Berjaya di Final Keluarga

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Berjaya di Final Keluarga

Final Copa del Rey 1979/80 bisa dibilang sebagai final keluarga, sebab publik Madrid akan tetap dibuat bangga siapa pun yang jadi juara. Pasalnya, partai final yang digelar di Santiago Bernabeu pada 4 Juni 1980 itu mempertemukan Real Madrid dengan Castilla CF (sekarang Real Madrid B).

Di Spanyol, kesebelasan-kesebelasan peserta La Liga memang punya tim cadangan yang diikutsertakan dalam divisi-divisi di Liga Spanyol, dengan catatan tim cadangan tak boleh berada satu divisi dengan tim utama. Kala itu Castilla CF adalah tim cadangan Real Madrid yang bermain di Segunda Division, satu tingkat di bawah La Liga.

Meski di liga mereka hanya finish di posisi tujuh, tetapi musim itu mereka berhasil mencapai final Copa del Rey. Perjalanan ke puncak berhasil diraih setelah mengalahkan tim-tim papan atas seperti Hercules, Real Sociedad, Bilbao, dan Sporting Gijon.

Namun, manakala bertemu klub induknya, Real Madrid, mereka justru tampil buruk. Apakah hal itu sengaja dilakukan untuk menghormati sang senior? Entahlah. Yang pasti terjadi, setelah peluit panjang ditiup Angel Franco Martinez, tiada tangis kekalahan meski Castilla CF dibantai saat itu.

Menit ke-20, Juanito membuka keunggulan tim senior, setelah berhasil memanfaatkan kemelut di depan gawang tim junior. Berselang 22 menit dari gol Juanito, Carlos Alonso Gonzalez, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Santinalla, berhasil menambah angka bagi tim senior. Lagi-lagi buah dari kemelut di depan gawang tim Castilla. Skor 2-0, untuk keunggulan Real Madrid pun bertahan hingga turun minum.

Pada awal babak kedua, tim senior berhasil menambah dua gol, lewat Andres Sabido pada menit ke-59 dan gol Vicente del Bosque tiga menit sesudahnya. Di ruang ganti pemain seolah bukan bicara taktik, melainkan ramah-tamah antara keluarga yang kebetulan sedang berjumpa dalam satu atap yang sama.

Tim Castilla baru berhasil mencetak angka pada menit ke-80, setelah gelandang mereka, Ricardo Alvarez, menendang bola dari luar kotak penalti. Castilla memperkecil kedudukan menjadi 4-1.

Namun usaha Alvarez itu tampaknya tak berarti apa-apa. Los Blancos senior kembali menambah angka lewat gol pemain pengganti Francisco Garcia Hernandez pada menit ke-82 dan gol kedua Juanito pada menit ke-89. Pertandingan pun berakhir dengan skor telak 6-1, untuk kemenangan Real Madrid.

Lantas pertanyaannya, apakah final keluarga dapat terulang kembali?

Setelah tahun 1991, tim cadangan dianggal sebagai entitas yang sama dengan tim induk sehingga dilarang berpartisipasi dalam Copa del Rey. Mau sehebat apa pun Real Madrid B, status mereka tetap tim cadangan dan tidak dapat mengulanng sejarah 4 Juni 1980. Namun bukan hanya negeri Spanyol yang pernah menyajikan partai final keluarga.

Menurut laporan Guardian, di Swedia juga pernah tersaji final keluarga pada 1897. Kala itu, tim cadangan Örgryte IS melaju ke partai puncak Turnamen Swedia. Dengan nasib yang sama seperti Castilla, tim cadangan Örgryte IS juga dipaksa atau terpaksa kalah 1-0 dari tim senior.

Sementara pada Piala Belanda musim 2001/02 nyaris terjadi hal yang sama. Ajax II mampu mengalahkan De Graafschap di babak ketiga, Twente di babak keempat, dan Telstar di perempat final. Namun perjuangan tim cadangan Ajax harus terhenti di babak semifinal. Mereka kalah 7-6 dari Utrecht melalui adu penalti. Hasil itu menggagalkan tersajinya partai final keluarga karena di semifinal lainnya, Ajax senior berhasil melangkah ke final.

Komentar