Pria Biasa yang Luar Biasa

Backpass

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Pria Biasa yang Luar Biasa

“Dia adalah salah satu manajer terbesar sepanjang masa,” kata Sir Alex Ferguson, menggambarkan sosok John ‘Jock’ Stein. “Dia melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan tidak akan dilakukan lagi. Anda tidak bisa melebih-lebihkan itu.”

Pujian Ferguson kepada Stein yang tak lain teman dekat sekaligus mentornya itu tak hiperbolis. Stein memang sosok yang melegenda di ranah sepakbola Skotlandia karena prestasi dan keahliannya dalam meracik strategi.

Ferguson adalah manajer hebat dengan segudang prestasi yang ia telurkan dalam 39 tahun karier kepelatihannya. Namun tanpa Stein, tampaknya Sir Alex tidak akan menggapai kesuksesan itu. Fergie pun mengakui bahwa dirinya banyak belajar dari seorang Stein.

Ferguson dan Stein pernah bekerjasama saat membesut Tim Nasional Skotlandia di babak kualifikasi Piala Dunia 1986. Sebelum itu, kedekatan keduanya sudah terjalin erat. Saat Ferguson mulai menatap karier kepelatihannya, Stein adalah sosok yang selalu ia cari untuk dimintai nasihat.

Bahkan di musim 1986, saat Fergie membesut Aberdeen, ia sengaja mengundang Stein ke Gothenburg, Swedia, untuk meminta nasihat dari sang mentor karena Aberdeen akan berhadapan dengan Real Madrid di final Piala Winners 1983.

"Dia mengatakan kepada saya untuk memastikan kami mengambil sesi latihan kedua di stadion pada malam sebelum pertandingan. Jock juga membeli sebotol minuman, saya pikir, Black Label dan dia memberi tahu saya, ‘Berikan itu kepada Alfredo di Stefano (Pelatih Real Madrid) saat dia keluar lapangan setelah sesi latihan’. Itu mungkin memberinya kesan bahwa kami adalah klub kecil dari Aberdeen dan kami tidak punya hak untuk bermain melawan Real Madrid, bahwa kami hanya bersyukur bisa berada di final bersama mereka. Sepertinya itu hal yang dangkal, tetapi itu sangat dalam dan pintar karena Aberdeen menang 2-1,” sambung Ferguson, dilansir dari Daily Mail.

Singkatnya, Stein adalah sosok yang luar biasa. Tidak hanya bagi Ferguson, namun juga untuk sepakbola Skotlandia secara umum. Di medio 1960 hingga 1980, bersama Bill Shankly dan Sir Matt Busby, Stein menjadi tiga serangkai pelatih hebat yang ditelurkan sepakbola Skotlandia.

Baca juga: Aberdeen, Warisan Kejayaan Sir Alex Ferguson yang (Hampir) Terlupakan

***

Stein lahir di Burnbank, South Lanarkshire, Skotlandia 5 October 1922. Ia berasal dari keluarga yang sederhana. Di usia remaja, Stein sudah harus membantu perekonomian keluarganya dengan bekerja sebagai penambang batu bara. Meski disibukkan dengan pekerjaannya sebagai penambang, Stein tak kehilangan gairah pada sepakbola.

Selain bekerja sebagai penambang, Stein pun tercatat sebagai anggota dari klub lokal, Blantyre Victoria. Keluarganya, terutama sang ayah, amat mendukung keinginan Stein yang menggebu untuk berkarier di lapangan hijau. Maka, setelah dua tahun membela Blantyre, Stein pun diizinkan untuk menapak ke ranah sepakbola profesional bersama Albion Rovers.

Namun karier Stein sebagai pemain tak begitu bersinar. Meski sempat menjadi wakil kapten Celtic, sosoknya tak begitu dikenal luas. Apalagi, Stein juga harus pensiun dini di usia 35 tahun karena mengalami cedera engkel parah saat membela Celtic di laga persahabatan menghadapi Coleraine pada 1957.

