Rumah Itu Bernama Bundesliga

Backpass

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Rumah Itu Bernama Bundesliga

Berkarier di luar negeri merupakan salah satu fenomena (paling) natural dalam karier seorang pemain sepakbola. Namun, untuk menyebut sebuah negara asing sebagai rumah bukanlah hal mudah. Butuh adaptasi panjang dan pencapaian istimewa, seperti yang dilakukan oleh Claudio Pizarro di Bundesliga.

Penggila sepakbola Jerman dibuat gempar (bisa juga bosan) oleh Werder Bremen pada bursa transfer musim panas kemarin. Hanya dua hari setelah memecahkan rekor transfer untuk mendatangkan Davy Klaassen dari Everton (15 juta Euro), mereka meresmikan kedatangan Pizarro untuk yang kelima kalinya sejak 1999.

Pizarro sudah berusia 40 tahun. Umur yang tidak ideal untuk pemain sepakbola, terlebih lagi seorang penyerang.

Pria asal Peru itu ternyata sadar sudah melewati masa keemasan. Ia hanya mencatatkan (masing-masing) satu gol dalam dua musim terakhir. Tetapi tidak ada sedikitpun keraguan untuk kembali ke Weser-Stadion.

"Saya tidak datang ke sini untuk jalan-jalan atau senang-senang tanpa berkontribusi. Saya di sini karena saya ingin terus bermain sepakbola. Saya percaya saya bisa membantu tim," tegas Pizarro ketika diwawancarai oleh DW.

Kepercayaan diri yang tergambar jelas dalam kata-kata Pizarro rasanya bukanlah bualan belaka. Sekalipun bertambahnya umur membuat ketajamannya berkurang, ia tetap memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh pemain lain di Bundesliga: pengalaman.

Tidak ada pemain aktif yang mengenal setiap jengkal lapangan dan setiap `bentuk` atmosfer di stadion-stadion di Bundesliga melebihi Pizarro. Total 446 penampilannya (sebelum musim 2018/19 bergulir, sekarang 452 penampilan) jauh unggul atas Gonzalo Castro yang menempati peringkat kedua (365 penampilan). Angka tersebut juga menjadikannya sebagai pemain asing dengan jumlah penampilan terbanyak sepanjang sejarah.

Pemain bernama lengkap Claudio Miguel Pizarro Bosio itu belum pernah absen mencetak gol di Bundesliga setiap tahunnya dalam 20 tahun terakhir. Total, ia telah mengemas 192 gol, menempatkannya pemain paling subur kelima di Bundesliga. Untuk kategori pemain asing, ia adalah yang nomor satu.

Status sebagai pemain asing tersubur didapatkan Pizarro pada 23 Oktober 2010. Delapan tahun tidaklah singkat, tetapi momen manis ketika ia melewati rekor gol legenda Bayern, Giovanni Elber, masih terekam jelas dalam ingatannya.

Bagaimana tidak? Pizarro menyamai rekor Elber (133 gol) tepat dalam laga terakhir musim 2009/10. Butuh waktu lima bulan, yang dihiasi dengan cedera otot, sebelum akhirnya ia mencetak gol ke-134 nya dalam laga tandang melawan Borussia Moenchengladbach.

Ketajaman Pizarro membuat orang-orang menjulukinya Andenbomber. Kata "Anden" merujuk pada Pegunungan Andes yang membentang melewati negara-negara Amerika Selatan, termasuk kota kelahirannya, Callao, di Peru. Ironis, relasi antara Pizarro dengan Peru tidak seindah julukannya.

Pria yang lahir pada 3 Oktober 1978 itu adalah saksi hidup salah satu konflik paling berdarah di Peru, antara pemerintah dengan Partai Komunis Peru (juga dikenal dengan nama Shining Path) dan Movimiento Revolucionario Túpac Amaru (Gerakan Revolusioner Tupac Amaru). Pembunuhan massal, penculikan, pemerkosaan, dan penculikan anak-anak untuk dijadikan tentara adalah hal yang biasa ketika itu.

Beruntung, Pizarro kecil tidak menjadi korban. Ia terus mengasah kemampuan untuk mewujudkan cita-citanya menjadi pesepakbola. Pada 1996, ia menjalani debut profesionalnya bersama Deportivo Pesquero, klub yang mengubah namanya menjadi Deportivo Wanka pada 2000.

Pizarro adalah pemain asal Peru pertama yang merumput di Bundesliga. Meski demikian, pelbagai rekor yang telah diciptakan tidak akan pernah bisa membuat hati masyarakat Peru berpindah dari sosok Paolo Guerrero.

Pizarro tidak lebih dari sekadar pembangkang dan biang masalah bagi para suporter Los Incas. Semua berawal ketika ia menolak panggilan tim nasional pada Oktober 2006. Ia beralasan tidak diberi izin oleh klubnya ketika itu, FC Bayern.

Pihak Federasi (FPF) mengklaim bahwa mereka tidak pernah dihubungi oleh Bayern, sehingga Pizarro tidak dimainkan untuk laga-laga berikutnya sebagai bentuk hukuman. Hal ini memicu perselisihan dengan pelatih Franco Navarro. Ia tidak bersedia membela timnas selama masih dilatih oleh Navarro.

Kontroversi berlanjut pada November 2007. Pizarro, bersama Jefferson Farfan, Santiago Acasiete, dan Andres Mendoza, menggelar pesta setelah Peru bermain imbang 1-1 melawan Brasil dalam Kualifikasi Piala Dunia. Tiga hari kemudian, mereka dibantai Ekuador dengan skor 1-5.

FPF mengambil tindakan tegas. Kelima pemain tersebut dilarang bermain hingga waktu yang tidak ditentukan. Pizarro tidak terima dengan hukuman yang diberikan. Ia mengklaim dirinya tidak bersalah dan melaporkan kasus ini ke Badan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS). Pizarro baru kembali tampil membela timnas pada 2011.

Perlu dipahami bahwa segala kontroversi tidak membuat Pizarro membenci Peru. Ia tetap menceritakan sejarah Peru dan berbicara dalam bahasa Spanyol dengan anak-anaknya.Walaupun begitu, ia belum memiliki niatan untuk kembali ke negara asalnya.

Fakta bahwa ketiga anaknya lahir dan tumbuh besar di Jerman membuat negara ini sudah terasa seperti rumah bagi Pizarro. Apalagi, Pizarro masih memiliki misi pribadi: mempertahankan rekornya dari kejaran penyerang Bayern asal Polandia, Robert Lewandowski (185 gol).

"Saya ingin mencetak lebih banyak gol untuk membuatnya semakin kesulitan (untuk melampaui rekor)," kata Pizarro, yang dikabarkan hanya menerima gaji 300.000 euro per tahun —sebagai perbandingan, Lewandowski, pemain dengan gaji termahal Bundesliga dibayar 230 ribu euro per pekan.

Komentar