Membandingkan Sepakbola dengan Lari Maraton

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Membandingkan Sepakbola dengan Lari Maraton

"Liga sepakbola itu seperti maraton, bukan sprint" adalah kutipan yang sangat umum. Kutipan itu adalah hubungan terdekat—walau secara tak langsung—antara sepakbola dengan lari maraton. Padahal sepakbola itu sama sekali berbeda dengan maraton; sebaliknya malah lebih mirip sprint. Namun jika membicarakan maraton, kita harus kembali menggali sejarah dari saat kalender masehi belum ada.

Ada satu peristiwa paling penting dalam sejarah Yunani kuno, yaitu Pertempuran Marathon (Battle of Marathon). Pada saat itu, tahun 490 Sebelum Masehi (SM), Yunani adalah salah satu kekuatan besar dunia di sisi Eropa. Menyeberangi Laut Aegea, ada Persia (Turki sekarang) sebagai salah satu kekuatan besar dari sisi Asia. Banyak riwayat sejarah berkata jika Persia saat itu jauh lebih kuat daripada Yunani.

Pertempuran Marathon adalah titik balik dalam invasi pertama Persia ke Yunani. Peristiwa ini terjadi pada 12 September 490 SM. Ini adalah puncak upaya pertama Persia, di bawah kekuasaan Raja Darius I, untuk menguasai Yunani; dan merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam perang Yunani-Persia.

Pada saat itu Darius I mengirim armada laut melintasi Laut Aegea, kemudian berlabuh di teluk dekat Kota Marathon. Meski kalah jumlah dari pasukan Persia, pasukan Athena berhasil menang. Untuk memberi kabar kemenangan Yunani tersebut, Pheidippides kemudian berlari dari Marathon menuju Yunani yang berjarak 25 mil (40,2336 kilometer). Sesampainya ia di Athena, kabar kemenangan pun berhasil tersampaikan, namun Pheidippides langsung tewas karena kelelahan.

Kisah heroik ini bertahan dari abad ke abad, yang kemudian menjadi inspirasi untuk lari maraton. Padahal secara historis, kisah Pheidippides ini tidak akurat.

Kisah Heroik Hasil Hoaks

Menurut Herodotos, sejarawan Yunani kuno, seorang pelari Athena bernama Pheidippides dikirim untuk berlari dari Athena menuju Sparta untuk meminta bantuan sebelum Pertempuran Marathon. Ia berlari sejauh lebih dari 225 kilometer dan tiba di Sparta sehari setelah ia berangkat. Herodotus hanya berkisah sampai Persia berhasil dikalahkan dan pasukan Yunani kembali ke Athena.

Namun di kemudian hari, cerita ini bercampur aduk dan menghasilkan suatu versi yang legendaris tapi tidak akurat. Isi ceritanya adalah bahwa Pheidippides berlari dari Marathon ke Athena seusai pertempuran untuk mengumumkan kemenangan pasukan Yunani dengan kata-kata "Nenikekamen!" ("Kita menang!"). Setelah itu dia tewas karena kelelahan, kemungkinan akibat serangan jantung. Ilustrasinya bisa dilihat di sini.

Sebagian besar catatan sejarah yang mengisahkan cerita ini secara tak tepat menyebutkan bahwa cerita ini bersumber dari Herodotos; pada kenyataannya, kisah ini pertama kali muncul dalam naskah On the Glory of Athens karya Plutarkhos pada abad ke-1 SM.

Plutarkhos mengutipnya dari karya yang hilang buatan Herakleides dari Pontos, yang menyebut nama pelari itu Thersipos dari Erkhios atau Eukles. Lukianos dari Samosata (abad ke-2 M) memberi kisah yang sama namun nama pelarinya Philippides (bukan Pheidippides). Dalam beberapa salinan naskah Herodotos dari Abad Pertengahan, nama orang yang berlari antara Athena dan Sparta sebelum pertempuran adalah Philippides dan dalam beberapa edisi modernnya nama ini lebih disukai.

Ketika gagasan mengenai Olimpiade modern menjadi kenyataan pada akhir abad ke-19, para pemrakarsanya melihat Pertempuran Marathon ini sebagai inspirasi untuk mengingat kembali kejayaan Yunani kuno. Ide pelaksanaan "lomba lari maraton" kemudian dikemukakan oleh Michel Bréal, yang menginginkan agar pertandingan itu disertakan dalam Olimpiade modern pertama pada 1896 di Athena.

Ide ini sangat didukung oleh Pierre de Coubertin—bapak Olimpiade modern—serta oleh masyarakat Yunani. Lomba lari ini menggemakan versi legendaris dari peristiwa yang bersangkutan, dengan para pesertanya berlari dari Marathon ke Athena. Lomba lari ini pun menjadi amat terkenal dan dengan cepat merebut perhatian sehingga menjadi bagian tetap dalam Olimpiade, dengan kota-kota besar menyelenggarakan lomba lari maraton tahunannya sendiri.