Stein pun melanjutkan kariernya di lapangan hijau sebagai pelatih. Dunfermline Athletic adalah klub pertama yang Stein latih pada 1960. Bersama Dunfermline pamor Stein sebagai pelatih potensial mulai meningkat. Di musim pertamanya, ia mampu membawa Dunfermline juara di ajang Piala Skotlandia musim 1960/61. Tak hanya itu, Stein juga membawa klub tersebut tampil di Piala Champions (Liga Champions).

Empat musim waktu yang dihabiskan Stein bersama Dunfermline, setelah itu ia hijrah ke Hibernian. Hibs tengah terpuruk di kompetisi domestik Skotlandia. Namun tangan dingin Stein berhasil mengangkat derajat Hibs. Stein berhasil mengembalikan status Hibs sebagai kekuatan besar dalam ranah sepakbola Skotlandia.

Selama semusim membesut Hibs (1964/65), Stein sukses membawa Hibs meraih gelar di Summer Cup 1964. Itu adalah gelar pertama yang diraih Hibs dalam 10 tahun terakhir.

Setelahnya, Stein mendapatkan tawaran dari Wolverhampton Wanderers. Bagi Stein itu bukan tawaran yang ia inginkan, karena sejatinya Stein ingin membesut Celtic. Maka, tawaran Wolves pun dijadikannya sebagai alat untuk bertemu Bob Kelly, petinggi Celtic kala itu.

Stein awalnya hanya meminta pendapat Kelly tentang tawaran Wolverhampton. Dari perbincangan itu Stein bisa melihat peluang untuk menduduki kursi manajerial Celtic yang kala itu diisi Sean Fallon. Entah bagaimana, Kelly kemudian terbuai untuk mempekerjakan Stein. Kebetulan saat itu prestasi Celtic juga sedang menurun. Hingga pada 31 Januari 1965, Stein pun diperkenalkan sebagai Manajer Celtic.

Stein sejatinya merupakan sosok yang punya temperamen tinggi, namun dengan pendekatannya yang revolusioner dalam melatih, ia langsung mendapatkan tempat di hati para pemainnya. Meski dikenal sebagai sosok yang berapi-api, tapi anak asuhnya nyaman dilatih oleh Stein.

Di hari pertamanya melatih, Stein langsung menerapkan filosofi permainan menyerangnya. Kepada anak asuhnya, Stein menanamkan filosofi bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang. Ia pun menanamkan nilai-nilai baku tentang semangat pantang menyerah dan selalu bekerja keras di lapangan, baik dalam pertandingan maupun latihan.

Stein pun memperkenalkan analisis taktis secara terperinci, yang menanamkan pemahaman tentang bagaimana sepakbola bekerja dan bagaimana harus memainkannya. Para pemain terpikat dengan apa yang dijelaskan Stein tentang permainan. Mereka mendengarkan dengan saksama, menyerap informasi, dan yang terpenting, mempraktikannya di lapangan.

Dalam sekejap Stein mampu mengubah Celtic dari tim biasa saja menjadi luar biasa. Dalam 13 tahun kariernya bersama Celtic, 33 gelar berhasil diraih. Paling monumental tentunya gelar Piala Champions 1966/67. Itu adalah gelar pertama dan satu-satunya (hingga saat ini) Celtic di ajang yang kini bertajuk Liga Champions itu. Lebih dari pada itu, melalui pencapaian tersebut Celtic pun menjadi tim Britania Raya pertama yang mengangkat trofi ‘Si Kuping Besar’.

Selepas menangani Celtic, Stein kemudian hijrah ke Leeds United dan dua bulan kemudian membesut Timnas Skotlandia. Ia diberi tanggung jawab untuk meloloskan Skotlandia ke Piala Dunia 1986.

Namun sebelum sempat misi tersebut tercapai, Stein keburu mengembuskan nafas terakhirnya pada 10 September 1985. Stein meninggal karena serangan jantung saat ia mendampingi anak asuhnya dalam pertandingan kualifikasi menghadapi Wales.

Kepergian Stein pun menjadi kabar duka bagi sepakbola Skotlandia. Mengenang jasa-jasa Stein, namanya pun abadi dalam daftar Scottish Football Hall of Fame. Selain itu pada Maret 2011, patung Stein berdiri tegap di luar stadion Celtic Park dengan menggenggam trofi `Si Kuping Besar`.

Komentar