenal yang kemudian menjadi komentator terkenal. Sementara Alan Smith yang satu lagi adalah pesepakbola yang bingung untuk diidentikkan dengan Leeds United atau Manchester United; kedua kesebelasan adalah rival.

Alan Smith yang kedua itu yang sebenarnya lebih berada di papan atas pada mesin pencari Google jika kita mengetik kata kunci "Alan Smith". Ia lahir pada 28 Oktober 1980.

Sebagian orang mungkin akan menggaruk-garuk kepala mereka apabila ditanya karakter persis seorang Alan Smith, pemain berambut pirang yang awalnya seorang penyerang dengan banyak gol kemudian berubah menjadi gelandang dengan beberapa gol mengesankan selama kariernya.

Menjadi bagian dari Leeds dan Man United sekaligus adalah hal unik dan tak terlupakan, bahkan untuk pendukung kedua kesebelasan yang bisa dibilang saling membenci. Smith bahkan pernah menjadi sasaran kebencian karena berseragam Setan Merah.

Smith lahir di Rothwell, Yorkshire, bagian yang identik dengan Leeds. Ia adalah salah satu pemain dari era kejayaan Leeds United pada akhir 1990-an sampai awal 2000-an. Bersama Mark Viduka yang menjadi tandemnya di lini depan Leeds, ia mampu membawa Leeds melaju hingga babak semifinal Liga Champions UEFA 2000/01 bersama David O`Leary sebagai manajer.

"[Semifinal Liga Champions 2000/01] adalah petualangan luar biasa untuk seluruh kesebelasan, dan pengalaman hebat bagi bocah-bocah berusia 19 atau 20 tahun. Aku mencetak gol pertama kami di pertandingan play-off melawan 1860 Munich dan gol kemenangan di leg kedua di Olympic Stadium. Di babak grup kedua kami diundi segrup dengan Anderlecht, Lazio, dan Real Madrid, tapi bisa lolos dengan satu pertandingan tersisa. Aku akui aku hanya melakukan bagian-bagian mudahnya, Mark Viduka melakukan bagian-bagian sulit dan bekerja keras untukku," kata Smith, dikutip dari FourFourTwo.

Bukan hanya Viduka, generasi Leeds saat itu juga dinilai sangat mentereng dengan pemain-pemain seperti Jonathan Woodgate, Lee Bowyer, Harry Kewell, Stephen McPhail, Paul Robinson, dan bahkan personel boyband Westlife yang pernah menjadi pesepakbola: Nicky Byrne. "Aku adalah yang termuda [di antara mereka semua] dan mereka menjagaku," kata Smith.

Pindah ke Rival

Permainan Smith dikagumi oleh Sir Alex Ferguson yang saat itu masih menjabat sebagai Manajer Man United. "Boleh dibilang manajer kesebelasan terhebat (Sir Alex) menginginkanku. Bagaimana aku bisa menolaknya?" kata Smith.

Kepindahannya tidak berjalan lancar karena Leeds dan Man United adalah rival, apalagi kedua kesebelasan saat itu sama-sama berlaga di Liga Primer Inggris. Masalahnya lagi, ketika ia masih berseragam Leeds, Smith pernah mengatakan jika ia tak akan pernah mau bermain untuk Man United.

"Aku benar-benar mengatakannya. Aku masih muda dan naif, dan tak pernah berpikir jika (a) Man United akan menginginkanku, dan (b) Leeds mau menjualku. Lihatlah betapa konyolnya aku," kata Smith.

"Aku juga tidak membayangkan Leeds bisa terdegradasi. Aku mungkin tidak akan pernah pergi jika kami tidak terdegradasi, tetapi Leeds mencoba menjualku kepada penawar tertinggi. Leeds yang aku tinggalkan bukan Leeds yang aku kenal. Ada orang yang bertanggung jawab atas klub yang tidak aku sukai. Tetapi hal terakhir yang aku inginkan adalah melihat Leeds bangkrut."

Ferguson sudah memiliki insting dan seolah mempersiapkan Alan Smith menjadi pengganti seorang Roy Keane yang notabennya seorang pemain gelandang tengah (padahal di Leeds, Alan Smith adalah seorang penyerang). Smith resmi menjadi pemain Man United pada Juli 2004.

Awalnya tampak seolah baik-baik saja, pemain berambut pirang itu tampil baik di dua debutnya untuk Man United. Debut pertama ketika bermain di Community Shield, dia mencetak gol untuk mengalahkan Arsenal dengan skor 3-1. Kemudian untuk debutnya di Liga Primer, dia mencetak satu gol indah dengan tendangan voli ke gawang Norwich City.

Cedera Parah yang Mengubah Kariernya

Ketika sedang tidak berada dalam penampilan terbaiknya di Man United, Smith mengalami momen yang mungkin hingga sekarang tidak terlupakan oleh para pendukung Man United dan juga Liverpool.

