Sosok Paling Makiavelis di Lapangan Hijau

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Sosok Paling Makiavelis di Lapangan Hijau

Niccolò Machiavelli adalah diplomat dan politikus Italia yang juga seorang filsuf. Sebagai ahli teori, Machiavelli adalah figur utama dalam realitas teori politik, ia sangat disegani di Eropa pada masa Renaisans.

Dua bukunya yang terkenal, Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio (Diskursus tentang Livio) dan Il Principe (Sang Penguasa), awalnya ditulis sebagai harapan untuk memperbaiki kondisi pemerintahan di Italia Utara, namun kemudian menjadi buku umum dalam berpolitik pada masa itu.

Il Principe adalah karyanya yang paling terkenal, yang menguraikan tindakan yang bisa atau perlu dilakukan seseorang untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan.

Berkat pemikirannya ini, nama Machiavelli kemudian diasosiasikan dengan hal yang buruk, untuk menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Orang yang melakukan tindakan seperti ini disebut makiavelis.

Di sepakbola, menghalalkan segala cara ini sudah menjadi hal umum mulai dari pemain (bertindak curang), manajer atau pelatih (mengenai cara bermain anti-sepakbola), penonton (dalam mendukung kesebelasan secara keliru), bahkan sampai pejabat kesebelasan dan federasi (soal korupsi). Namun dari semua sosok, setidaknya ada satu yang paling makiavelis di atas lapangan: Marco Materazzi.

Sama seperti Machiavelli, Materazzi lahir di Italia. Jika Machiavelli lahir di Florence, Materazzi lahir di Lecce pada 19 Agustus 1973. Bukan kebetulan Lecce dijuluki sebagai kota "Florence of the South".

Sejujurnya Materazzi bukan sosok yang disukai banyak orang. Pada sebuah jajak pendapat di France Football pada 2016, Materazzi menempati urutan pertama sebagai "Pesepakbola Paling Dibenci". Lutut Benni McCarthy, kepala Filippo Inzaghi, dan titit Andriy Shevchenko adalah daerah-daerah yang merasakan langsung sentuhan pul sepatu Materazzi.

Saat ia bermain di Everton pada 1998/99, Materazzi sampai mendapatkan empat kartu merah hanya dari 27 pertandingannya di Inggris; sampai-sampai ia sering liburan ke Italia karena sering mendapatkan hukuman bertanding. "[Kartu-kartu merah] itu tak benar-benar buruk, soalnya aku jadi bisa pulang ke Italia!" kata pemain yang dijuluki Matrix itu sambil bercanda kepada FourFourTwo.

Namun dari semua itu, ada satu alasan kuat kenapa ia mendapatkan gelar "Pemain Paling Dibenci", yaitu karena apa yang terjadi pada dirinya dan Zinedine Zidane di final Piala Dunia 2006. Tak heran juga, gelar itu diberikan oleh Football France yang asalnya dari Perancis, negara yang dibela Zidane.

"Aku selalu mengenalinya (Zidane) karena setahuku, ia menolong timnya untuk kalah. Sementara aku menolong timku menang," kata Materazzi, mengenang kejadian itu sambil terus menyayangkan kenapa orang-orang lebih mengingat kejadian tandukan Zidane kepada Materazzi daripada gol tandukannya untuk menyamakan kedudukan, atau bahkan aksi cerobohnya yang menyebabkan Perancis mendapatkan penalti pada gol pertama.

Banyak versi yang mengatakan jika Zidane menanduk Materazzi karena Matrix mengejek ibu dan saudara perempuan Zidane. Namun Materazzi sempat mengaku kepada Marca pada 2016: "Apa yang kukatakan memang bodoh, tapi tak seharusnya sampai dapat reaksi seperti itu. Kamu bisa mendengar kata-kata yang lebih kasar di jalanan Naples, atau Milan, atau Paris, kata-kata yang lebih kasar dan serius."

"Ibuku meninggal ketika aku berusia 15 tahun, aku tak akan pernah mengejek ibunya," katanya. "Aku berkata-kata soal saudara perempuannya."

Sejujurnya ibu dan adik/kakak perempuan memang tak pantas untuk diejek, bahkan ketika bercanda sekalipun. Namun setidaknya untuk Materazzi, momen itu benar-benar menunjukkan momen paling makiavelis di atas lapangan hijau, di pertandingan paling penting pula.

Ia melakukan hal yang cukup untuk memprovokasi lawannya. Berkaca kepada perspektif Materazzi, ia berkata benar dengan menyebut Zidane sudah menolong timnya untuk kalah. Materazzi telah menghalalkan segala cara untuk menang. "Jika insiden itu terjadi dengan Eric Cantona, kami pasti akan minum-minum bir setelah itu," katanya.

Baca juga soal insiden itu dari perspektif Zidane: Zidane Hanya Seorang Manusia

Sampai saat ini, apa pun yang kita pikirkan mengenai dirinya, Materazzi tidak peduli. Gelar juara Piala Dunia, Liga Champions, Serie A Italia, Coppa Italia, Supercoppa Italiana, Piala Dunia Antarklub, sampai Liga Super India adalah bukti sahih kegemilangan karier Materazzi.

Bagi Materazzi, soal makiavelis dan pelajaran moral, masih ada yang lebih parah daripada dirinya yang menghalalkan segala cara bahkan secara terang-terangan di kehidupan sekitar kita; terutama kalau sudah membicarakan soal politik. Secara tidak langsung, di saat ia dianggap sebagai pemain paling dibenci, secara bersamaan juga Materazzi dianggap sebagai sosok terdekat yang mencerminkan tetek bengek drama kehidupan, di mana ia menjadi pahlawannya; setidaknya untuk Internazionale Milan dan Italia.

Komentar