Legenda, Pengacara, Sekaligus Ketua Federasi

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Legenda, Pengacara, Sekaligus Ketua Federasi

Cerita Islandia dan sepakbola diawali pengaruh Inggris pada 1895. Saat itu sepakbola dibawa oleh James B. Ferguson. Sejak itu, Inggris selalu menjadi panutan masyarakat Islandia untuk bermain sepakbola.

Viðar Halldórsson, salah satu sosiolog di University of Iceland, mengatakan warga Islandia tumbuh dengan menonton Liga Inggris sejak 1970-an. "Mereka (para pemain Liga Inggris) adalah satu-satunya atlet profesional yang kami tonton [ketika kecil]," katanya. Tidak heran banyak anak Islandia yang bermimpi bermain sepakbola di Inggris.

Sebelum pemain-pemain Islandia seperti Gylfi Sigurðsson, Eiður Guðjohnsen, Birkir Bjarnason, Hermann Hreiðarsson, Jóhann Berg Guðmundsson, dan Aron Gunnarsson bermain di Inggris, ada satu pemain yang menjadi pelopor: Guðni Bergsson.

Bergsson lahir di Reykjavík pada 21 Juli 1965. Ia bukan hanya sekadar pesepakbola, melainkan juga legenda, pengacara, dan ketua federasi sepakbola Islandia (KSÍ) sejak 2017.

Ia mengawali karier sepakbolanya di Valur Reykjavík pada 1983 tapi sejak awal sudah berniat bermain di Inggris. Dua tahun setelah mengawali karier, ia sempat menjalani uji coba di Aston Villa. Namun Villa tak tertarik merekrutnya.

Mimpinya bermain di Inggris tak sirna begitu saja. Pada 1988, Bergsson memikat Tottenham Hotspur. Mahar sebesar 100 ribu paun dibayarkan Manajer Spurs saat itu, Terry Venables. Harga itu adalah harga tertinggi pesepakbola Islandia saat itu, yang juga membuka ekspor para pemain Islandia ke Inggris.

Bergsson tidak hanya merealisasikan mimpinya, tapi juga mimpi masyarakat Islandia.

Kuliah Hukum Sambil Bermain Sepakbola

Posisi alami Bergsson adalah sweeper yang pada masa itu masih sangat terkenal. Namun di Spurs ia banyak bermain sebagai bek sayap. Potensinya tak termaksimalkan, apalagi setelah Spurs menunjuk Ossie Ardiles sebagai kepala pelatih. Pada 1994 ia sempat dipinjamkan kembali ke Valur.

Ia kemudian diberi tahu untuk dilepas oleh Spurs. Saat itu ia mengira kariernya di Inggris akan berakhir, padahal usianya masih 29 tahun.

Di saat itu ia mulai mempersiapkan masa depannya tanpa sepakbola. Ia kemudian mulai kuliah hukum di Inggris. Di saat itu juga ia tak banyak bermain lagi di Spurs.

"Sebelum 1995, aku sudah merencanakan karierku setelah sepakbola di bidang hukum," kata Bergsson kepada The Sun.

Meski begitu ia sering bermain sepakbola rekreasional serta sesekali melakukan uji coba ke kesebelasan lain. Pada saat ia trial di kesebelasan reserve Crystal Palace, Bruce Rioch terkesan dengan permainan mahasiswa ilmu hukum tersebut. Rioch saat itu adalah Manajer Bolton Wanderers.

Rioch tahu status Bergsson yang sudah tak diinginkan oleh Spurs, kemudian menawar 65 ribu paun yang diiyakan oleh pihak Spurs. Bergsson akhirnya punya kesebelasan baru. Saat itu ia tak mengira bahwa ia akan menjadi legenda di Bolton.

"Bergabung dengan Bolton pada 1995 adalah saat yang tepat untukku," kata Bergsson. "Bolton akan selalu menjadi rumah keduaku. Aku punya banyak kenangan indah di sana."

Bergsson menjalani debutnya bersama Bolton pada pertandingan final Piala Liga Inggris 1995 di Wembley. Meski Bolton kalah dari Liverpool, sentuhan pertama Bergsson adalah pada asisnya untuk gol Alan Thompson.

Selama delapan tahun kariernya di Bolton, Bergsson sempat bermain satu kesebelasan dengan para pemain Islandia lainnya: Arnar Gunnlaugsson, Eiður Guðjohnsen, Ólafur Páll Snorrason, dan Birkir Kristinsson. Selama itu juga kesebelasannya selalu mengalami naik-turun, tapi Bergsson selalu menjadi kapten dan bek andalan.

"Tekanan selalu menjadi paket ketika aku bermain di sana. Kami entah selalu berjuang untuk menghindari degradasi atau promosi hampir setiap musimnya sampai pertandingan terakhir," ujar Bergsson. "Kenyataannya pertandingan terakhirku untuk klub saat kami mengalahkan Middlesbrough 2-1 pada 2003 yang mana membuat kami bertahan [di Liga Primer Inggris] dan West Ham degradasi," katanya.

Bergsson pensiun pada usia 38 tahun. Ia sebenarnya merasa sudah terlalu tua ketika pensiun. Tak heran ia sempat meminta pensiun sampai tiga kali tapi selalu dibujuk bertahan oleh Manajer Bolton saat itu, Sam Allardyce.

Setelah pensiun, ia langsung kembali ke Islandia. Di negaranya, ia langsung terkenal dan memiliki acara televisi dengan nama "Boltinn með Guðna Bergs" atau "Sepakbola bersama Guðni Bergsson". Acara tersebut sangat ramai dan menjadi buah bibir. Namun hanya bertahan sebentar karena Bergsson sudah merencanakan untuk menjadi pengacara selepas pensiun.

"[Sebelum pensiun] aku sudah berdiskusi dengan firma hukum di Reykjavík untuk bergabung dengan mereka ketika aku kembali," kata Bergsson, dikutip dari The Telegraph. Ia sudah menyelesaikan tesis hukumnya ketika ia Bolton. Ia kemudian bergabung dengan Lagastoð Lawyers di negaranya.

Kisah menarik dan heroiknya kembali terjadi di tempat kerjanya yang baru. Pada Maret 2012, seseorang bernama Gudgeri Guðmundsson mendobrak masuk ke kantor firma hukumnya untuk menyerang direktur firma tersebut dengan pisau dapur. Bergsson kemudian datang dan melawan pendobrak tersebut. Pahanya sempat ditikam dua kali, tapi penyerangan itu berhasil dihentikan oleh Bergsson.

Karena ulahnya itu, Guðmundsson divonis penjara 14 tahun. Sementara Bergsson mendapat 4 ribu paun sebagai penghargaan aksi heroiknya tersebut.

Tak Bisa Berpaling dari Sepakbola

Bekerja di firma hukum adalah rencana awal Bergsson setelah pensiun sebagai pesepakbola. Namun ia tak bisa menahan diri untuk kembali ke sepakbola.

"Aku menikmati pekerjaanku sebagai pengacara tapi ada sesuatu yang kurang. Aku pikir yang kurang itu adalah hubungan dan koneksi dengan suporter," kata Bergsson kepada The Bolton News. Ia kemudian bekerja paruh waktu sebagai scout di Bolton.

"Aku selalu memberi kode kepada Bolton Wanderers jika aku ingin menjalani peran sepakbola lagi di sana," katanya. Grétar Steinsson (2008-2012) dan Heiðar Helguson (2007-2009) adalah dua pemain Islandia yang berhasil ia promosikan untuk direkrut mantan kesebelasannya itu.

Ternyata menjadi scout saja tak bisa memuaskan hasrat sepakbolanya. Setelah Timnas Islandia lolos dan sampai ke perempat final Piala Eropa 2016, posisi ketua federasi (KSÍ) kemudian akan kosong. Ketua KSÍ saat itu, Geir Þorsteinsson, menyatakan tak akan menjadi ketum lagi pada 2017. Nama Bergsson kemudian mewarnai bursa ketum KSÍ.

"Aku sudah menjadi kapten untuk negaraku dan Bolton Wanderers, dan aku sudah bermain di Liga Primer, yang mana itu mencerminkan gairah sepakbola," katanya. "Aku ingin menjadi ketua asosiasi sepakbola untuk menjaga pekerjaan bagusku sebelumnya tapi juga aku berusaha untuk membuat segalanya jadi lebih baik."

"Itu (menjadi ketum KSÍ) adalah sesuatu yang sudah kupikirkan sejak lama. Sepakbola Islandia sedang berada di kondisi sehat sekarang dan kami sangat bangga dengan apa yang tim ini raih musim panas lalu (Piala Eropa 2016, bukan Piala Dunia 2018). Tapi filosofiku adalah setiap hal selalu bisa berkembang," katanya pada kongres KSÍ 2017.

Menurut Bergsson, kekuatan utama Islandia ada pada sepakbola akar rumput. Sekarang semua anak dari usia 6 tahun sudah dilatih minimal oleh pelatih berlisensi UEFA B. Beberapa pemain bintang yang bermain di luar negeri juga selalu menjadi panutan bagi anak-anak Islandia.

Caranya menghargai sepakbola akar rumput ia tunjukkan dengan sering hadir di pertandingan segala level di negaranya tersebut.

Seluruh kursus kepelatihan berlisensi UEFA dilakukan di markas KSÍ di Reykjavík dengan tanpa memungut keuntungan. Sejak Bergsson menjabat sebagai ketum KSÍ, sudah ada lebih dari 600 pelatih berlisensi UEFA B, 180 pelatih UEFA A, dan 13 pelatih UEFA Pro. Hal ini bisa terbaca demikian: satu dari setiap 500 penduduk Islandia adalah pelatih berlisensi UEFA. Sebagai perbandingan, Inggris saja hanya satu banding 100.000 penduduk.

Menjadi pemain dan legenda banyak membantu Guðni Bergsson untuk hapal sepakbola "luar dan dalam". Menjadi pengacara juga membantunya memahami sisi legal dari setiap tindakannya. "Ia selalu memakai ilmu hukumnya setiap saat ketika ia dalam masalah," kata Sam Allardyce sambil bercanda.

Hal itu membuat Bergsson tak kesulitan untuk mendapatkan kepercayaan dan terpilih menjadi ketua umum KSÍ. Dahulu Islandia banyak belajar dari Inggris. Sekarang seluruh dunia bisa belajar dari Islandia soal bagaimana mengatur federasi sepakbola.

Komentar