Kaki Kiri Riise di Pertandingan Tarkam

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Kaki Kiri Riise di Pertandingan Tarkam

Saya pernah menonton pertandingan sepakbola tarkam remaja di sebuah kampung. Tiada yang menarik dalam pertandingan itu, sampai kemudian seorang pemuda kurus masuk menggantikan rekannya yang sudah ngos-ngosan. Pemuda itu berkostum Liverpool dengan tulisan “Carlsberg” di dada. Rambutnya hitam kemerahan atau merah kehitaman, entahlah, mungkin karena sering terkena sinar matahari.

Ketika di lapangan, dia beroperasi di sayap kiri. Mungkin karena dia kidal, jadinya ditempatkan di area itu. Kemampuan kaki kirinya tidak kalah menonjol dengan warna rambutnya. Saya menjadi saksi bagaimana dia mencetak gol dengan tendangan voli kaki kiri dari luar kotak penalti. Sontak saya teringat dengan sosok John Arne Riise yang juga pernah berkostum Liverpool, punya rambut merah, dan kaki kiri yang mematikan.

John Arne Riise adalah nama yang tak asing bagi pendukung Liverpool. Pria yang lahir pada 24 September 1980 di Norwegia itu mengawali karier dari posisi bek sayap atau full-back. Padahal seorang legenda Liverpool bernama Jamie Carragher (juga sekaligus rekan setim Riise), pernah bilang: “jika kamu seorang full-back, entah kamu seorang bek yang buruk atau pemain sayap yang gagal. Tiada yang mau tumbuh besar dan jadi Gary Neville berikutnya."

Pencapaian terbaik Riise bersama The Reds terjadi pada 2005 saat ia membantu timnya juara Liga Champions dengan mengalahkan AC Milan di Istanbul. Padahal saat pertama kali gabung ke Anfield pada musim panas 2001, pria berambut merah itu relatif tidak dikenal publik Merseyside karena berita transfernya hanya memakan sedikit ruang di surat kabar.

Namun debutnya berjalan baik. Riise mencetak gol di Piala Super UEFA pada Agustus 2001. Pada menit ke-23, Riise naik hingga kotak penalti lawan dan cetak gol dari jarak dekat setelah menyambut umpan Michael Owen. Gol itu semakin spesial karena di akhir laga, Liverpool keluar sebagai pemenang dengan skor 3-2 atas Bayern Munich.

Setelah debut yang gemilang, Riise selalu dipercaya menjadi starter sebagai bek kiri. Di bawah arahan pelatih Gerard Houllier, dia mencetak sepuluh gol di musim pertamanya di Liga Inggris. “Gerard mengajari saya banyak hal dan dia membuat saya percaya diri. Dia memberi saya kesempatan lain jika saya melakukan kesalahan. Jadi saya banyak berterima kasih kepadanya," ungkap Riise dilansir dari Liverpool Echo.

Bahkan gol terbaik versinya lahir di bawah asuhan Houllier. Gol itu terjadi pada November 2001 ke gawang lawan yang juga musuh bebuyutan Liverpool, Manchester United. Itulah gol berkecepatan 70 mil per jam, itulah gol yang menurut BBC layaknya petir yang menyambar, itulah gol yang menegaskan kejayaan Liverpool atas United waktu itu.

”Saya pikir itu adalah gol terbaik yang pernah saya cetak dan yang paling penting dalam karier saya bersama Liverpool karena itu membuat saya diterima oleh para penggemar setia," kenang Riise sebagaimana dikutip dari Liverpool Echo.

Namun relasi Riise dengan Houllier hanya bertahan tiga musim. Pada 2004, Liverpool punya pelatih baru bernama Rafael Benitez. Riise didorong lebih ke depan dari posisi sebelumnya. Seringnya Riise melakukan overlap membuat Benitez tidak ragu untuk memberikan posisi, tugas, dan tanggung jawab baru kepadanya.

Di bawah komando Benitez pula pria asal Norwegia itu mencapai klimaks sekaligus anti-klimaksnya sebagai pesepakbola. Setelah menjadi yang terbaik di Eropa pada 2005, bisa dibilang performa Riise naik turun. Inkonsistensi penampilannya disebabkan karena ia terlalu nyaman di posisi tersebut.

“Ketika Anda sudah di suatu tempat selama tujuh tahun, Anda menjadi sangat nyaman. Saya terlalu senang dengan posisi saya dan tidak bekerja sekeras mungkin. Saya menjadi terlalu puas dan tak berpikir harus bekerja keras. Saya menyesalinya sekarang." Aku Riise kepada Liverpool Echo pada 2013 silam.

Sebelumnya dalam suatu wawancara setelah pertandingan Liga Inggris, Riise pernah ditanya tentang rahasia di balik kekuatan kaki kirinya. “Saya terbiasa menghabiskan lima atau enam jam sehari berlatih teknik menembak saya ketika masih muda," kata Riise dengan penuh percaya diri.

Hari semakin sore. Pemuda di pertandingan tarkam tadi masih di sana dengan kaki kiri yang membuat banyak orang terperangah. Berulang kali kaki kirinya membahayakan gawang lawan, berulang kali kaki kirinya ditekel lawan. Kemudian datanglah pria berbadan tambun dengan hanya mengenakan kutang dan kain sarung. Dia berteriak dari pinggir lapangan seolah-olah bertindak sebagai pelatih. Saya tak tahu siapa bapak itu. Yang pasti, dia bukan Benitez.

Komentar