Negara Eropa Pertama yang Menjuarai Piala Dunia Perempuan

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Negara Eropa Pertama yang Menjuarai Piala Dunia Perempuan

Sudah bukan rahasia bahwa Eropa merupakan kiblat sepakbola. Hal ini tercermin dari dominasi negara-negara Eropa di Piala Dunia. Dari 20 edisi, wakil Eropa menjuarai turnamen ini 11 kali. Italia, Jerman, Inggris, Perancis, dan Spanyol adalah negara-negara yang pernah keluar sebagai juara Piala Dunia. Di ajang Piala Dunia Perempuan, ceritanya lain.

Piala Dunia perempuan pertama kali digelar pada 1991. Kala itu FIFA menunjuk Tiongkok menjadi tuan rumah. Tim Nasional Amerika Serikat keluar sebagai juara setelah mengalahkan wakil Eropa, Norwegia, 2-1 di partai puncak.

Empat tahun berselang giliran Norwegia yang berpesta. Publik Norwegia akan selalu mengenang peristiwa 18 Juni 1995, di Stadion Rasunda, Swedia. Pada hari itulah mereka menjuarai Piala Dunia untuk kali pertama. Hasil itu menjadi kebanggaan tersendiri karena justru Norwegia-lah yang menyelamatkan wajah Eropa di turnamen sepakbola perempuan—bukan Italia, Jerman, Inggris, Perancis, ataupun Spanyol.

Keberhasilan Timnas Sepakbola Perempuan Norwegia seketika berubah menjadi keberhasilan nasional. Dalam artikelnya di New York Times, Jere Longman menyatakan bahwa satu dari empat orang Norwegia menonton pertandingan final Piala Dunia perempuan. Ada harapan yang membuncah terhadap para perempuan Norwegia yang saat itu bertarung di Swedia. Sepulang dari Swedia, pesawat yang mengangkut tim dikawal dua jet tempur F-16 ke Oslo. Hari itu pemerintah Norwegia memperlakukan tim sepakbola perempuan bak pahlawan negara.

Kehebatan para perempuan Norwegia sudah terlihat sejak babak kualifikasi grup. Tergabung di Grup B bersama Nigeria, Kanada, dan Inggris, anak asuh Even Pellerud tidak pernah kebobolan dalam tiga pertandingan. Malah mereka berhasil mencetak sebanyak 17 gol: delapan ke gawang Nigeria, dua ke gawang Inggris, dan sisanya ke gawang Kanada.

Norwegia baru merasakan pahitnya kebobolan pada babak perempat final, di pertandingan melawan Denmark. Beruntung satu gol Denmark berhasil dibalas lewat tiga gol pemain Norwegia. Duel antar negara Skandinavia itu pun dimenangi Norwegia dengan skor 3-1.

Pada babak semi final terjadi partai ulangan final 1991 antara Norwegia kontra Amerika Serikat. Sementara pada 1991 Norwegia kalah oleh Amerika Serikat, pada 1995 ceritanya lain. Terima kasih kepada Ann Kristen Aarønes yang menjadi pahlawan Norwegia. Pemain bertinggi 182 cm itu berhasil menyambut bola udara yang datang dari sepak pojok pada menit ke-10. Gol sundulan itu merupakan satu-satunya gol yang tercipta dalam laga tersebut. Keunggulan 1-0 atas Amerika Serikat cukup membalaskan dendam Norwegia empat tahun sebelumnya.

“Ini jelas keuntungan bagi orang dengan tinggi seperti saya, terutama pada duel di udara. Hal ini (tinggi badan) juga membantu ketika bola lambung datang dari sudut-sudut.” Ujar Ann kepada FIFA TV setelah memastikan timnya lolos ke final dua kali secara beruntun.

Di partai final, terjadi pertarungan antar sesama wakil Eropa. Norwegia ditantang Jerman yang melaju ke final setelah mengalahkan Tiongkok dengan skor 1-0. Adapun gol semata wayang Jerman dicetak Bettina Wiegmann pada menit ke-88.

Meski hujan deras mengguyur Stadion Rasunda, tetapi sebanyak 17.158 penonton yang hadir tetap antusias menyaksikan partai final Piala Dunia. Norwegia berhasil memecah kebuntuan di menit ke-36 lewat gol yang dicetak oleh Hege Riise. Gol kedua lahir empat menit setelah gol pertama tercipta. Marianne Pettersen berhasil memanfaatkan kemelut di depan gawang Jerman. Skor 2-0 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan Ingrid Jonsson, wasit asal Swedia.

Dengan kemenangan itu, Norwegia sah menjadi negara Eropa pertama yang menjuarai Piala Dunia perempuan.

Komentar