Menjadi Dewasa ala Julian Nagelsmann

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Menjadi Dewasa ala Julian Nagelsmann

"Setelah 30 tahun, tubuh memiliki pikiran sendiri," kata Bette Midler—penyanyi sekaligus penulis lagu dan juga aktris sekaligus produser film. Meski telah berkecimpung di dunia seni sejak usianya 21 tahun, ia baru menggapai sukses ketika usianya di atas kepala tiga. Lewat film berjudul “The Rose”, ia menjalani debut di dunia seni peran. Midler yang lahir pada 1945 meraih penghargaan Golden Globe dan Academy Award sebagai aktris terbaik pada 1979.

Di dunia sastra ada nama Mark Twain. Sebelum genap berusia 30 tahun, Twain kerja serabutan di kapal uap, magang sebagai paramiliter, dan masih tinggal satu atap dengan orang tuanya. Namun ia aktif kirim tulisan ke surat kabar lokal. Pada suatu hari cerpennya yang berjudul “The Celebrated Jumping Frog of Calaveras County” dipublikasikan pada 1865. Sejak saat itu, Mark Twain yang lahir pada 1835 mendadak tenar dan karya-karya lainnya bermunculan.

Dalam dunia olahraga—khususnya sepakbola—usia 30 masuk kategori usia senja bagi para pemain. Namun tidak berlaku bagi profesi pelatih. Usia 30 adalah usia muda, terlalu muda bahkan untuk mengasuh puluhan anak manusia, memikirkan strategi, merumuskan taktik, memantau perkembangan fisik dan psikologi pemain, berdiplomasi dengan pihak klub, dan menghadapi caci maki suporter.

Sejak berusia 28 tahun, Nagelsmann sudah ditunjuk jadi kepala pelatih tim utama TSG 1988 Hoffenheim. Publik sontak dibuat geger oleh penunjukan itu. Tak heran banyak media yang mencibir keputusan manajemen Hoffenheim. Salah satunya adalah surat kabar lokal bernama Rhein-Neckar-Zeitung, yang menganggap hal itu hanya akal-akalan klub untuk mendapat perhatian dunia.

Menilik perjalanan karier Nagelsmann, ia sebetulnya sudah menciptakan sensasi sejak masih melatih tim junior. Kala itu Nagelsmann membawa Hoffenheim U-19 menjadi juara nasional di musim 2013/14. Di partai final, anak-anak asuhnya menghajar Hannover 96 dengan skor telak 5-0.

Sebagaimana para pelatih pada umumnya, Nagelsmann pertama kali terjun ke dunia sepakbola sebagai pemain. Ia pernah berkostum 1860 Munchen dan FC Augsburg meski hanya sebentar. Pada usia 20 tahun, Nagelsmann divonis cedera parah di bagian lutut. Dokter klub menyarankannya pensiun dini daripada keluar-masuk meja operasi yang tentu saja berdampak buruk bagi kesehatan Nagelsmann dan juga kesehatan neraca keuangan klub.

Di tahun yang sama saat Nagelsmann harus mengubur mimpi jadi pesepakbola hebat, sang ayah meninggal dunia. Sejak masih 15 tahun, ia memang sudah berpisah dengan orang tua akibat program karantina. Namun ia merasa ayahnya pergi terlalu cepat, bahkan almarhum pergi dalam kondisi belum tahu bahwa Nagelsmann telah gantung sepatu akibat cedera lutut akut.

"Saya harus tumbuh jauh lebih cepat dari yang lain. Saya sudah hidup sendiri sejak usia 15 tahun. Memasak sendiri, belanja kebutuhan sendiri, dan lain sebagainya. Kemudian ketika ayah meninggal, saya harus bantu ibu menjual rumah tua untuk menemukan hunian baru yang lebih terjangkau," ungkap Nagelsmann sebagaimana dilansir dari The Irish Times.

Cedera parah dan kepergian sang ayah memaksa Nagelsmann berubah. Ia memandang sepakbola dari sisi berbeda. Ia mengamati dari tepi. Ada campur tangan Thomas Tuchel dalam hal ini.

"Tuchel yang menyelamatkan saya," kata Nagelsmann kepada 11Freunde pada 2013. “Saya muak dengan sepakbola. Saya mengorbankan masa muda saya untuk sepakbola dan kemudian, hanya dalam waktu semalam, semuanya berakhir. Saya sebetulnya sudah tak ingin ada hubungan lagi dengan sepakbola, tapi ketika dia (Tuchel) meminta saya untuk jadi pengintai taktik lawan, itu adalah situasi yang menurut saya win-win solution. Toh saya juga masih ada kontrak dengan Augsburg (Tuchel dulu adalah pelatih Augsburg) dan saya bisa membantunya."

Seiring berjalannya waktu, Nagelsmann menjelma pelatih hebat di Bundesliga. Tentu kata “hebat” di sini bisa diukur lewat prestasi dan kualitas tim yang diasuh. Pada musim 2016/17, Nagelsmann menorehkan catatan impresif bersama Hoffenheim. Dari 36 kali bertanding, anak-anak asuhnya hanya empat kali saja menderita kekalahan. Hasil itu membuat Hoffenheim duduk di peringkat keempat klasemen akhir. Bahkan RB Leipzig dan Borussia Dortmund yang duduk di posisi kedua dan ketiga menelan kekalahan yang jumlahnya lebih banyak.

Pada musim berikutnya, dampak positif Nagelsmann terus berlanjut. Hoffenheim memperbaiki prestasinya dengan duduk di peringkat ketiga klasemen akhir Bundesliga. Tentu hasil positif dua musim beruntun membuat nama Julian Nagelsmann melambung.

Setidaknya ia telah membungkam kritikan bahwa dirinya hanya pelatih muda yang suka cari sensasi. Nagelsmann lantas menjawab kritik itu dengan prestasi. Isu yang beredar, Arsenal dan Bayern Muenchen sempat melobinya agar bersedia jadi pelatih. Namun ia malah menolak tawaran dari klub besar dan lebih memilih RB Leipzig.

Julian Nagelsmann akan meninggalkan Hoffenheim dan merapat sebagai pelatih RB Leipzig pada akhir musim 2018/19. Ia bakal secara resmi menukangi RB Leipzig pada musim 2019/20. Ia dikontrak sampai Juni 2023.

Belum jelas apa alasan Nagelsmann lebih memilih tawaran RB Leipzig ketimbang klub-klub besar. Mungkin ia sadar masih kepala tiga sehingga masih punya waktu untuk belajar, belajar, dan belajar. Dan media pembelajaran paling baik adalah bersama klub-klub kuda hitam. Jika ilmu kepelatihannya sudah mumpuni, mungkin ia baru berani terima tawaran dari klub besar karena waktunya sudah bukan lagi belajar, melainkan membuktikan diri.

Publik boleh saja menghakimi usia Nagelsmann yang masih 31 tahun, usia yang mungkin masih terlalu muda menjadi pelatih. Namun jika melihat apa yang sudah Nagelsmann lalui, rasa-rasanya menjadi dewasa tidak melulu ditentukan dari usia.

Komentar