Akhir Masa Kejayaan HSV

Backpass

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Akhir Masa Kejayaan HSV

Hamburg merupakan salah satu kota bersejarah di Jerman. Di kota pelabuhan terbesar kedua di Eropa itu —setelah Rotterdam—, banyak berdiri kokoh bangunan-bangunan tua yang beriringan dengan gedung-gedung modern. Di Hamburg pula, salah satu filsuf paling berpengaruh di dunia, Karl Marx, menerbitkan salah satu bukunya yang paling terkenal; Das Kapital: Kritik der politischen Oekonomie vol. 1.

Tak hanya itu, salah satu klub paling berpengaruh dan punya sejarah panjang di ranah sepakbola Jerman pun lahir di Hamburg. Hamburger Sport-Verein e.V, atau biasa disingkat HSV, adalah klub sepakbola kebanggaan masyarakat Hamburg. Terbentuk pada 29 September 1887, bersama 15 klub Jerman lainnya, HSV menjadi kontestan Bundesliga di era pertama pada 1963. Hingga berakhirnya musim 2017/18, sudah 55 tahun HSV memanaskan persaingan di kompetisi utama Jerman itu.

Sebagai klub dengan reputasi yang baik, HSV mulai merasakan era keemasan di medio 1960 hingga 1980-an. Di era tersebut berbagai prestasi gemilang dicatatkan Der Dino. Tiga kali, HSV menjadi Deutscher Meister di musim 1979, 1982, dan 1983. Pada medio 1982 hingga 1983, Hamburger menorehkan rekor 36 kali tak terkalahkan di Bundesliga. Pencapaian tersebut baru bisa dipecahkan Bayern Muenchen di musim 2014.

Kejayaan HSV tak hanya terjadi di pentas domestik, lebih dari pada itu juga mereka mampu menaklukkan Eropa. Di musim 1977, Hamburger sukses memboyong Piala Winners ke Hambur setelah mengalahkan Anderlecht 2-0 di laga final. Enam tahun kemudian gelar European Cup (Liga Champions) direngkuh HSV setelah membungkam Juventus 1-0 di partai puncak.

Sukses meraih gelar di European Cup, membuat HSV sukses meraih gelar ganda untuk kali pertama dalam sejarah klub setelah di musim yang mereka juga sukses meraih gelar juara Bundesliga. Tapi gelar ganda tersebut menjadi yang terakhir diraih HSV. Setelahnya grafik penampilan Der Dino merosot, meski di tahun 2005 mereka mampu meraih gelar di ajang UEFA Intertoto

Penurunan grafik prestasi HSV memuncak di era 2010. Jangankan bersaing di papan atas, menembus posisi 10 besar saja rasanya sulit bagi Der Dino. Jurnalis senior Jerman, Jurek Rohrberg, mengungkapkan bahwa salah satu penyebab keterpurukan Hamrbuger SV adalah krisis kepemimpinan dan seringnya HSV berganti Manajer.

Di musim 2017/18, musim terakhir HSV di Bundesliga, tiga Manajer mengisi kursi kepelatihan tim. Setelah memecat Markus Gisdol pada Januari 2018, mereka mendatangkan Bernd Hollerbach. Tapi kiprah Bernd tak berlangsung lama, setelah dua bulan Bernd di pecat dan digantikan Christian Titz yang sebelumnya membesut tim reserve HSV.

Tak hanya itu, krisis finansial juga disebut-sebut mempengaruhi kemerosotan HSV. Di tahun 2013, keuangan klub sempat terguncang. Namun berkat suntikan dana dari pengusaha lokal, Klaus-Michael Kuehne, HSV selamat dari keterpurukan finansial di tahun 2014.

Tapi, para petinggi klub tampak tak lagi bergairah untuk mendukung stabilitas klub. Wartawan Sky Sports, Sven Tollner, mengungkapkan bahwa para petinggi klub sudah tidak lagi punya gairah untuk mengembangkan klub. Hal tersebut dilihat Sven dari tidak adanya rencana yang dimiliki para petinggi klub untuk mengembangkan HSV.

“Mereka tidak memiliki rencana jangka panjang. Tidak ada satupun dari mereka yang memiliki pemikiran untuk membawa klub ini berbicara jauh di Bundesliga. Tidak ada konsep yang jelas,” tegas Sven.

Analisis Sven muncul karena Kuehne pun menyampaikan kekecewaannya kepada para petinggi HSV. Kuehne mengungkapkan bahwa HSV merupakan investasi terburuknya. "Secara ekonomi, Hamburg adalah keputusan investasi terburuk dalam hidup saya," tegas Kuehne di lansir dari The Guardian.

“Skuat mereka adalah masalahnya. Dalam tim mereka tidak memiliki sosok pemimpin. Hamburg SV berganti manajer kurang lebih 9 kali dalam 10 musim terakhir. Mereka tidak memiliki filosofi permainan,” ucap Rohberg dilansir dari Sky Sports.

***

Namun Titz setidaknya sempat menumbuhkan harapan bagi HSV bertahan di Bundesliga. Performa Der Dino menanjak dengan raihan 13 poin dari delapan pertandingan. Di masa akhir kompetisi, HSV memiliki asa untuk bertahan di Bundesliga, dengan catatan mereka harus bisa mengalahkan Borussia Moenchengladbach dan Vfl Wolfburg gagal menang atas FC Koeln.

Volksparkstadion penuh sesak dengan suporter Hamburg SV yang ingin memberikan dukungan kepada tim kesayangannya agar tetap bertahan di Bundesliga. Hasilnya, di akhir pertandingan HSV menang 2-1. Tapi kemenangan itu tak disambut bahagia, karena ditempat lain Wolfsburg menang 4-1 atas Koeln.

Para penggemar tentu saja kecewa dengan turunya HSV ke Bundesliga 2. Setelah pertandingan menghadapi Moenchengladbach, suasana Volkparkstadion memanas. Para pendukung yang kecewa melempar suar dan kembang api ke dalam lapangan sebagai simbol kekecewaan mereka terhadap prestasi klub.

Hasil tersebut membuat HSV degradasi ke Bundesliga 2, setelah 54 tahun lamanya bertahan di kompetisi utama. Jam digital di Volksparkstadion pun terhenti setelah pertandingan tersebut.

Komentar