London 0 Hull 4

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

London 0 Hull 4

Judul di atas adalah nama salah satu album hit The Housemartins, sebuah grup musik indie rock asal Hull, Inggris. Album ini dirilis pada Oktober 1986, namun kembali mendapatkan perhatian pada 19 Oktober 2008. Saat itu pekan kedelapan Liga Primer Inggris. Hull City berhasil mengalahkan kesebelasan asal London, West Ham United, dengan skor 1-0 di KC Stadium.

Itu musim perdana Hull di Liga Primer. Sebelum pekan kedelapan mereka berhasil mengalahkan Fulham pada pertandingan pembuka Liga Primer di kandang (2-1), Arsenal pada pekan keenam di Emirates Stadium (2-1), dan Tottenham Hotspur pada pekan ketujuh di White Hart Lane (1-0).

Kemenangan melawan West Ham tersebut melengkapi rekor Hull melawan kesebelasan-kesebelasan London menjadi empat: London 0 Hull 4. Judul album The Housemartins tersebut menghiasi beberapa surat kabar di Inggris pada keesokan harinya.

Ada Apa antara London dengan Hull?

"Kesuksesan tim [promosi ke Liga Primer dan bermain baik di awal musim] adalah lebih dari tentang kesebelasan," kata Alex Burgess, salah satu penyiar asal Hull, dikutip dari The Guardian. "Itu tentang kota ini dan caranya dipersepsikan."

Hull memiliki nama lengkap Kingston upon Hull. Kota ini telah ternoda oleh keadaan tak terkendali sepanjang sejarahnya. Pada Perang Dunia II, hanya Kota London yang lebih banyak menerima bom Luftwaffe daripada Hull. Pada 1970 mereka juga kalah dalam konfrontasi Cod War melawan Islandia atas hak menangkap ikan di Atlantik Utara—membuat ekonomi Hull jatuh.

Namun itu semua berubah pada 1980-an. Olahraga membuat Hull bangkit, dengan dua tim rugbi mendominasi liga. Hull dan Hull Kingston Rovers bertemu di final Challenge Cup 1980 di Wembley, London.

Prestasi olahraga tersebut berhasil memberikan asis kepada prestasi Hull di bidang musik. The Housemartins memberikan judul album pertama mereka "London 0 Hull 4" karena situasi tak mengenakan yang perlahan berbalik antara Hull dengan London sebagai ibu kota Kerajaan Inggris.

"Flag Day", "Sheep", "Happy Hour" (nomor tiga se-Inggris Raya), dan "Think for a Minute" adalah single-single dari album ini.

"Pada 80-an, itu murni soal rugbi," kata Paul Heaton, pentolan The Housemartins, diwartakan dari The Guardian. "Fans sepakbola pada sepi di pub, ketika fans rugbi menari-nari. Mereka akan mengatakan, "Hull City mendapatkan hasil imbang yang bagus," dan responsnya bakal, `Bodo amat.` Fans sepakbola dorman selama bertahun-tahun."

Sebagai vokalis, Heaton juga terkenal sebagai penulis lirik yang apik. Album London 0 Hull 4 mengombinasikan lirik-lirik berapi-api, polemik, sosialis revolusioner, yang menggambarkan kemarahan, patos yang menyayat hati, dan humor khas Britania.

Lagu "Get Up Off Our Knees" misalnya yang memiliki bait "Don`t point your fingers at them and turn to walk away/Don`t shoot someone tomorrow that you can shoot today," sementara "Sitting on a Fence" mengolok-olok mereka yang "see both sides of both sides," dan "Sheep" mengeluhkan sikap apatis massa yang tertindas.

Menurut Heaton, album itu membuatnya merasa seperti petinju lokal alih-alih bintang pop. "Ketika aku pergi keluar saat Natal, aku dapat tepuk tangan meriah dari para pensiunan."

Walau terkenal di Hull, ternyata ia adalah fans Sheffield United. Ia benar-benar tak menyangka jika judul albumnya bisa menjadi tajuk utama lagi 22 tahun setelah rilis.

Nostalgia Hull sebagai Kesebelasan Lumayan dengan Banyak Aksi Kocak

Sebuah gol dari Michael Turner di hadapan 24.896 penonton di menit ke-51 membuat The Tigers unggul 1-0 atas The Hammers. Para pendukung Hull City tak menyangka kesebelasan mereka—yang baru saja promosi—bisa bertengger di peringkat ketiga klasemen Liga Primer pada pekan kedelapan.

Bukan hanya merealisasikan "London 0 Hull 4", mereka juga mendapatkan tiga hasil kemenangan terakhir mereka itu secara berturut-turut, melawan kesebelasan London kelas atas pula: 2-1 di kandang Arsenal dan 1-0 di kandang Spurs.

"Itu adalah tiga kemenangan dengan dua nirbobol. Kami hanya kebobolan satu gol di tiga pertandingan melawan kesebelasan berkualitas," kata Manajer Hull saat itu, Phil Brown, dikutip dari BBC.

Paul Heaton memuji manajernya sebagai genius. "Phil Brown mempelajari tim [lawan] 10 kali lebih banyak daripada José Mourinho," katanya. Pujian ini tentunya hadir jauh sebelum Brown terkenal sebagai manajer yang memberikan team talk di tengah lapangan.

Meski baru promosi, pada 2009/10 tersebut Hull memiliki skuat lumayan. Boaz Myhill menjaga gawang mereka, dikawal duet Turner dan Kamil Zayatte. Dean Marney dan George Boateng menjadi penjaga tempo di lini tengah. Marlon King dan Daniel Cousin sebagai penyerang. Sementara Geovanni bertindak sebagai gelandang serang kreatif yang menjadi nyawa permainan.

Jika Geovanni terkenal sebagai nyawa permainan, maka pemain Hull yang satu ini juga tak terlupakan karena kelakuan kocaknya di dalam dan di luar lapangan: Jimmy Bullard. Ia juga menjadi nyawa lainnya terutama karena menghasilkan energi positif dari canda tawa. Bahkan ia pernah membercandai aksi team talk di tengah lapangan Brown sebagai selebrasi gol.

Namun sayang rekor bagus Hull di awal musim tak berlanjut. Mereka kalah 0-3 oleh kesebelasan asal London, Chelsea, pada pekan kesepuluh, yang (seharusnya) membuat London 1 Hull 4.

Walau gagal meneruskan tren positif, pada akhir musim The Tigers menduduki peringkat ke-17, terhindar dari degradasi dengan sebiji poin. The Housemartins juga merilis ulang album London 0 Hull 4 (edisi deluxe) ketika Hull dinyatakan bertahan di Premier League.

Pengaruh musik untuk Hull tak hanya sampai di situ, Phil Brown kemudian menyanyi di depan publik KC Stadium saat Hull dipastikan bertahan, meski di musim selanjutnya mereka terdegradasi.

Komentar