Elemen Terpenting yang Suka Terlupakan

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Elemen Terpenting yang Suka Terlupakan

Alam semesta sudah tercipta sejak 14 miliar tahun yang lalu. Kehidupan di bumi sudah ada setidaknya 4,5 miliar tahun yang lalu. Sementara manusia baru hadir beberapa juta tahun yang lalu. Manusia bisa hidup karena menghirup oksigen. Diperkirakan kita bernapas 17.000 kali per hari.

Namun tahukah kamu jika oksigen baru ditemukan pada 1 Agustus 1774? Ilmuwan asal Yorkshire (Inggris), Joseph Priestley, adalah orang yang paling terkenal dan bertanggungjawab "menemukan" oksigen. Ia membuktikan penemuan unsur kimia ini yang sebelumnya telah dilakukan oleh Carl Wilhelm Scheele.

Pertanyaannya: Jika oksigen baru ditemukan pada 1774, lalu sebelumnya manusia bernapas memanfaatkan apa? He he he.

Pertanyaan di atas tentu adalah pertanyaan retoris, hanya bercanda. Priestley hanya orang yang menemukan dan memastikan adanya unsur senyawa oksigen (O2). Kalau oksigennya sendiri sudah ada sejak alam semesta pertama kali diciptakan.

Dari semua elemen, hidrogen adalah nuklida yang paling banyak ada di alam semesta. Kemudian nuklida terbanyak kedua adalah helium. Oksigen terbanyak ketiga. Oksigen bersama dengan hidrogen akan menciptakan air (H2O), penopang terpenting segala kehidupan.

Organ vital manusia seperti otak, jantung, paru-paru, darah, tulang, dan usus bekerja sama untuk mempertahankan kehidupan seorang manusia dengan mengirimkan oksigen ke semua jaringan tubuh. Sebagian besar sel kita membutuhkan oksigen karena oksigen adalah salah satu bahan kunci respirasi aerobik. Oksigen didapatkan melalui proses pernapasan (respirasi).

Proses pernapasan seringkali dipandang sebagai sesuatu yang kita terima begitu saja (taken for granted), jarang disyukuri saking sudah terbiasanya. Padahal di balik pernapasan, ada koordinasi sangat besar dari seluruh tubuh yang berperan, terutama untuk menghasilkan energi. Energi tersebut bisa manusia pakai untuk segala aktivitas, termasuk bermain sepakbola.

Untuk olahraga seperti sepakbola, secara mendasar oksigen berkontribusi pada performa otot terutama untuk daya tahan. Maka dari itu salah satu tes dalam olahraga, VO2maks (seperti yang ditunjukkan pada foto Egy Maulana Vikri paling atas), bisa dipakai untuk melihat seberapa besar, seberapa lama, dan sejauh mana atlet mampu menunjukkan performa mereka di atas lapangan.

Oksigen dibawa ke otot melalui aliran darah. Ada oksigen yang langsung dipakai, ada juga yang disimpan di dalam tubuh untuk nantinya dipakai memecah glukosa (gula) dan menciptakan bahan bakar untuk otot yang disebut sebagai molekul ATP (Adenosine triphosphate). ATP digunakan sebagai penghasil energi.

Berarti jika seorang pesepakbola ingin mendapatkan energi lebih banyak, mereka harus bernapas lebih sering agar mendapatkan oksigen. Begitu bukan? Sebenarnya antara iya dan tidak.

"Masalah [oksigen dalam hubungannya dengan performa] akan hadir karena tubuh butuh oksigen untuk sel-sel mereka. Jika kamu sulit bernapas, otot akan bekerja ekstra, energi terbakar dengan boros," kata Eduardo Pimenta, dokter yang pernah bekerja di sepakbola. Otot yang tidak mendapatkan oksigen secara cepat dan banyak memang malah akan mengonversi glukosa menjadi asam laktat, bukan energi. Asam laktat ini yang berperan jika kita merasa kelelahan dan/atau pegal-pegal.

Jika pesepakbola bermain di tempat yang lebih tinggi—yang terkenal adalah di La Paz (Bolivia) dengan ketinggian 3,6 km di atas permukaan laut—oksigen yang tersedia akan semakin sedikit. Semakin tinggi suatu tempat, akan semakin tipis oksigen yang tersedia. Maka dari itu ada banyak kasus kesebelasan tidak bisa bermain maksimal di tempat yang lebih tinggi.

"Bagi mereka yang datang ke sini, efek terbesar ada di kepala; menjadi pusing, berputar-putar, kebingungan," kata Jaime Sanchez dari University of San Andres di La Paz.

Beberapa pesepakbola merasa kesulitan bermain di ketinggian. Angel Di Maria pernah merasakannya ketika Argentina menghadapi Bolivia di kualifikasi Piala Dunia 2014. Namun ada satu contoh kocak yang pernah ditunjukkan oleh mantan gelandang Manchester United, Anderson.

Baca selengkanya: Anderson dan Kasus Bengek di Ketinggian

Pada foto di atas, Anderson sampai harus menghirup oksigen tambahan karena sesak napas (bengek). Melihat foto itu, sekaligus meresapi bagaimana peran penting oksigen terhadap performa, apakah kemudian pesepakbola bisa memanfaatkan hal yang sama, yaitu tabung oksigen, untuk dipakai pada pertandingan biasa?

Sayangnya tabung oksigen sejenis itu lebih banyak berperan dalam proses pemulihan (recovery), bukan performa. Jika pesepakbola telah selesai bertanding atau berlatih, mereka bisa memakai bantuan tabung oksigen untuk mempercepat pemulihan. Tabung oksigen sebenarnya memiliki peran dalam performa, tapi tak sesignifikan itu.

Hal yang bisa disiasati bagi atlet (bukan hanya pesepakbola) berkaitan dengan oksigen adalah berlatih di ketinggian dan bertanding di tempat yang lebih rendah.

Atlet yang berlatih di ketinggian akan membiasakan diri mereka menunjukkan performa dengan tingkat oksigen yang tipis. Ini akan memforsir otot untuk bekerja lebih keras agar bisa menghasilkan lebih banyak sel darah merah. Sel-sel darah merah ini lah yang membuat oksigen bisa terdistribusi ke seluruh tubuh dengan lebih mudah dan lebih cepat ketika tubuh sudah kembali ke ketinggian yang lebih rendah.

Maka dari itu ketika bertanding di tempat yang lebih rendah, di tempat yang lebih banyak oksigennya, mereka bisa menunjukkan performa yang lebih baik. Cara itu sudah sering dilakukan oleh atlet-atlet Olimpiade. Untuk sepakbola, selain kasus La Paz di atas, ada contoh umum lainnya pada setiap pra-musim. Sebelum musim berlangsung, biasanya kesebelasan akan memilih berlatih di ketinggian, seperti di daerah pegunungan Austria.

Komentar