Santri-santri yang Menendang Bola

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Santri-santri yang Menendang Bola

Sepakbola selalu punya tempat tersendiri bagi para pemeluk agama Islam. Di negara Arab Saudi yang menjunjung tinggi hukum Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sepakbola pernah dinyatakan haram dimainkan—Abdallah Al-Najdi mengeluarkan fatwa haram tersebut pada 2003.

Dalam sebuah artikel yang ditulis Richard Morin, jurnalis Washington Post, ulama Arab Saudi itu menyatakan sepakbola dilarang kecuali ketika dimainkan saat sedang latihan jihad. Fatwa itu juga dilengkapi berbagai aturan pengganti yang tak lazim. Salah satunya melarang para pemain menggunakan terminologi “foul”, “penalty”, “corner”, dan “out”. Alasannya karena istilah itu diciptakan oleh kaum kafir dan menggunakan kata-kata itu berarti musyrik dengan sendirinya.

Pada tahun yang sama, sepakbola di Indonesia bahkan sudah kadung digandrungi oleh para santri dan kiai mereka. Dilansir dari situs Nadhlatul Ulama, seorang santri bernama Abdullah Alawi pernah begitu bangga mengisahkan Kiai Haji (KH) Saifuddin Zuhri yang sangat cinta dengan sepakbola.

“Hingga usia 45 tahun, pada 2003, ia masih turun ke lapangan memperkuat kesebelasan kampungnya. Posisinya adalah bek tengah. Mungkin saking gemarnya, kadang, dengan mengenakan sarung, turut menendang bola di halaman madrasah bersama santri yang terpaut jauh usianya,” kenang Alawi ketika itu.

Lebih lanjut Alawi menulis, sebelum menyandang gelar kiai alias masih sebagai santri di pondok pesantren, Zuhri muda rutin main sepakbola bersama teman-temannya sesama santri setiap libur mengaji.

Saifuddin Zuhri hanyalah satu dari sekian banyak santri di Indonesia yang terobsesi dengan sepakbola. Jika di Arab Saudi para tokoh agamanya sibuk mengeluarkan fatwa haram tentang sepakbola, di Indonesia pemandangannya sungguh sangat kontras. Baik kiai maupun santri sama sekali tidak menganggap sepakbola sebagai sesuatu yang patut dijauhi.

Bahkan dalam buku biografi Muhammad Quraish Shihab berjudul “Cahaya, Cinta, dan Canda”, terdapat potret antara Quraish bersama Kiai Syukri dan Gus Mus dalam satu tim sebelum bertanding di lapangan sepakbola. Kala itu, mereka masih jadi mahasiswa di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

KH Abdullah Syukri Zarkasyi—atau yang lebih akrab disapa Kiai Syukri—adalah pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo (salah satu pondok pesantren terbaik di Indonesia). Sementara KH Mustofa Bisri—terkenal dengan sebutan Gus Mus—adalah budayawan yang selalu mengampanyekan Islam moderat di Indonesia.

Dikisahkan pula Quraish Shihab adalah seorang bek yang sempat bergabung di tim junior Zamalek, kesebelasan asal Kairo. Perlu diketahui, Zamalek bersama Al-Ahly adalah dua klub raksasa asal ibukota Mesir yang rivalitas keduanya juga menjalar ke bidang politik dan sosial budaya.

Santri-santri tidak hanya jago dalam urusan bermain tetapi juga jago dalam menganalisa pertandingan sepakbola. Salah satu alumni pesantren yang fasih berkomentar tentang sepakbola adalah KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur. Ulama yang juga presiden Indonesia keempat itu pernah begitu aktif menuangkan pikirannya ke dalam tulisan (paling sering dimuat di harian Kompas) dan diundang sebagai komentator di televisi ketika ada ajang Piala Eropa maupun Piala Dunia.

Kecintaan Gus Dur kepada sepakbola sudah diakui berbagai tokoh termasuk Sindhunata, pelopor penulisan sepakbola di Indonesia. “Semasa hidupnya, Gus Dur juga seorang pecinta dan pengamat sepakbola yang andal,” tulis Sindhunata dalam obituari Gus Dur yang dimuat di Kompas. Saking cintanya dengan olahraga sepakbola, pria yang pernah menimba ilmu di pondok pesantren Tebuireng, Jombang, itu kerap menggunakan terminologi sepakbola di berbagai lapangan kehidupan termasuk politik.

