Orang Inggris Terakhir di Final Piala Dunia

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Orang Inggris Terakhir di Final Piala Dunia

Inggris punya sejarah membanggakan di final Piala Dunia. Sejarah membanggakan tersebut hadir lewat sosok pengadil di atas lapangan: wasit. George Reader memimpin final Piala Dunia 1950, William Ling pada 1954, Jack Taylor pada 1974, dan tentu saja ada Howard Webb yang memimpin final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

"Musim panas 2010 sangat spesial untukku," kata Howard Webb. "Aku mewasiti final Liga Champions dan Piala Dunia dalam waktu 50 hari di antara keduanya."

Ternyata Inggris tak bisa terus berbangga kepada wasit mereka. Pada Piala Dunia 2018 tak ada satupun wasit asal Inggris yang memimpin pertandingan di Rusia. Meski demikian, Tim Nasional Inggris berhasil melaju sampai semifinal—itu adalah kebanggaan lainnya.

Lahir di Rotherham, Yorkshire, pada 14 Juli 1971, Webb adalah salah satu wasit ikonik; tidak hanya di Inggris, tapi juga di dunia.

Kepala botaknya membuatnya semakin ikonik lagi. Wasit lain yang lebih melegenda, Pierluigi Collina (Italia), juga berkepala plontos.

"Aku senang jika ada alasan saintifik kenapa orang berkepala botak bagus menjadi wasit. Tapi itu sepertinya murni kebetulan," canda Webb, dikutip dari FourFourTwo.

Sebelum Menjadi Wasit Kelas Dunia

Saat kecil, Webb sebenarnya bercita-cita menjadi pemain sepakbola. Bahkan menurutnya, semua wasit pasti awalnya ingin menjadi pesepakbola. Pada sebuah pertandingan amal untuk Ledley King, Webb bahkan pernah mencoba menjadi pesepakbola meski saat itu ia berseragam wasit.

Namun ia sadar kemampuannya tak sampai pada level tersebut. Kemudian ia melihat ayahnya, Billy Webb, yang sudah lama menjadi wasit. Ayahnya kemudian bertanya apakah ia ingin menjadi wasit juga.

"Awalnya aku ragu. Namun selanjutnya aku percaya diri jika aku bisa berkembang, tapi aku secara realistis tak berpikir jika aku bisa sampai di level tertinggi," ujar Webb dalam wawancara yang dimuat di Referee Mindset.

Ketika memutuskan menjadi wasit, Webb sebenarnya memiliki karier lainnya, yaitu sebagai polisi di Kepolisian Yorkshire Selatan. Menjadi pengadil di atas lapangan tak sama dengan menjadi pengadil di lingkungan kerjanya. Meski demikian, ia sempat memiliki kisah kocak.

"[Kepolisian] sempat ditelepon oleh laki-laki telanjang yang diikat di pagar. Ternyata ia diikat istrinya karena ketahuan selingkuh," candanya. "Jadi ceritanya, ketika pulang dari pub, ia diajak.. apa ya... `aktivitas seksual` bersama istrinya. Ia kemudian telanjang, kemudian diikat oleh istrinya, tapi malah dijebak dan dibiarkan terus terikat."

Dunia kepolisian menurutnya lebih keras daripada dunia perwasitan, setidaknya di Inggris (mungkin beda cerita jika di Indonesia). Satu-satunya kekerasan yang pernah (hampir) ia terima saat ia menjadi wasit malah terjadi ketika masih memimpin pertandingan anak-anak di awal kariernya.

"Aku tak pernah diancam dengan kekerasan fisik, kecuali satu kali di sepakbola anak-anak ketika ada orang tua yang hendak memukulku," katanya, dilansir dari The Telegraph. "Tapi itu hal langka. Semakin ke [level] atas, akan semakin mudah [dalam menghadapi kekerasan fisik]."

Kemampuan Utama (dan Aneh) untuk Menjadi Wasit

Menjadi wasit tak semudah kelihatannya. "Menurutku, aspek psikologi sangat penting," kata Webb pada wawancara dengan Soccer America.

"Menjadi wasit adalah disiplin mental, sama pentingnya dengan disiplin fisik. Kamu butuh kepercayaan diri di atas lapangan untuk menjalankan tugasmu, sama seperti para pemain."

Aspek psikologi ini sangat berpengaruh dalam situasi-situasi seperti ketika wasit membuat kesalahan. "Kamu mendapatkan banyak emosi hanya beberapa detik ketika membuat keputusan. Salah satu hal tersulit adalah move on dari emosi yang sudah berlalu untuk menghadapi situasi-situasi selanjutnya, tanpa berdampak dari yang telah terjadi itu," katanya.

Salah satu kesalahan yang ia akui adalah ketika ia tak mengusir Nigel de Jong dalam insiden terkenalnya, yaitu menendang dada Xabi Alonso di final Piala Dunia 2010. Saat itu ia hanya memberi kartu kuning untuk De Jong.

"Melihat itu lagi, aku pasti akan memberinya kartu merah. Masalahnya, saat itu posisiku berada di belakang Alonso, sehingga aku tak yakin kakinya setinggi itu."

Webb melihat jika kondisi psikologis wasit sangat penting sehingga ia merasa para wasit membutuhkan psikolog olahraga. Beberapa organisasi wasit di dunia memiliki psikolog-psikolog. Para wasit secara reguler bertemu dengan para psikolog ini.

Walau begitu, kadang wasit memiliki kemampuan fisik yang aneh, yang berbeda dengan pesepakbola. "Itu aneh, ya. Beberapa wasit bisa berlari lebih cepat ketika mundur daripada maju. Aku kenal asisten wasit yang larinya lebih cepat ketika menyamping daripada ketika maju," kata Webb.

Masa-masa Webb Ketika Belum Ada VAR

Bagi Webb, menjaga fokus adalah hal terpenting saat memimpin pertandingan. Segala sesuatu bisa terjadi dalam hitungan detik di atas lapangan. Sekali berkedip saja wasit bisa kehilangan momen krusial dalam membuat keputusan. Maka dari itu Webb menganggap pentingnya kehadiran asisten wasit.

"Kami menggunakan alat komunikasi kepada tim ofisial untuk selalu waspada," katanya. Itu yang ia lakukan untuk berkoordinasi dengan hakim garis dan ofisial keempat. Sementara untuk berkoordinasi kepada kedua kesebelasan, ia memercayai kapten masing-masing.

"Aku selalu bilang kepada kapten: `kamu tahu para pemain lebih baik daripada aku, kamu bekerja dengan mereka setiap hari, dan kamu paham reaksi mereka, jadi ketika pemain hilang kendali, maka kamu hadir, intevensi, dan tunjukkan pengaruhmu pada situasi itu`," kata Webb.

Menurutnya, kapten seperti Patrice Evra, Frank Lampard, dan Phil Jagielka adalah mereka yang bisa melakukan hal di atas. Ia sempat kesal dengan Santi Cazorla ketika ia menjadi kapten Arsenal. "Menurutku aneh Santi Cazorla bisa jadi kapten; ia tak melakukan apa yang kapten sebaiknya lakukan," katanya.

Untuk menyikapi situasi-situasi tensi tinggi di atas lapangan, Webb banyak berkoordinasi dengan asisten-asistennya dan kedua kapten. Saat ia masih menjadi wasit, belum ada Video Assistant Referee (VAR) yang bisa membantunya.

"Asisten video itu penting. Aspek psikologi yang bagus karena kamu tahu kamu di-backup oleh seseorang yang bisa mengintervensi ketika kamu melakukan kesalahan yang kamu khawatirkan. Itu akan membawa kenyamanan dan mereka bisa fokus kepada situasi-situasi berikutnya."

Webb sudah pensiun sejak Agustus 2014. Selama 21 tahun ia menjadi wasit, ia belum pernah merasakan "kemewahan" VAR. Tanpa VAR, Webb mengakui bahwa ia melakukan banyak kesalahan ketika memimpin pertandingan. Meski begitu, Webb tetap merupakan salah satu wasit legendaris, salah satu wasit terbaik yang Inggris pernah miliki.

Komentar