Klub Inggris Rasa Jerman

Backpass

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Klub Inggris Rasa Jerman

“Portsmouth telah memberiku perasaan seperti di rumah sendiri walau sebenarnya aku jauh dari rumah. Mungkin aku akan meninggalkan Portsmouth secara fisik, namun kau tak bisa mengambil Portsmouth dari hatiku. Ini adalah tahun yang sulit untuk kita di klub. Tapi, pada saat yang sama, ini adalah pengalaman yang hebat baik secara personal maupun profesional. Aku dibanjiri oleh banyak surat dan email dari para suporter. Banyak dari surat itu telah membuatku berlinang air mata. Aku tak akan pernah melupakanmu, suporter loyal Pompey, yang tanpa ragu telah banyak membantuku dan tim di bawah situasi yang sulit. Hanya ada beberapa tim di dunia ini yang memiliki suporter se-fanatik kalian. Melihat kalian semua tetap berkepala tegak di tengah situasi sulit ini, adalah hadiah terbaik untukku.”

Kutipan di atas merupakan surat perpisahan yang ditulis Avram Grant kepada para suporter Portsmouth, ketika dirinya memutuskan mundur sebagai pelatih Portsmouth pada musim 2009/10. Saat itu, situasi sulit sedang merundungi Pompey.

Krisis keuangan yang menyebabkan seringnya Portsmouth berganti kepemilikan, adalah masalah yang mereka hadapi ketika itu. Setelah beberapa kali berganti kepemilikan, keadaan finansial mereka tak kunjung membaik dan malah memburuk. Hingga akhirnya, para suporter mereka sendiri yang tergabung dalam Pompey Supporters Trust (PST), mengambil alih kepemilikan klub.

Seperti tergambar dalam surat Avram Grant, kisah tentang Portsmouth memang tak bisa dipisahkan dengan kisah para pendukungnya. Mustahil bercerita tentang Portsmouth tanpa sekali pun bercerita tentang suporternya—keduanya adalah manunggal.

***

Sedari awal, Portsmouth sendiri memang lahir berkat gagasan orang-orang yang menggilai sepakbola di kota Portsmouth. Pada 5 April 1898, Sir John Brickwood, seorang pemilik pabrik bir lokal, mengajak lima orang kawannya yang menenggemari sepakbola untuk membentuk sebuah sindikat dan membeli sepetak tanah di lahan pertanian Goldsmith Avenue guna membangun lapangan sepakbola. Dari sindikat tersebut, lahir sebuah klub bernama "The Portsmouth Football and Athletic Company".

Sebelum klub ini lahir, kota Portsmouth sebetulnya sudah memiliki tim sepakbola amatir. Tim tersebut adalah Portsmouth Association Football Club serta Royal Artillery Football Club, namun keduanya sudah terlebih dulu bubar.

Desain lapangan sepakbola yang akan dibangun di kawasan Goldsmith Avenue pun dirancang oleh Arthur Edward Cogswell, seorang arsitek yang sangat menggemari sepakbola. Ia juga merupakan pendiri Portsmouth Association FC sebelumnya.

Pada 15 Agustus 1899, lapangan yang dinanti-nantikan oleh segenap masyarakat Portsmouth rampung dibangun. Lebih dari 1.000 orang—termasuk para mantan pesepakbola amatir Portsmouth terdahulu—menghadiri pembukaan lapangan sepakbola yang kemudian mereka namai “Fratton Park”.

Pertandingan pertama yang digelar di Fratton Park terjadi pada 5 September 1899. Mempertemukan Portsmouth dengan rival lokal mereka, Southampton. Portsmouth berhasil menang 2-0 di laga tersebut.

Tahun tersebut juga merupakan tahun pertama Portsmouth berlaga di Southern League. Penampilan perdana mereka di ajang tersebut terbilang memuaskan. Dari 28 laga yang dimainkan, mereka meraih 20 kemenangan.

Pada musim 1920/21, Portsmouth berhasil promosi ke divisi tiga Liga Inggris dan menempati peringkat ke-12 saat akhir musim.

Pada musim 1938/39, Portsmouth tampil gemilang di Piala FA. Mereka menjuarai turnamen tersebut setelah di final mengalahkan Wolverhampton Wanderes dengan skor 4-1. Gelar itu adalah gelar Piala FA pertama mereka.

Portsmouth baru berhasil menembus Liga Primer Inggris pada musim 2003/04. Di musim pertamanya sebagai tim promosi, Portsmouth sebenarnya memiliki catatan kandang yang baik. Dari 38 pertandingan yang dijalani, Porstmouth hanya kalah empat kali ketika bermain di Fratton Park. Sayangnya catatan baik di kandang tak berbanding lurus ketika menjalani laga tandang, sehingga di akhir musim mereka hanya mampu berada di peringkat ke-13 klasemen.

Musim 2007/08, dapat dikatakan, merupakan musim terbaik Portsmouth selama tampil di Liga Primer Inggris. Di bawah arahan Harry Redknapp, mereka sempat menembus papan atas dengan menduduki peringkat keempat pada November 2007. Namun penampilan yang menurun setelahnya, menyebabkan mereka turun ke peringkat kedelapan.

Penampilan mereka lalu menanjak kembali saat memasuki tahun 2008. Mereka berhasil naik ke peringkat keenaam sebulan sebelum musim berakhir. Tapi lagi-lagi inkonsistensi menyebabkan mereka gagal mempertahankan prestasinya. Gagal menang di empat laga pamungkas, membuat Portsmouth berakhir di posisi kedelapan klasemen akhir. Tapi terlepas dari itu semua, posisi kedelapan di Liga Primer ini merupakan yang tertinggi dan prestasi tersendiri bagi mereka.

Pada musim itu pula Portsmouth kembali berhasil melenggang ke final Piala FA setelah terakhir kali tampil di final dan menjadi juara pada 1939. Pada final yang digelar di Stadion Wembley tersebut, mereka berhadapan dengan Cardiff City.

Portsmouth tampil menurunkan skuat terbaik mereka seperti David James, Glen Johnson, Lassana Diarra, Sulley Muntari, hingga Nwankwo Kanu. Menit ke-37, Kanu berhasil membawa Portsmouth unggul satu gol. Skor yang bertahan hingga akhir laga itu membuat Portsmouth keluar sebagai juara—mengulang apa yang mereka lakukan pada 1939. Berkat raihan ini, Portsmouth juga berhak untuk mengikuti kualifikasi Piala UEFA 2008/09. Ini adalah pertama kalinya Portsmouth mengikuti kualifikasi di ajang Eropa.

Namun nahas, usai mereguk nikmatnya masa kejayaan mereka, Portsmouth mulai diterjang badai masalah pada musim 2008/09. Di awal musim, rumor bahwa Portsmouth sedang menghadapi masalah utang karena pengeluaran mereka yang tak terkendali, mulai berkembang. Sang pemilik, Alexandre Gaydamak, mulai mempertimbangkan untuk menjual Portsmouth.

Masalah ini turut berimbas pada performa tim di lapangan. Di laga awal Liga Primer musim 2008/09, Portsmouth harus menelan kekalahan dari Chelsea dengan skor telak, 4-0. Keadaan semakin sulit saat beberapa pemain bintang mereka seperti Lassana Diarra dan Jermain Defoe memutuskan untuk angkat kaki dari klub, mengikuti jejak sang pelatih, Harry Redknapp. Portsmouth pun akhirnya berada di peringkat ke-14 klasemen akhir musim itu—hanya berselisih tujuh poin dari klub yang terdegradasi.

Karena tak lagi mampu menanggung krisis keuangan yang diderita Portsmouth, akhirnya Gaydamak memutuskan untuk menjual Portsmouth kepada seorang pengusaha asal Uni Emirat Arab, Sulaiman Al-Fahim. Namun peralihan kepemilikan kepada Al-Fahim mengundang kontroversi saat itu. Al-Fahim diduga kuat tak memiliki cukup dana untuk menjalankan perusahaan. Dugaan ini semakin kentara setelah Portsmouth memutuskan untuk menjual beberapa pemain kunci mereka seperti Peter Crouch, Glen Johnson, hingga Sylvain Distin dengan harga yang fantastis.

Di samping itu, peralihan kepemilikan dari Gaydamak ke Al-Fahim ini juga merupakan titimangsa awal terjadinya periode sulit bagi Portsmouth. Beberapa kali mereka berganti pemilik namun masalah yang mereka hadapi tak kunjung selesai. Hingga akhirnya, suporter mereka sendiri yang mengambil alih kepemilikan klub.

***

Dugaan bahwa Al-Fahim tidak akan mampu membawa Portsmouth keluar dari masalah yang membelenggunya ternyata benar. Keadaan malah semakin buruk; gaji pemain telat dibayar. Sadar bahwa dirinya tak lagi mampu menangani Portsmouth, Al-Fahim akhirnya menjualnya kembali. Kali ini pengusaha asal Arab Saudi, Ali-al Faraj, menjadi pemilik Portsmouth.

Saat berada di bawah pengelolaan Faraj, keadaan tidak sedikit pun berubah. Faraj bahkan tidak pernah sekali pun menghadiri pertandingan-pertandingan Portsmouth. Gaji pemain tetap telat dibayar, bahkan Portsmouth tak mampu untuk sekedar membayar biaya domain situs resmi mereka. Alhasil situs resmi mereka pun saat itu ditutup karena menunggak.

Pelatih mereka saat itu, Avram Grant, memilih untuk meninggalkan klub kendati dengan sangat berat hati. Portsmouth pun pada musim 2009/10 itu terdegradasi dari Liga Primer ke Divisi Championship.

Tidak ingin melihat Portsmouth terus menerus berada dalam kesulitan, sebagian suporter mulai berpikir untuk mengakuisisi klub. Pada bulan September 2009, para suporter Portsmouth melakukan pertemuan untuk membicarakan rencana tersebut. Setelah melakukan beberapa kali pertemuan, akhirnya pada 23 Desember 2009 mereka meresmikan kelompoknya dengan nama Pompey Trust Supporters (PST).

Selang tiga tahun, tepatnya pada bulan Maret 2012, setelah melihat prestasi Portsmouth tak membaik dan malah kian menurun dengan terdegradasi ke League One, PST mulai melakukan penawaran untuk membeli Portsmouth. PST mulai mencoba mengumpulkan dana dengan meminta para suporter untuk menyumbang sebesar 100 paun per orang.

Upaya yang dilakukan PST mendapat apresiasi dari masyarakat luas ketika itu. Bahkan Parlemen Inggris mendesak Balram Chainrai (pemilik Portsmouth ketika itu) untuk menerima tawaran PST. Namun Balram masih enggan melepas Portsmouth.

Walau penawaran demi penawaran selalu ditolak, PST tak berhenti berupaya. Hingga pada tanggal 10 April 2013, setelah melalui serangkaian proses panjang di pengadilan, PST dinyatakan resmi mengambil alih kepemilikan Portsmouth. Mereka menunjuk Iain McInnes sebagai ketua.

Saham PST ketika itu terbagi kepada sekitar 2.300 pemegang saham. Setelah setahun lebih bertugas, tepatnya pada September 2014, Portsmouth dinyatakan bebas utang. Ya, suporter mereka sendirilah yang akhirnya dapat mengatasi permasalahan yang membelit Portsmouth selama bertahun-tahun.

Selain itu, pada 2014, PST juga berhasil untuk mengajak suporter Portsmouth lainnya mengumpulkan sumbangan untuk membangun kamp latihan Portsmouth, serta membentuk akademi Portsmouth. Hanya dalam waktu dua bulan, sumbangan sudah terkumpul sebesar 270.000 paun.

Pencapaian ini tentu sangat luar biasa. Bahkan mantan pemain mereka, Andy Awford, mengaku sangat bangga bisa menjadi bagian dari pencapaian monumental ini.

“Saya telah menjadi bagian dari Portsmouth FC, sejak tahun 1989 dan telah mengalami beberapa masa yang menakjubkan dengan penggemar dan komunitas. Tapi tidak ada yang sebanding dengan kegilaan yang kami alami selama 6 tahun terakhir. Dari menjuarai Piala FA dan menempati peringkat kedelapan Liga Primer, hingga terdegradasi serta menghadapi ancaman kebangkrutan. Bersama-sama sebagai komunitas, kami mengatasi ancaman ini ketika fans datang untuk membeli klub dan menjadikan mereka fans terbesar di Inggris yang memiliki sebuah klub. Sejak itu, kita bekerja untuk mengembalikan klub ke jalur yang benar dan berusaha membangun pondasi untuk menciptakan pengelolaan yang berkelanjutan dengan dukungan kolektif dan bukan bersandar pada seorang pengusaha. Ini luar biasa, sebagai klub yang tak pernah memiliki kamp berlatih sendiri, saya bangga menjadi bagian dari semua ini,” tuturnya.

Pada 2016, sebagai bentuk perayaan, PST meresmikan sebuah plakat yang mereka pasang di dinding belakang tribun utara. Plakat itu memuat nama-nama 2.300 orang pemegang saham PST yang telah menyelamatkan Portsmouth dari kebangkrutan.

***

Apa yang telah dilakukan oleh para suporter Portsmouth menunjukkan bahwa di saat-saat yang paling genting sekalipun, kesetiaan suporter pada klub yang dicintainya tidaklah terbantahkan. Mereka bersama-sama berupaya sebisa mungkin untuk menyelamatkan Portsmouth dari kebangkrutan dan mengeluarkan klub mereka dari jeratan utang, hingga akhirnya bisa membangun fasilitas latihan sendiri dan membentuk akademi.

Selamat ulang tahun, Portsmouth! Sampai kapan pun kau tetaplah milik para pendukungmu.

Komentar