Sindhunata dan Gus Dur pernah terlibat perdebatan politik menggunakan terminologi sepakbola. Sindhunata melayangkan kritik terhadap strategi catenaccio yang diterapkan Gus Dur saat dihadapkan pada skandal Bulog (Badan Urusan Logistik). Namun dengan gaya tulisan yang khas, Gus Dur membantah hanya menggunakan strategi bertahan ala Italia itu di dalam setiap strategi pemerintahannya. Dia hanya menggunakan strategi itu sehubungan dengan kasus Bulog saja. Lebih jauh Gus Dur menulis, bakal menerapkan total football dalam rangka menegakkan demokrasi di Indonesia.

Gus Dur dan para tokoh yang saya sebutkan di atas adalah para santri yang tidak perlu diragukan lagi rasa cintanya terhadap olahraga sepakbola. Namun mereka belum sampai ke tahap membela tim nasional sepakbola Indonesia. Betul mereka semua pernah bermain sepakbola, tetapi tanpa lambang garuda di dada.

Dewasa ini, peran santri dalam kemajuan sepakbola nasional semakin nyata dengan hadirnya Muhammad Rafli Mursalim. Penyerang asal Tangerang itu dulu berkompetisi di Liga Santri Nusantara membela pondok pesantren Al-Asy’ariyah. Liga Santri sendiri adalah kejuaraan antar pondok pesantren di seluruh Indonesia yang dimulai pertama kali pada 2015. Rafli keluar sebagai top skor pada musim kedua Liga Santri.

Penampilan gemilang Rafli sampai ke telinga Indra Sjafri. Dalam beberapa kesempatan, pelatih Timnas U-19 itu hadir langsung di tribun untuk menyaksikan Rafli bermain. Akhirnya pada 2017, nama Rafli Mursalim resmi masuk ke dalam skuat Timnas U-19. Indra mungkin terkesan dengan 15 gol yang dikemas Rafli sepanjang turnamen.

“Saya sangat beruntung bisa berada di Timnas ini, mungkin berkat doa teman-teman dan orang tua yang juga sangat mendukung,” ujar Rafli ketika saya wawancara.

Di pesantren, sangat lazim jika ada seorang santri mendoakan kesuksesan santri yang lain. Hal itu bukan semata-mata keinginan individu, melainkan sudah diajari oleh para kiai untuk hidup guyub dan saling mendoakan satu sama lain. Artinya para santri diajarkan untuk bahu membahu—meski hanya sekadar mengirimkan doa—agar semua selamat, tidak ada yang celaka.

Rafli juga mengaku bahwa hal yang paling dia ingat saat di pesantren adalah suasana kekeluargaannya. Kegiatan yang serba dilakukan bersama-sama membentuk ikatan emosional. Apalagi jika kegiatan itu dilakukan terus-menerus meskipun sepele. Misalnya makan bersama, salat berjamaah, atau sekadar menonton tayangan televisi bersama.

Ketika saya tanya apakah Rafli sempat mengalami gegar budaya dari pergaulan pesantren ke pergaulan Timnas, dia menjawab tidak ada perbedaan kegiatan rutinitas. Kegiatan salat malam tetap ia jalankan selama di Timnas, begitu pula dengan rutinitas bangun pagi untuk salat subuh. Rekan-rekannya di Timnas juga melakukan hal yang sama, sehingga Rafli tidak kesulitan untuk beradaptasi.

Rafli percaya bahwa di luar sana banyak sekali santri yang jago bermain sepakbola. Pada momentum hari santri nasional yang diperingati setiap 22 Oktober, Rafli ingin agar semakin banyak santri yang membela Timnas Indonesia. Dia ingin memperbaiki stigma masyarakat yang menganggap santri cuma bisa salat dan mengaji.

“Buat teman-teman (santri) yang lain, kalau ingin sukses, kita harus kerja keras karena cita-cita itu dikejar bukan ditunggu. Jangan lupa untuk tetap berdekatan dengan Allah, dibarengi dengan kerja keras dan tentunya disiplin,” kata Rafli dengan sungguh.

Feature image: SuaraPesantren.net

Komentar