Peran Media Sosial dalam Mencegah Bunuh Diri

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Peran Media Sosial dalam Mencegah Bunuh Diri

Aku seorang mantan pesepakbola. Setidaknya begitu yang mereka tulis tentang diriku. Sebelum memutuskan pensiun dini dan mengakhiri karier lebih cepat, aku sempat berpikir untuk mengakhiri hidup yang malang ini.

Sepakbola lebih dari sekadar pertandingan dan kenyataannya memang seperti itu. Aku jadi kaya raya berkat sepakbola. Padahal dulu aku tinggal dan besar di kawasan kumuh. Kemampuan meliuk-liuk di atas lapangan cukup membuat para pencari bakat tertarik lantas mengontrak jasaku. Aku dibayar cukup mahal waktu itu. Diberi fasilitas kelas satu, mulai dari rumah hingga mobil mewah.

Dengan semua yang kupunya, sontak teman-temanku bertambah banyak. Mereka semua orang-orang kaya yang menyanjung dan memuji karierku yang cemerlang. Dari sana aku mengenal seorang perempuan cantik jelita yang kemudian aku nikahi. Sumpah mati aku jatuh cinta kepadanya.

Namun semua itu hanya sementara. Semua yang kumiliki perlahan lenyap karena kesalahan yang kuperbuat dalam satu pertandingan. Hari itu aku bermain di laga penentuan. Kesebelasan yang kubela harus memenangi laga itu agar kami tidak terdegradasi ke divisi bawah. Pada menit ke-80 aku dilanggar di kotak penalti dan wasit meniup peluit sembari menunjuk titik putih. Aku sendiri yang ditugaskan sebagai eksekutor.

Aku sadar beban yang berada di pundak, maksudnya di kakiku, waktu itu. Aku harus menceploskan bola ke gawang lawan. Tidak bisa tidak karena kedudukan masih 0-0 dan itu adalah peluang terbesar bagi kami untuk meraih kemenangan dan, yang terpenting, terhindar dari zona degradasi. Apalagi waktu menunjukkan menit-menit akhir. Sebuah kesempatan emas yang seharusnya aku manfaatkan dengan baik.

Namun apa daya, takdir berkata lain. Aku terlalu keras menyepak bola, sehingga bola melambung entah ke mana. Aku tertunduk lesu, pemandangan kontras tersaji di muka. Kiper lawan kegirangan karena gawangnya masih perawan. Ia dihampiri oleh rekan-rekan satu tim. Sang kiper dipeluk, dicium, padahal ia tidak menyelamatkan mereka. Justru aku yang menyelamatkan mereka dari kekalahan.

Akan tetapi aku dibiarkan lemas sendirian. Tiada satu pun pemain yang menghampiri. Aku sadar mereka kecewa. Lantas aku bangkit karena masih ada sepuluh menit tersisa. Namun itu adalah sepuluh menit yang paling menyakitkan dalam hidupku. Saat-saat aku sudah tidak bisa konsentrasi ke pertandingan karena pikiran ku selalu memutar adegan kegagalan tendangan penalti.

Wasit akhirnya meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Belakangan aku sadar, peluit itu pula yang mengakhiri karierku sebagai pesepakbola. Aku melihat sekeliling. Hanya ada raut wajah penonton yang kecewa. Ingin rasanya aku meminta maaf atas perbuatan yang sesungguhnya aku sesali. Namun sepertinya mereka terlanjur kecewa karena hasil imbang dan tambahan satu poin saja tidak cukup menyelamatkan kami dari degradasi. Saat berjalan ke ruang ganti, terdengar ragam caci maki yang keluar dari mulut mereka. Aku dihujat ketika sedang rapuh-rapuhnya.

Di ruang ganti pemain, keadaannya jauh lebih menyakitkan. Mereka saling berbisik dan pandangan ketus menusuk tubuh dan jiwaku. Tiada satu pun yang mau berdekatan, dianggapnya aku ini wabah yang haram untuk disentuh.

Pulang ke rumah, aku menghela nafas panjang. Aku coba buang perasaan kalut yang berkecamuk di dada. Sampai aku sadari, rumah yang kuhuni telah kosong melompong. Istri dan anak-anakku pergi begitu saja ketika aku sedang butuh mereka. Aku kaget saat membuka ponsel dan istriku mengirim pesan “kami pergi ke tempat yang lebih aman karena tadi rumah kita diteror oleh puluhan suporter.”

Tidak berhenti sampai di situ, aku juga dikirimi pesan dari nomor yang tidak dikenal. Mereka kompak menyatakan rasa kecewa dan tak jarang melayangkan ujaran kebencian disertai ancaman pembunuhan. Lantas aku pindah ke media sosial.

