Si Chucky dari Meksiko

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Si Chucky dari Meksiko

Pada laga perdana Piala Dunia 2018, sang juara bertahan, Jerman, takluk oleh Meksiko dengan skor 1-0. Satu-satunya gol dicetak oleh Hirving Lozano di menit ke-35. Saat itu, bahkan mungkin juga sekarang, belum banyak yang tahu siapa Lozano.

Pemuda yang lahir pada 30 Juli 1995 itu dijuluki “Chucky”, merujuk pada film horor dengan tokoh utama berupa boneka yang kerasukan arwah. Alasannya sederhana; Lozano sering menakut-nakuti rekan setimnya. Ia sering sengaja bersembunyi di kolong tempat tidur lalu keluar tiba-tiba dan membuat takut rekan-rekannya. Jika cara itu sudah usang, ia beralih ke lemari pakaian para pemain. Saat ada rekannya yang membuka lemari, Lozano langsung membuat kaget rekannya itu dengan menunjukkan raut wajah paling menyeramkan.

Tentu saja itu semua dilakukan untuk bersenang-senang. Namun jika melihat masa kecil Lozano, sesungguhnya jauh dari kata menyenangkan. Tubuhnya yang kurus kerap jadi sasaran empuk teman-temannya di sekolah untuk merundung Lozano. Mungkin satu-satunya teman masa kecil adalah si kulit bundar. Dari situlah bakatnya terasah.

Garces, seorang kawan Juan Carlos Osorio (kepala pelatih Timnas Meksiko), bercerita kepada Sky Sports tentang perilaku Lozano. “Dia (Lozano) adalah binatang buas yang cukup sulit dikendalikan.” Kata Garces. Sebelumnya, Garces adalah mantan gelandang yang kini bertugas sebagai pencari bakat di sebuah klub sepakbola bernama Pachuca.

“Dia datang kepada kami dari salah satu sekolah anak perusahaan kami di Mexico City, tetapi kami memiliki banyak kesulitan dengannya. Anak-anak itu tinggal bersama kami di Pachuca, jadi mereka dibiayai untuk sekolah dan segalanya. Tapi Lozano bermasalah. Dia sangat aktif sepanjang waktu, dia menginginkan segalanya, tapi dia sangat tak suka bersekolah,” kenang Garces saat itu.

Pernah suatu ketika ia dibujuk atau lebih tepatnya dipaksa untuk ke sekolah. Alih-alih menuruti perintah, Lozano malah mengamuk dan marah. Karena bukan kali pertama, di situlah mentor-mentornya tahu bahwa temperamen Lozano sangat tinggi. Berbagai upaya seperti menghadirkan psikiater pun gagal meredam temperamen Lozano.

Karakter keras kepala Lozano mungkin sulit dikendalikan di klub Pachuca junior, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa ia jago mengolah si kulit bundar. Pada usia yang belum genap 18 tahun, ia sudah berhasil promosi ke level senior. Pada 2014, ia menjalani debut di Stadion Azteca dalam laga Liga Champions Concacaf melawan Club America. Remaja dengan emosi yang tak stabil ini lantas mencetak gol satu-satunya pada laga itu. Setelah pertandingan, banyak surat kabar memajang foto Hirving Lozano di halaman depan.

Namanya pun sampai ke Eropa setelah peristiwa itu. Banyak klub Eropa menaruh minat pada bakat yang dimiliki Lozano. Hal itu menimbulkan dilema bagi Garces, mentor sekaligus sahabat Lozano selama di Pachuca. Ia tentu saja senang dengan tawaran yang datang, tetapi ada sedikit ketakutan yang menyelimuti perasaan Garces. Apalagi kalau bukan karena sifat keras kepalanya itu.

Akhirnya pada musim panas 2017, Lozano resmi hijrah ke Eropa. Adalah PSV Eindhoven yang berhasil meminang jasanya. Ketakutan Garces pun sempat terwujud. Lozano mengoleksi dua kartu merah sepanjang musim. Kartu merah pertamanya bahkan ia terima ketika baru menjalani empat laga. Namun 17 gol dan 11 asis selama memperkuat PSV jelas bukan torehan sederhana. Lozano bahkan jadi pemain penting dalam meraih gelar Eredivisie di musim pertamanya. Para suporter PSV dengan senang hati memberi julukan “Chucky” karena Lozano kerap menakuti barisan pertahanan lawan.

Status juara liga dan punya kemampuan di atas rata-rata, tentu membuat namanya sangat diperhitungkan untuk dipanggil tim nasional. Juan Carlos Osorio tidak begitu saja menyia-nyiakan kesempatan itu. Meski ia sepenuhnya sadar, Lozano bukan pribadi sembarangan karena sifatnya itu.

Hari demi hari Lozano jalani di kamp pelatnas. Jika dulu ia terkenal kurus, perlahan tapi pasti berat badannya naik. Saat menghancurkan Jerman di Rusia, tubuh yang dulu pernah diolok-olok ini pun membungkam para perundung. Mats Hummels dan Jerome Boateng adalah duo bek Jerman yang secara fisik lebih baik dari Lozano. Namun ia berhasil menakuti keduanya dan memperdaya mereka.

Kini, si “Chucky” dari Meksiko siap memperluas jangkauan teror. Manchester United dan Everton dikabarkan tertarik merekrut jasa Lozano. Jika benar ia ke Everton, maka ia bakal reuni dengan Marcel Brands yang kini menjabat sebagai Direktur Sepakbola The Toffees. Brands dulu sempat bekerja di PSV dan dianggap memiliki peran seperti Garces saat Lozano masih di Pachuca.

Tidak hanya dari klub-klub Liga Inggris, tawaran juga datang dari klub Liga Spanyol. Jesus, ayahnya Lozano, mengaku kepada mirror sempat dikontak oleh seseorang yang mengaku sebagai perwakilan Barcelona. Di mana pun Lozano nantinya bermain, ia bakal tetap dikenang sebagai si Chucky dari Meksiko.

Komentar