Mengawali Senyum di Paris

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Mengawali Senyum di Paris

Sebelum Nasser Al-Khelaifi membeli Paris Saint-Germain (PSG), hampir tak ada pemain bintang yang mau membela kesebelasan ini. Namun ternyata 10 tahun sebelum PSG menjadi kesebelasan tajir, ada satu pemuda Brasil yang kemampuan olah bolanya ramai diperbincangkan memilih Paris sebagai kesebelasan pertamanya di Eropa. Pemuda tersebut bernama Ronaldo de Assis Moreira.

Sejak 1998 Ronaldinho menjadi buah bibir. Saat itu ia masih bermain di kesebelasan pertama sekaligus kesebelasan kota kelahirannya, Gremio. Salah satu momen paling diingat oleh publik Brasil adalah ketika pemuda 18 tahun kelahiran Porto Alegre tersebut bermain di final kejuaraan sepakbola negara bagiannya pada 1999.

Saat itu Gremio menghadapi Internacional yang dipimpin oleh Kapten Tim Nasional Brasil sekaligus juara dunia, Dunga. Tidak tanggung-tanggung, Ronaldinho menunjukkan aksi olah bolanya dengan mengelabui Dunga sampai dua kali.

Ramainya perbincangan mengenai aksi Ronaldinho semakin memuncak saat ia mencetak gol indah pada Copa America melawan Venezuela. Sejak dua kejadian itu, Ronaldinho semakin lancar memainkan trik-triknya di atas lapangan untuk membuat semua orang terkagum-kagum.

Di musim terakhirnya bersama Gremio, yaitu pada 2000, Ronaldinho mencetak 41 gol dari 49 penampilan. Tak heran kemudian banyak kesebelasan Eropa yang ingin membelinya, mulai dari Real Madird, Barcelona, Internazionale Milan, AC Milan, Borussia Dortmund, Arsenal, sampai Leeds United yang saat itu dikabarkan mengajukan tawaran 42 juta paun (rekor pembelian termahal saat itu 37 juta paun).

Presiden Gremio tak berniat menjual pemain bintangnya tersebut, sampai-sampai ia menuliskan "Kami tak menjual pemain terbaik kami" pada spanduk besar di depan pintu masuk lapangan latihan kesebelasannya.

Pada 2001, Ronaldinho akhirnya dikabarkan akan bergabung dengan Arsenal. Namun kesepakatan batal karena Ronaldinho tak berhasil mendapatkan izin kerja karena saat itu ia adalah pemain non-EU (Uni Eropa) yang tak cukup banyak bermain bagi negaranya, Brasil. Kepindahannya ke The Gunners sempat ingin diakali dengan peminjaman ke St Mirren, tapi itu tak pernah terjadi karena ada skandal paspor palsu di Brasil saat itu. Akhirnya Ronaldinho menunda kepindahannya ke Eropa, tapi tidak untuk waktu yang lama.

Ronaldinho sendiri berpendapat jika pindah ke Eropa bisa menjadi kunci sukses jangka panjangnya. Namun mengingat pada musim panas 2002 Brasil akan bermain di Piala Dunia, ia ingin bermain bagi kesebelasan yang bisa menjaminnya sebagai pemain utama.

Singkatnya, ia memilih Paris dengan alasan strategis. Akan tetapi ini versi panjangnya: ia memilih PSG dengan alasan yang sedikit personal.

Masalah-masalah Jelang Debutnya di Paris

Sebelum Ronaldinho pindah ke PSG, kakaknya sudah terlebih dahulu bermain di Montpellier. Jadi, keluarganya bisa pindah ke Perancis dengan senang hati dong? Masalahnya, ia pindah ke PSG secara cuma-cuma, padahal ia sudah tergolong pemain terkenal pada masa itu meski masih berusia 21 tahun.

Pemain murah senyum ini bisa pindah secara gratis karena kontraknya telah habis di Gremio. Presiden Gremio, Jose Guerreiro, geram karena ia tak bisa mendapatkan uang penjualan Ronaldinho. Ada teori populer di Porto Alegre yang mengatakan jika kepindahan Ronaldinho ke PSG adalah bagian dari rencana balas dendam sang kakak (yang kemudian menjadi agennya).

Pada awal 1990-an, sang kakak pernah menjadi bagian dari Gremio, tapi dipaksa pindah dengan tak memperpanjang kontraknya karena mengalami cedera parah. Jadi, Ronaldinho juga pindah dari Gremio dengan cara yang sama: kontrak yang tak diperpanjang.

"Aku baru tahu ia pindah setelah baca berita di situs web PSG. Padahal kami sedang negosiasi untuk memperbarui kontrak Ronaldinho, dan PSG tak pernah mengontak kami," kata Guerreiro.

Kasus tersebut kemudian dibawa-bawa ke FIFA, yang membuat Ronaldinho tak boleh bermain sampai kasusnya selesai. Sejak awal 2001, ia latihan sendirian sambil belajar bahasa Perancis di Rio. Meski demikian Ronaldinho dinyatakan resmi pindah ke PSG pada April. Ia mendapatkan nomor punggung 21 dan bermain satu kesebelasan bersama Jay-Jay Okocha, Nicolas Anelka, Mauricio Pochettino, Gabriel Heinze, Mikel Arteta, serta dua pemain Brasil lainnya, Aloisio dan Alex Dias.

FIFA baru mencabut sanksi Ronaldinho pada awal Agustus, ketika Liga Perancis memainkan pekan pertandingan kedua. "Ketika aku bisa bermain, semuanya berubah," kata Ronaldinho. Ronaldinho menjalani debut pada 4 Agustus 2001 melawan Auxerre sebagai pemain pengganti, menggantikan Aloisio. Itu menjadi menit pertandingan pertamanya di Eropa.

Meski PSG ditahan imbang 1-1 pada debutnya dan Ronaldinho baru mencetak gol serta menjadi pemain reguler menjelang akhir tahun 2001, namun itu adalah momen di mana ia mengawali senyumannya yang terkenal di Eropa. Ia mengawalinya di Paris, di saat pindah ke Paris saat itu belum menjadi sesuatu yang mainstream.

Komentar