Romantisme Kejayaan Arema di Pentas Sepakbola Indonesia

Backpass

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Romantisme Kejayaan Arema di Pentas Sepakbola Indonesia

Bagi publik sepakbola Malang, Arema adalah ikon kebanggaan. Sejak didirikan pada 11 Agustus 1986, Arema sudah menjadi medan magnet yang menyita perhatian publik Kota Apel yang gila bola itu, karena berbagai pencapaian membanggakan yang diukir di pentas sepakbola nasional.

Kehadiran Arema ibarat oase di tengah surutnya prestasi tim sepakbola asal Malang di kancah nasional. Terlebih saat Singo Edan sukses meraih gelar juara di kompetisi Galatama 1992/93. Malang sejatinya memiliki Persema yang lahir pada 1953. Namun, prestasi terbaik yang diukir klub berjuluk Bledeg Biru itu hanya juara Piala Suratin edisi pertama pada 1960.

***

Arema lahir atas keinginan kuat dari Brigjen (Pur) Acub Zaenal untuk melihat kiprah tim sepakbola Malang di Kompetisi Galatama. Besarnya animo masyarakat Malang terhadap sepakbola menjadi alasan. Masyarakat Malang kala itu sering berbondong-bondong datang ke Surabaya untuk menyaksikan NIAC Mitra Surabaya bertanding di kompetisi Galatama.

Tak hanya itu, dilansir dari We Aremania, dalam satu kesempatan Acub menyaksikan laga Persema di Kompetisi Perserikatan. Tingginya animo penonton membuat Acub yang berstatus sebagai administrator Galatama pun semakin menggebu untuk mendirikan klub Galatama yang berbasis di Malang.

Langkah pertama Acub untuk membentuk klub sepakbola adalah dengan mengutus putaranya, Lucky Acub Zaenal, bertemu dengan Ovan Tobing, Humas Persema Malang. Kepada Ovan, Lucky pun menyampaikan keinginan Ayahnya itu.

Ovan menyambut baik keinginan tersebut. Ia lantas menggandeng Dirk Soetrisno, pemilik klub Armada 86, untuk merjer bersama Arema. Nama Aremeda (akronim dari Arema dan Armeda) pun dipilih sebagai identitas klub saat itu. Walaupun begitu, nama Armeda tak langgeng dan beberapa bulan kemudian diganti menjadi Arema 86.

Kelahiran Arema 86 tak berlangsung mulus. Beberapa kali klub didera masalah keuangan. Kondisi tersebut membuat Acub Zaenal beserta putaranya Lucky pun turun tangan. Keduanya berusaha menyelamatkan Arema 86 agar bisa berkompetisi di Galatama.

Berbagai perubahan mulai dilakukan, salah satunya dengan mengubah nama Arema 86 menjadi Arema. Selain itu, ditetapkan pula berdirinya Arema Galatama pada 11 Agustus 1987, sesuai dengan akte notaris Pramu Haryono SH. Tanggal penetapan itu juga menjadi asal muasal singa menjadi julukan Arema.

"Penetapan tanggal 11 Agustus 1987 itu seperti air mengalir saja, tidak berdasar penetapan (pilihan) secara khusus. Agustus itu kan Leo atau Singo (sesuai dengan horoskop)," Kata Ovan, disadur dari We Aremania.

Juara Galatama

Arema rutin berpartisipasi di Kompetisi Galatama sejak 1987. Singo Edan mampu bertahan untuk memanaskan persaingan meski sering didera masalah finansial.

Kejayaan bagi Arema akhirnya tiba pada gelaran Galatama 1992/93. Kala itu, Arema yang diperkuat pemain-pemain seperti Aji Santoso, Joko Susilo, hingga Singgih Pitono sukses meraih gelar juara Galatama untuk kali pertama dalam sejarah.

Perjalanan yang ditempuh Arema untuk menjadi juara kala itu penuh lika-liku. Tampil beringas selama putaran pertama, Arema berhasil menduduki posisi runner-up di klasemen sementara. Saat kans untuk meraih gelar juara ada di depan mata, Arema justru ditinggal oleh M Basri, pelatih yang mendongkrak performa Arema kala itu. Basri memutuskan pergi ke Mitra Surabaya dengan alasan ingin lebih dekat dengan keluarganya.

Kepergian Basri sempat menimbulkan kekhawatiran dari Arek Malang yang terlanjur menggantungkan harapan juara kepadanya. Namun kekhawatiran yang sempat muncul itu pun tak berbuah nyata. Arema tetap melaju di bawah arahan Gusnul Yakin hingga akhirnya merengkuh gelar juara di akhir kompetisi.

Gelar juara yang diraih Arema kala itu terbilang dramatis. Dalam perburuan gelar juara, Arema bersaing sengit dengan PKT Bontang. Di tabel klasemen, perolehan poin kedua kesebelasan berselisih tipis.

Arema akhirnya memastikan gelar juara setelah PKT kalah 0-1 dari Barito Putera pada 29 Juli 1993. Kekalahan PKT membuat perolehan poin Arema tidak lagi bisa dikejar, walau kompetisi saat itu masih menyisakan satu pertandingan.

Gelar juara Galatama 1992/93 tak dimungkiri melambungkan nama Arema di pentas sepakbola nasional. Khususnya bagi publik Malang, prestasi tersebut menjadi sebuah kebanggaan yang tak ternilai. Bagaimana tidak, setelah berpuluh tahun masyarakat Malang merasakan dahaga prestasi, Arema pun datang untuk menuntaskannya.

Juara Copa Indonesia dan Liga Super Indonesia

Pasang surut prestasi mulai dialami Arema setelah meraih gelar juara di pentas Galatama 1992/93. Di Galatama musim 1993/94, Arema hanya mampu menduduki posisi keenam di klasemen akhir. Saat kompetisi sepakbola Indonesia berubah wajah menjadi Liga Indonesia (ditandai dengan meleburnya Kompetisi Galatama dan Perserikatan) pada 1994/95, prestasi Arema tak kunjung meningkat.

Dari sembilan edisi Liga Indonesia yang diikuti, prestasi terbaik Arema adalah lolos ke babak delapan besar (1999/00, 2000/01, dan 2002/03). Puncak dari naik-turunnya prestasi Arema pun kentara pada musim 2003/04, saat mereka harus terdegradasi ke Divisi 1.

Semusim Arema berkutat di Divisi 1. Arema kembali ke level tertinggi sepakbola Indonesia setelah meraih gelar juara Divisi 1 2004/05. Bisa dibilang, keberhasilan tersebut menjadi awal dari kebangkitan Arema yang sebelumnya terpuruk. Pasalnya dalam rentang tahun 2005 hingga 2006 mereka mampu mengukir pencapaian yang tak kalah mengagumkan di Piala Indonesia.

Gelar pertama di turnamen domestik Indonesia itu diraih Arema saat mereka berhasil mengalahkan Persija Jakarta 4-3 di partai final yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada 19 November 2005. Selang setahun kemudian, di Gelora Delta Sidoarjo, tim asuhan Benny Dollo itu kembali menjadi jawara Piala Indonesia setelah mengalahkan Persipura Jayapura dua gol tanpa balas di partai puncak.

Setelah menjadi juara dalam dua edisi Piala Indonesia secara beruntun, prestasi Arema memang menunjukkan penurunan, terlebih di kompetisi domestik. Di gelaran Liga Super Indonesia (LSI) edisi pertama pada musim 2008/09, Arema harus puas mengakhiri kompetisi di urutan ke-10.

Namun cerita kemudian berubah semusim kemudian. Arema yang kala itu diasuh Roberts Rene Albert secara mengejutkan mampu menjadi jawara LSI 2009/10. Tidak ada yang memprediksi sebelumnya Arema bisa juara, karena kala itu Singo Edan banyak dirundung masalah. Salah satunya permasalahan pengelolaan, karena kala itu Arema baru dilepas Bentoel. Bahkan, ada wacana bahwa Arema akan merjer dengan Persema saat itu. Selain itu, Arema pun saat itu dihuni banyak pemain muda seperti Dendi Santoso, Ahmad Bustomi, Benny Wahyudi, Purwaka Yudi, hingga Kurnia Meiga.

Arema bahkan hampir saja meraih gelar ganda kala itu setelah memastikan lolos ke final Piala Indonesia 2010. Akan tetapi di partai puncak mereka dikalahkan Sriwijaya FC 1-2.

***

Setelah menjuarai ISL 2009/10, Arema belum lagi merasakan gelar juara di pentas tertinggi sepakbola nasional. Tak hanya itu, perjalanan Arema di kompetisi mengalami banyak problema. Saat kompetisi sepakbola Indonesia mengalami dualisme di tahun 2012, Arema pun turut terbelah dua; Arema Indonesia yang bermain di Liga Premier Indonesia (LPI) dan Arema Cronus yang berkompetisi di LSI.

Seiring dengan meredupnya kompetisi LPI, nama Arema Indonesia pun ikut meredup. Pamor Arema Cronus terang saja terus menanjak.

Belakangan, Arema Cronus pun mengubah identitasnya menjadi Arema FC. Sementara dalam Kongres PSSI di Bandung pada 2017 lalu, di putuskan bahwa status Arema Indonesia dipulihkan. Sehingga kini ada dua Arema yang bermain di dua kompetisi berbeda. Arema FC di Liga 1, sementara Arema Indonesia di Liga Nusantara (sekarang di Liga 3).

Komentar