Aku berniat membuat permintaan maaf secara terbuka, tapi aku keburu membaca ratusan pesan dan komentar yang isinya sama sekali mengerikan. Alih-alih membalas serangan mereka, aku justru diam karena sadar itu adalah reaksi mereka atas kesalahan yang kuperbuat. Aku membayangkan andai saja tendangan tadi berbuah gol, mungkin kondisinya tidak akan seperti ini.

Pihak klub merugi karena sponsor-sponsor pergi. Alhasil mereka berhemat dengan cara melepas para pemain yang bergaji tinggi. Aku salah satunya. Hari demi hari aku jalani dengan penuh penyesalan. Yang tersisa tinggallah botol-botol minuman keras. Tidak jarang disertai beberapa butir pil penenang.

Sejak tragedi di kotak penalti itu aku memang tidak pernah tenang. Aku coba tidur tapi tidak bisa. Malam pertama adalah yang terburuk, karena suara teriakan dan caci maki menyesaki kepalaku. Aku sempat berteriak sekuat tenaga untuk mengalahkan suara-suara itu, tapi sia-sia belaka. Jantungku berdegup sangat kencang. Mataku awas karena takut rumahku dibakar seperti yang tertulis di kolom komentar. Aku benar-benar kacau malam itu.

Aku ketakutan karena saat itu aku sendirian. Aku hubungi siapa saja mulai dari istri hingga teman-temanku yang sering pesta kecil-kecilan di belakang rumah. Semua tidak menjawab, hanya ada dering yang mendengung tanpa suara manusia di ujung ponsel. Aku benar-benar kacau dan kekacauan itu setidaknya bertahan hingga malam kesekian sampai aku memberanikan diri untuk menghubungi psikiater.

Sebelum psikiater datang menolong, aku layaknya mayat yang berjalan. Kantung mata tebal karena selalu terjaga sepanjang malam, rambut berantakan, dan bobot tubuh yang menurun drastis karena tidak pernah makan. Suatu hari aku pernah berjalan ke pasar swalayan untuk membeli telur dan buah-buahan. Namun aku sadari itu adalah sebuah kesalahan.

Bagaimana tidak? orang-orang melihatku dengan tatapan yang kurang bersahabat. Aku dengar mereka berbisik, “bukankah dia biang kerok yang bikin tim kita degradasi?” Mereka bahkan bergunjing tentang anak dan istri yang pergi meninggalkanku. Kurang ajar betul, tapi aku hanya ingin makan sesuatu hari itu. Seorang pelayan toko bahkan tidak mengucapkan selamat pagi. Padahal sebelum tragedi itu, aku sering berkunjung ke sana dan mendapat sambutan paling hangat.

Segalanya telah direnggut dari kehidupanku hanya karena tendangan bodoh itu. Sekali lagi, ketahuilah, aku amat menyesali perbuatan itu. Aku juga merasa terpukul dan tak henti-hentinya menyalahkan kakiku yang busuk.

Pernah pada suatu siang, aku bicara dengan kakiku sendiri. Entah siapa yang memulai percakapan itu tapi aku ingat pernah mengambil palu lantas memukuli si biang kerok. Ya, itu saat-saat paling krusial ketika kakiku bicara kepadaku tentang kegagalan dan mulai mengomentari caraku mengambil tendangan penalti.

Aku tak ingat persis berapa lama aku hantam kaki brengsek ini dengan palu. Aku kira cukup lama sampai aku puas melihat darah bercucuran dari sana. Aku bahkan sempat melihat ada sedikit tulang menyembul di antara lutut dan tulang kering. Aku senang karena akhirnya si biang kerok menerima ganjarannya. Namun aku belum puas karena aku masih punya satu kaki lagi. Bukan tidak mungkin yang sebelah lagi akan bicara kepadaku dan mulai ceramah tentang olahraga yang seharusnya tidak kumainkan.

Saat aku bersiap menghantam kaki yang sebelah lagi, bel pintu berbunyi. Dengan pincang aku seret si biang kerok dan membuka pintu. Ternyata mereka bukan anak ataupun istriku seperti yang aku harapkan. Mereka orang yang semalam aku hubungi dan mengaku sebagai dokter jiwa. Andai saja mereka adalah polisi, mungkin aku sudah minta ditembak mati saat itu juga.

Bicara maut, aku sempat membaca sebuah artikel tentang bunuh diri. WHO bilang bahwa setiap tahun ada lebih dari delapan ratus ribu orang bunuh diri. Itu merupakan jumlah yang tidak sedikit dan aku hanyalah statistik yang berguna untuk penelitian mereka. Aku bukan lagi orang yang istimewa. Aku hanyalah orang yang bakal mati tiap empat puluh detik karena bunuh diri. Bukankah banyak orang-orang seperti diriku?

