Dua Lippi

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Dua Lippi

Marcello Lippi adalah sebuah nama sekaligus sebuah cerita dalam memori kolektif warga Italia. Pria ini membawa Timnas Italia juara dunia pada 2006, saat iklim politik dalam negeri sedang panas-panasnya akibat skandal Calciopoli. Di bawah asuhan Lippi pula Italia gugur pada babak fase grup Piala Dunia 2010.

Lewat sebuah pengumuman FIGC (PSSI-nya Italia) pada 16 Juli 2004, Lippi ditunjuk menjadi Kepala Pelatih Tim Nasional Italia menggantikan Giovanni Trapattoni. Beberapa surat kabar di Italia seperti La Gazzetta dello Sport dan Corriere dello Sport bahkan sudah memprediksi penunjukkan ini. Alasannya karena portofolio Lippi yang cukup baik bersama sejumlah klub Italia. Dari sekian banyak klub yang ia tangani, Lippi dinilai paling sukses bersama Juventus.

Di musim pertama Lippi menjadi pelatih (1994/95) ia langsung menyabet dua gelar juara sekaligus. Ia menerapkan formasi 4-3-3 dengan memaksimalkan Alessandro Del Piero dan Fabrizio Ravanelli yang mengapit seorang Gianluca Vialli di tengah. Sekilas tiada yang istimewa dari sistem itu, sampai kemudian terlihat ketergantungan Juventus terhadap seorang Roberto Baggio mulai berkurang.

Sebelum kedatangan Lippi, Juventus sangat bergantung kepada magis Baggio. Awalnya ketergantungan ini positif, tapi lambat laun lawan dapat membaca permainan Juventus. Persis seperti pesulap yang hanya mampu menampilkan satu trik.

Di bawah arahan Lippi, Juventus menjelma pesulap yang memiliki banyak trik. Trio lini tengah menjelma otak, jantung, kaki, dan keterampilan dari Juventus. Adapun istilah itu keluar dari mulut Gianluca Vialli, penyerang Juventus saat itu. Jika Didier Deschamps dan Antonio Conte sebagai jantung dan kaki, Paulo Sousa adalah otak dan keterampilan Juventus.

Selain memoles lini tengah, Lippi juga sukses memoles lini depan. Vialli cetak 17 gol di Serie A pada musim itu. Padahal dua musim sebelumnya, perolehan gol Vialli pada akhir musim tidak pernah menyentuh angka dua digit. Keberadaan Lippi jelas sangat memengaruhi ketajaman Vialli di depan gawang.

Pada musim berikutnya, Lippi kembali membuat Juventus berjaya. Kali ini di level Eropa dengan mengalahkan Ajax Amsterdam, lewat adu penalti, di final. Gelar itu menjadi yang pertama setelah 11 tahun. Bahkan gelar itu terasa begitu penting karena Juventus belum pernah merengkuh Si Kuping Besar setelah era Lippi.

Tepat satu dekade setelah menjadi yang terbaik di Eropa bersama Juventus, Lippi jadi yang terbaik di dunia bersama Italia. Prestasi itu bahkan mendapat tempat tersendiri di hati Lippi.

“Saya memenangi segalanya bersama Juventus, tapi tak ada yang sebanding dengan Piala Dunia bersama Azzurri,” kata Lippi ketika ditanya lebih pilih gelar Liga Champions atau Piala Dunia.

Namun romansa Italia bersama Lippi harus berakhir karena tiga hari setelah berpesta di Berlin, ia mengundurkan diri. Tidak jelas apa alasan Lippi meninggalkan kursi pelatih Italia. Satu hal yang jelas: Lippi adalah faktor kunci dalam membawa Italia juara. Hal itu diutarakan langsung oleh kapten Italia saat itu, Fabio Cannavaro.

“Kami hanya bisa berterima kasih kepada pria sekaligus pelatih, Marcello Lippi, untuk pekerjaan sempurna yang ia kerjakan dan cara yang ia lakukan dalam mengelola tim di tengah situasi yang sulit bagi kami,” Kata sang kapten pada website pribadinya.

Situasi sulit kembali menimpa Cannavaro dan kolega. Setelah Lippi pergi, FIGC memilih Roberto Donadoni. Di bawah asuhan Donadoni, Italia gagal di Piala Eropa 2008. Publik Italia tentu merasa cemas akan nasib Italia di Piala Dunia 2010. Lantas mereka meminta federasi untuk menugaskan kembali Lippi sebagai pelatih menyusul hasil buruk di bawah asuhan Donadoni.

Tuntutan publik dikabulkan pihak FIGC. ”Marcello Lippi kembali sebagai pemimpin Tim Nasional Italia”, begitu tulisan yang terpampang di website FIGC pada Juni 2008. Lippi yang saat ditunjuk berusia 60 tahun, kembali bertugas dan diharapkan bisa mengulang kejayaan Italia empat tahun silam.

Alih-alih mengulang kesuksesan, Italia justru mengalami kepahitan. Lain di Jerman, lain pula di Afrika Selatan. Tergabung di Grup F bersama Paraguay, Slovakia, dan Selandia Baru, Italia gagal lolos. Saat itu Italia hanya mampu meraih dua poin dari tiga laga. Publik yang berharap banyak kepada Lippi, dihadapkan pada kenyataan pahit. Jangankan untuk kembali juara, membawa Italia lolos dari fase grup saja Lippi tak sanggup.

“Jika saya adalah bagian dari kesuksesan pada 2006, saya juga harus disalahkan atas kegagalan ini. Jika tim muncul di pertandingan penting dengan teror di hati, kepala dan kaki, itu berarti pelatih tidak melatih mereka. Saya pikir orang-orang yang saya pilih (pemain) akan memberikan sesuatu yang berbeda, tetapi saya salah.” Kata Lippi tentang kegagalan Italia pada 2010 sebagaimana dikutip Guardian.

Pada akhirnya, kisah Lippi akan selamanya dikenang khususnya bagi publik Italia. Entah itu kisah versi 2006 atau versi 2010.

Komentar