Pada akhirnya jarak tempuh resminya ditetapkan sejauh 26 mil 385 yard, atau 42,195 km, meski pada tahun-tahun awal jaraknya berbeda-beda namun dalam kisaran 25 mil (40 km), yang merupakan jarak rata-rata antara Marathon dan Athena.

Seberapa Jauh Lari Maraton? Apakah Pesepakbola Sanggup?

Sebagai ilustrasi, jarak lari maraton adalah sedikit lebih pendek daripada jarak dari Stadion Utama Gelora Bung Karno (Senayan) menuju Stadion Wibawa Mukti (Cikarang Timur). Jika menggunakan mobil, jarak tersebut bisa dicapai dengan waktu kurang lebih 1 jam 10 menit. Bagaimana jika berlari?

Johnny Hayes (Amerika Serikat) menjadi juara maraton 1908 dengan waktu 2 jam 55 menit 18 detik. Sementara lebih dari satu abad kemudian, Dennis Kimetto (Kenya) berhasil mencatatkan waktu 2 jam 2 menit 57 detik pada 2014. Itu adalah catatan waktu yang luar biasa cepat, menandakan manusia berlari semakin kencang.

Bagaimana lari maraton jika dibandingkan dengan sepakbola?

Menurut Gizmodo dan STATS, sepakbola adalah salah satu olahraga yang atletnya bisa menempuh jarak lari sangat jauh, lebih jauh daripada olahraga lainnya seperti rugbi, bola basket, bisbol, dan tenis. Seorang gelandang tengah dan full-back bisa menempuh jarak 11 sampai 15 km dalam 90 menit.

Di Liga Primer Inggris 2014/15, James Milner pernah mencatatkan rekor jarak terkaver (distance covered) sejauh 13,56 km. Kemudian bagi yang penasaran dengan N`Golo Kante, ia "hanya" mencatatkan rata-rata 11,62 km pada 2016/17. Melihat angka-angka yang sebenarnya luar biasa di atas, ternyata itu semua tidak seberapa jika dibandingkan dengan para pelari maraton.

Meski perhitungannya tidak bisa sembarangan, mari kita hitung berdasarkan kecepatan rata-rata. Menggunakan kecepatan rata-rata di atas, Kimetto bisa menempuh setidaknya 30 km dalam 90 menit jika ia hanya berlari tanpa henti. Sementara dengan formula yang sama, Kante butuh lebih dari 5 jam untuk menyelesaikan lari maraton.

Kalau perhitungan di atas tidak memuaskan, maka supaya adil, mari kita lihat pesepakbola yang pernah ikut lari maraton sungguhan.

Pavel Nedved menyelesaikan Prague Marathon 2012 dengan waktu 3 jam 50 menit 2 detik. Catatan tersebut sedikit lebih lambat dibandingkan Michael Owen yang pernah mencatatkan waktu 3 jam 45 menit 43 detik pada London Marathin 2014. Namun keduanya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Luis Enrique yang finis Florence Marathon 2007 dengan waktu 2 jam 58 menit 8 detik.

Sebenarnya pelari maraton dan pesepakbola adalah dua atlet yang sama sekali berbeda. Pesepakbola tidak hanya berlatih lari. Kalaupun latihan lari, jenisnya adalah latihan interval, yaitu campuran antara jogging/jalan dengan sprint, karena irama permainan sepakbola bisa turun dan naik setiap waktu.

Sebaliknya, pelari maraton biasa latihan daya tahan tinggi. Mereka berlari tak terlalu cepat dan tak terlalu lambat (hampir tidak pernah jogging/jalan dan sprint) dalam waktu yang panjang. Hal ini membuat kita tak bisa membandingkan pelari maraton dengan pesepakbola secara sembarangan.

***

Lari maraton memiliki jarak 42,195 km; yang mana adalah jarak yang sangat jauh. Membayangkan atlet harus berlari menempuh jarak sejauh itu, rasanya membuat ingin pingsan. Lari maraton adalah warisan berharga dari Pertempuran Marathon yang terjadi pada 12 September 490 SM.

Kekalahan Persia di Marathon menandai akhir invasi pertama Persia di Yunani, dan pasukan Persia terpaksa mundur kembali ke Asia. Pertempuran ini juga menunjukkan bahwa Persia dapat dikalahkan. Kemenangan-kemenangan Yunani selanjutnya juga dapat dilihat berawal dari pertempuran ini.

Selama dua abad selanjutnya, peradaban Yunani kuno mengalami kebangkitan, sehingga Pertempuran Marathon sering dianggap sebagai peristiwa yang amat penting dalam sejarah Eropa.

Meski kisah heroik Pheidippides—seorang pembawa pesan Yunani yang berlari dari Marathon ke Athena dengan membawa berita kemenangan—secara historis tidak akurat, kisah tersebut menjadi inspirasi bagi perlombaan maraton yang diperkenalkan di Olimpiade Athena 1896.

Komentar