Pada pertandingan Liga Primer 2006, Man United bertandang ke Anfield. Pertandingan berjalan begitu ketat. Smith seperti biasanya bermain begitu eksposif di lini tengah dan depan Man United. Di menit ke-61, bencana datang untuknya. Dia mengalami cedera patah tulang tibia ketika menahan tendangan bebas keras dari John Arne Riise. Dia datang berlari untuk menahan tendangan keras Riise untuk menghalau bola agar tidak sampai ke gawang Man United.

Sambil melambaikan tangan dan memberikan tanda kepada wasit dan ofisial, dia terbaring lemas. Gary Neville yang mendatangi terlihat begitu ketakutan dan Cristiano Ronaldo yang berada di sampingnya tak berani untuk melihat.

"Aku tidak pernah membiarkan pikiran [soal cedera yang mengakhiri karier] itu datang. Itu bukan salah Riise dan ia mendatangiku setelah itu terjadi. Aku menganggap ini merupakan tantangan besar bagiku," kata Smith, dikutip dari wawancaranya bersama FourFourTwo.

"Aku tahu aku tidak akan pernah menjadi pemain yang sama lagi. Aku sangat mensyukuri setiap pertandingan yang aku mainkan setelah cedera itu, karena aku tahu seberapa dekat diriku ke akhir karierku saat itu," katanya. Butuh waktu 15 bulan bagi Smith untuk kembali lagi bisa bermain.

"Aku kembali ke Liverpool beberapa tahun kemudian dengan Newcastle dan mendapatkan tepuk tangan meriah. Aku memiliki banyak surat dari penggemar setelah cedera itu, termasuk banyak dari Liverpool. Staf medis Liverpool sangat bagus," kata Smith, mengenang cedera itu.

Bertransformasi ke Posisi Gelandang

Cedera saat menghadang sepakan Riise banyak mengubah kariernya. Tapi perubahan utama sebenarnya Smith dapatkan jauh sebelum itu, ketika ia disuruh bermain sebagai gelandang oleh Ferguson. Namun ia menegaskan perpindahannya ke posisi gelandang memang sudah dirancang oleh Ferguson, meski bukan untuk menggantikan Roy Keane.

"Orang-orang berkata aku pindah ke Man United untuk menggantikan Roy [Keane]. Omong kosong. Banyak pertandingan yang kumainkan pada skema tiga-gelandang dengan Roy dan [Paul] Scholes," kata Smith. Pemain dengan nomor punggung 14 di Man United itu memang tidak memiliki kemiripan dengan cara bermain Keane di lini tengah (khususnya ketika bertahan) dan terlihat sangat tidak efektif.

Melihat penampilan Smith, Roy Keane sempat mengkritik. Menurutnya cara bermain Smith terlalu eksplosif dan itu sangat membahayakan bagi dirinya dan tim ketika dia bermain di posisi gelandang tengah.

"Roy punya standar tinggi dan selalu memarahiku jika aku terbang untuk menekel. Roy meneriakiku untuk tetap berdiri. Dua menit berikutnya dia mengejar bola dan menerjang pemain. Ia bangkit, melihatku, dan tertawa. Tapi ia kaptennya, ia boleh-boleh saja melakukannya. Aku menghabiskan banyak waktu bersamanya. Ia adalah orang yang baik," canda Smith, mengingat soal Keane yang selalu memarahinya.

Meski Alan Smith dinilai gagal bertransformasi menjadi gelandang di Man United, sebenarnya pengalamannya di Setan Merah itu yang kemudian membuatnya bisa pindah posisi dengan sempurna ke posisi gelandang di kesebelasan-kesebelasannya selanjutnya seperti Newcastle United, Milton Keynes Dons, dan Notts County.

"Itu (pindah posisi ke gelandang) banyak membantuku, terutama setelah cedera yang menghilangkan 10-15 persen kemampuanku. Aku harus menemukan diriku lagi sebagai pemain; menjadi sedikit pendiam dan mempelajari permainan lagi sehingga aku tahu cara memainkan posisi [baru itu] dengan benar. Di Newcastle aku belajar bermain sebagai gelandang bertahan," katanya.

Pada Agustus 2007, Smith pindah dari Man United ke Newcastle. Bersama Newcastle, Smith memang terlihat lebih banyak bermain di lini tengah. Ia bertahan di Newcastle hingga empat tahun.

Setelah pindah ke MK Dons dan Notts County, Smith pensiun pada Juli 2018. Selama kariernya ia telah memainkan 590 pertandingan dan mencetak 68 gol.

Bagi sebagian orang, Smith merupakan pemain unik. Ia bisa bermain di dua kesebelasan rival—Leeds United dan Man United—dengan mempertahankan statusnya sebagai pemain yang dicintai para fans.

Di saat orang-orang mempertanyakan statusnya sebagai Merah (Man United) atau Putih (Leeds United), Alan Smith justru menunjukkan jika ia bisa menjadi Merah dan Putih sekaligus karena dedikasi tingginya kepada permainan.

Dua momen yang paling menggambarkan dedikasi tinggi Alan Smith tentu tercermin pasca cedera parahnya pada 2006 dan perpindahan posisinya dari penyerang ke gelandang bertahan.

Komentar