Gary Speed juga pesepakbola yang tentu saja hebat mengingat dirinya adalah pemegang rekor jumlah penampilan terbanyak di Liga Inggris bersama Ryan Giggs waktu itu. Speed pernah bermain di sejumlah klub divisi utama seperti Everton, Newcastle United, Bolton Wanderers, dan Sheffield United. Bahkan di level timnas, ia menjabat sebagai kapten Wales.

Namun akhirnya ia memilih mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di rumahnya. Padahal saat itu ia menjabat sebagai Manajer Timnas Wales. Alasan di balik insiden tragis itu masih jadi misteri mengingat pada malam sebelumnya, Speed masih tampil di acara Football Focus yang menjadi program televisi milik BBC One.

Selain itu, ada nama Paul Vaessen yang pada Agustus 2001 tewas bunuh diri di bak mandi dengan mengonsumsi heroin yang terlalu banyak. Paul dikenal sebagai pemain Arsenal yang terkenal berkat gol kemenangan yang ia cetak ke gawang Juventus pada semifinal Piala Winners 1980. Namun sayangnya, kegemilangan itu tidak bertahan lama karena di musim berikutnya ia cedera.

Kenyataan pahit bahwa dirinya tidak bisa pulih seratus persen dari cedera memaksa Paul gantung sepatu. Beberapa pekerjaan sempat digeluti, mulai dari tukang pos hingga buruh bangunan. Namun ia belum berdamai dengan keadaan lalu menjadikan narkoba sebagai pelarian. Meski ia sempat ditangani oleh psikiater agar terbebas dari belenggu stres dan tetap melanjutkan hidupnya.

Aku juga sempat menggunakan jasa psikiater. Seluruh masalah kuceritakan seutuhnya. Ia berkesimpulan bahwa aku telah mengalami perundungan massal di media sosial. Sehingga bukan area kotak penalti yang ku hindari, tapi komentar-komentar negatif di media sosial.

Lantas aku bertemu dengan David Lester, seorang profesor psikologi di salah satu kampus di New Jersey yang juga mantan presiden Asosiasi Internasional Pencegahan Bunuh Diri. Lester pernah meneliti bahwa terdapat sepuluh persen atlet Olimpiade mengalami intimidasi dan pelecehan seksual. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa pelatih dinyatakan bersalah atas kejahatan pelecehan seksual, perpeloncoan, dan penindasan, yang sialnya jadi bagian dari budaya olahraga. Sekali lagi, menurut Lester, pengalaman ini merupakan faktor pendukung mengapa atlet memutuskan untuk bunuh diri.

Aku memang tidak mengalami pelecehan seksual, tetapi aku mengalami penindasan secara batin. Mungkin aku lemah karena atlet harus memiliki jiwa yang besar saat dirinya sedang berada di titik terendah. Namun yang harus dipahami, tidak ada satu pun individu yang merasa nyaman ketika ia membaca ancaman pembunuhan dan diolok-olok hingga menyinggung batas kemanusiaan.

Kata seorang psikiater aku mengalami depresi hebat. Kakiku yang tulangnya sudah retak adalah pelampiasan dari depresi itu. Aku dihantui perasaan bersalah. Suatu gejala awal yang pada akhirnya memicu depresi.

Keadaan diperparah karena aku dianggap terlalu memendam semua masalahku. Lucu juga dia berkata begitu. Pertama, aku tak punya siapa-siapa untuk diajak bicara. Kedua, bagaimana mungkin kau bisa bicara jika sekeliling sudah menghakimi yang tidak-tidak. Bentuk penghakiman terhebat hadir dalam bentuk serangkaian teks di media sosial.

Akun-akun di media sosial telah ditutup. Aku sudah tidak lagi membaca komentar-komentar pedih itu. Namun kata si dokter, itu bukan cara yang ampuh untuk sembuh total. Atas inisiatif beberapa aktivis kejiwaan dan pencegahan bunuh diri, beberapa orang akhirnya menggalang petisi online sebagai bentuk dukungan untuk diriku. Mereka berpikir, jika aku sakit karena gelembung di media sosial, maka gelembung yang sama juga yang semestinya menyembuhkan dan menyelematkan nyawaku.

Psikiater muda menyerahkan ponselnya kepadaku sekaligus meminta untuk membaca semua dukungan dari warganet. Awalnya aku merasa aneh tapi lama-kelamaan aku terharu karena beberapa dari mereka sungguh-sungguh menyesal telah berkata jahat. Untuk sesaat aku lega dan menyesal pernah berpikir untuk bunuh diri. Meski demikian, aku tidak akan pernah lupa kebodohan hari itu.

Yang ingin aku katakan adalah, para atlet terutama pesepakbola juga manusia. Mereka sangat mungkin melakukan kesalahan. Mungkin kami sangat terluka dan menyesali kesalahan itu, sehingga komentar-komentar pedas sesungguhnya tidak akan membantu kami. Meskipun media sosial adalah dunia maya, tapi efeknya terasa begitu nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar