Rocky Dalam Keabadian

Backpass

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Rocky Dalam Keabadian

Tujuh belas tahun sudah David Rocastle pergi menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Tapi bagi partisan Arsenal, sosoknya tetap abadi untuk dicintai selama-lamanya. Di mata pendukung Arsenal, pesepakbola yang karib disapa Rocky itu adalah pahlawan dengan permainannya yang memukau.

Rocky memang bukan tipikal gelandang yang rajin mencetak gol. Namun kemampuannya mengatur serangan membuat permainan Arsenal kala itu cair. Bersama Tony Adams, Michael Thomas, dan Paul Merson, Rocky menjadi sosok ikonik yang mengubah era kelam The Gunners menjadi massa keemasan di era 1980-an.

Melalui pencapaian tersebut, tak berlebihan bila sampai saat ini, nama Rocky masih terus disuarakan fans Arsenal di stadion.

***

Spanduk Rocky di salah satu sudut tribun stadion Emirates. Sumber Foto: Daily Mail

Rocky merupakan pesepakbola asli didikan Arsenal. Di Akademi Arsenal perkembangannya pesat. Di usia 18 tahun, Rocky sudah mendapat kesempatan bermain di tim utama. Debutnya bersama Arsenal terjadi pada September 1985, melawan Newcastle United.

Don Howe, Manajer Arsenal kala itu, bahkan langsung memberi kepercayaan kepada Rocky tampil sebagai starter dan tampil selama 90 menit penuh. Penampilannya saat itu memang tidak bisa dikatakan bagus, namun juga tidak buruk bagi seorang debutan.

“Masih ada beberapa keputusannya di lapangan yang belum tepat. David memberi umpan ketika dia seharusnya menembak, dan menembak ketika dia seharusnya mengumpan. Tapi dia akan menjadi pemain hebat," kata Howe, seusai laga yang berakhir imbang 0-0 itu.

Setelah debut yang cukup mengesankan, performa Rocky semakin menanjak. Terlebih, setelah kedatangan George Graham yang menggantikan posisi Howe. Rocky kemudian menjadi sosok sentral di lini tengah Arsenal, saat usianya belum genap 20 tahun. Pencapaian terbaik Rocky di era awal kiprahnya bersama Arsenal terjadi pada 1987.

Dalam pertandingan final Piala Liga Inggris musim 1986/87 menghadapi Liverpool. Rocky memang tidak mencetak gol dalam pertandingan tersebut. Namun permainan impresifinya di lini tengah Arsenal membuat Liverpool tak berkutik dalam permainan.

Faktanya, Liverpool memang mencuri gol lebih dulu melalui Ian Rush pada menit ke-23. Namun Charlie Nicholas kemudian menjadi pembeda setelah dua golnya di menit ke-30 dan ke-83. Trofi di Piala Liga Inggris menjadi piala pertama yang diraih Arsenal dalam delapan tahun terakhir.

Musim 1988/89 menjadi tahun yang paling menggairahkan bagi Arsenal dan Rocky. Ia selalu menjadi pilihan utama Graham sepanjang musim tersebut. Perannya begitu vital di lini tengah Arsenal. Di penghujung musim, Arsenal terlibat dalam pertarungan sengit dengan Liverpool untuk mencapai tangga juara.

Saat itu Arsenal tertinggal dua poin dari Liverpool sebagai pemuncak klasemen. Laga penentuan kemudian dimainkan Arsenal melawan Liverpool di Anfield. Hampir tidak ada harapan bagi Arsenal untuk bisa mengalahkan Liverpool yang hebat itu. Namun, prediksi kebanyakan orang kemudian dimentahkan, karena akhirnya Arsenal mengalahkan Liverpool dua gol tanpa balas dan merayakan gelar juara di Anfield.

Rocky jelas berperan dalam kemenangan Arsenal atas Liverpool. Ia menjadi kreator dari gol pertama Arsenal yang dicetak Alan Smith. Umpan dari tendangan bebas Rocky disambar oleh tandukan Smith untuk membobol gawang Bruce Grobbelaar.

Pada masa injury time, Michael Thomas semakin menenggelamkan Liverpool. Pergerakannya mampu menerobos pertahanan Liverpool dan mengirim tembakan keras yang menembus gawang Grobbelaar. Arsenal membungkam mulut Liverpool, raja sepakbola Inggris kala itu.

Seketika wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir dan kegembiraan pun meluap, memupus puasa gelar di kompetisi domestik selama 18 tahun lamanya. Kali terakhir Arsenal meraih gelar di kompetisi adalah tahun 1971.

Setelah itu, Rocky terus menunjukkan sinarnya bersama Arsenal, hingga akhirnya redup di musim 1990/91. Saat itu Arsenal berhasil menjadi kampiun di kompetisi domestik. Namun Rocky tak banyak berkontribusi dalam keberhasilan tersebut lantaran cedera lutut yang dialaminya. Cedera yang terbilang parah, karena ia absen hampir semusim. Hanya 18 pertandingan yang dilakoni di semua ajang.

Semusim kemudian, kondisi Rocky tampak jauh lebih membaik. Di musim 1991/92, Rocky kembali memainkan peran sebagai sosok sentral di lini tengah Arsenal. Tapi saat ia kembali, Arsenal hanya finish di urutan empat klasemen akhir Liga Inggris. Performa Rocky juga tak terlalu menawan di musim tersebut. Maklum, ia masih dalam proses mengembalikan performa terbaiknya setelah absen cukup lama.

Namun, pukulan telak malah didapatkannya di akhir musim 1991/92. Arsenal menyepakati proposal penawaran sebesar 2 juta paun dari Leeds United untuk memboyong Rocky. Hancurlah perasaan Rocky yang terbuang dari Arsenal, klub yang ia cintai. Tapi, Arsenal dan Graham juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas keputusan tersebut.

Setidaknya, Graham mencoba bersikap realistis. Dalam benaknya, cedera Rocky takkan mungkin pulih seratus persen. Artinya, berpotensi kambuh suatu saat nanti. Enggan ambil risiko, Graham pun akhirnya menyepakati penjualan Rocky ke Leeds United.

Magis Rocky tak terlihat di Elland Road. Hanya semusim ia membela panji Leeds United, dan dilepas pada akhirnya. Ia kemudian menjadi pengelana, menjalani karier nomaden bersama Manchester City (1993/94), Chelsea (1994/98), Norwich City (1997, pinjaman), dan Hull City (1997, pinjaman).

Pada musim 1999, Rocky mencoba petualangan baru dengan menjajal persaingan di Asia Tenggara. Ia bergabung bersama klub Malaysia, Sabah FA. Tapi, kiprahnya tak berlangsung lama. Hanya 13 pertandingan yang dimainkan, karena cedera lututnya kambuh. Pada akhir musim 1999, Rocky memutuskan gantung sepatu.

Setelah pensiun, Rocky memiliki banyak rencana dalam kehidupannya. Menjadi pelatih adalah mimpi terbesarnya. Namun, takdir berkata lain. Dua tahun setelah gantung sepatu, Rocky muncul dengan kabar yang mengiris hati.

Pada Februari 2001, dia mengumumkan bahwa dia menderita limfoma non-Hodgkin. Kanker yang secara agresif menyerang sel darah dalam tubuhnya. Seketika, setelah pengumuman tersebut kondisi kesehatannya terus memburuk. Fisiknya tak lagi sebugar dulu. Tony Adams, mantan pemain Arsenal yang juga rekan setimnya pernah menyebut Rocky sebagai pesepakbola dengan bentuk tubuh yang kuat. Kakinya yang berotot, digambarkan Adams layaknya “batang pohon” yang kokoh.

Namun setelah terpapar kanker, kondisi Rocky jauh berbeda dari apa yang pernah digambarkan Adams. Tubuhnya mengering, tampak hanya tersisa kulit dan daging. Rambut hitamnya rontok satu per satu. Pipinya cekung, menggambarkan betapa kurusnya Rocky. Bahkan, kacamata yang biasa menempel di matanya pun jadi terlihat lebih besar untuk ukuran wajahnya.

Di dadanya, terlihat bercak kehitaman bekas kemoterapi. Kondisinya benar-benar memprihatinkan. Bahkan untuk berkata-kata saja ia harus mengerahkan semua tenaga yang dimilikinya.

Pagi hari di tanggal 31 Maret 2001, kondisi kesehatan Rocky semakin memburuk. Ia tak lagi bisa menahan sakit yang menggerogoti tubuhnya. Rocky menyerah dan dinyatakan meninggal dunia, dengan seragam Arsenal terletak di samping tubuhnya yang membiru.

Kabar kematian Rocky pun menyebar luas di seantero Inggris. Publik sepakbola negeri Ratu Elizabeth dirundung duka, karena kehilangan salah satu talenta terbaiknya. Khususnya bagi partisan Arsenal, kepergian Rocky tak hanya menjadi duka, namun pukulan yang membuat kesedihan membuncah.

Komentar