Meromantisasi Piala Anglo Italia

Backpass

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Meromantisasi Piala Anglo Italia

Piala Anglo Italia bukan turnamen besar apalagi penting. Turnamen yang melibatkan kesebelasan Inggris dan Italia itu lebih dikenal karena rumitnya format turnamen yang diadopsi, hingga kekerasan suporter dan pemain di lapangan.

Meski begitu, bagi sebagian besar kesebelasan Inggris yang pernah ambil bagian Piala Anglo Italia, turnamen tersebut memiliki sisi romantisme yang sulit dilupakan. Tanpa Piala Anglo Italia, tim-tim seperti Swindon Town atau Carlisle United mungkin takkan pernah punya kesempatan menjajal kekuatan klub besar Italia seperti Fiorentina, Juventus, AS Roma, hingga Inter Milan.

Greg Lea, dalam tulisannya yang berjudul “Remembering The Ill-Fated But Exciting Anglo-Italian Cup” di These Football Times mengatakan: “Ketidaksempurnaan menjadi bagian besar dari apa yang membuat Piala Anglo-Italia begitu romantis.”

***

Piala Anglo Italia mulai digulirkan pada 1970. Turnamen tersebut diinisiasikan oleh seorang sosok karismatik yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah sepakbola Italia, Gigi Peronace. Ia bukan pesepakbola profesional. Sosoknya lebih dikenal sebagai negosiator atau agen yang kerap terlibat dalam proses transfer antara kesebelasan Italia dengan pemain Inggris.

Peronace pernah terlibat dalam kepindahan Jimmy Greaves dari Chelsea ke AC Milan, hingga Liam Brady dari Arsenal ke Juventus. Kemampuan Peronace dalam melihat potensi pemain pun tak diragukan lagi. Sebelum menjadi agen pada 1957, ia sempat bekerja sebagai manajer transfer SS Lazio.

Selain itu, Peronace juga memiliki kemampuan mengelola turnamen hingga kompetisi. Pada Perang Dunia II, ia beberapa kali menjadi promotor pertandingan persahabatan antara tentara Inggris melawan Italia. Setahun sebelum Piala Anglo Italia digelar, Peronace pun menjadi sosok sentral kesuksesan penyelenggaraan Liga Anglo Italia.

Bisa dibilang, Piala Anglo Italia merupakan kepanjangan tangan dari Liga Anglo Italia yang digelar pada 1969. Namun, cikal bakal terselenggaranya turnamen tersebut justru terjadi di Piala Liga Inggris. Tarik mundur ke pertengahan tahun 1969, saat itu FA dibuat kesal dengan kebijakan UEFA yang melarang Swindon Town tampil di Piala Inter-Cities Fairs (Liga Europa) 1970.

Swindon yang berstatus sebagai juara Piala Liga Inggris 1969 sejatinya berhak tampil di Piala Inter-Cities Fairs 1970. Sebab, kala itu FA memiliki kebijakan memberi satu jatah di Piala Inter-Cities Fairs kepada juara Piala Liga Inggris.

UEFA sendiri melarang Swindon Town tampil di Piala Inter-Cities Fairs 1970 karena statusnya sebagai kontestan divisi tiga. Mereka menganggap bahwa Swindon tak masuk dalam kualifikasi tim yang berhak tampil di Piala Inter-Cities Fairs. Kejadian yang dialami Swindon serupa dengan Queens Park Rangers (QPR) dua tahun sebelumnya.

Tapi kali ini FA bertindak. FA berupaya memberi kesempatan bagi Swindon mencicipi panasnya persaingan kompetisi Eropa. Mereka kemudian melobi FIGC untuk menggelar laga antara dua juara turnamen domestik dari masing-masing negara.

Gayung bersambut, FIGC menyetujui permintaan FA. Pada akhir 1969, digelar pertandingan antara Swindon melawan AS Roma, jawara Coppa Italia. Dalam pertandingan yang berlangsung dalam dua leg itu, secara mengejutkan Swindon keluar sebagai pemenang dengan keunggulan agregat 5-2 (1-2, 4-0).

Terlepas dari hasil akhir pertandingan Roma melawan Swindon yang mengejutkan, laga tersebut nyatanya mendapat atensi luar biasa dari publik sepakbola Italia maupun Inggris. Besarnya animo penonton pun dianggap Peronace sebagai ladang bisnis yang menguntungkan.

Enam bulan setelah pertandingan leg dua antara Swindon melawan Roma di County Ground, Peronace mendeklarasikan bergulirnya sebuah turnamen yang melibatkan kesebelasan Inggris dan Italia, bertajuk Piala Anglo Italia. Bukan perkara sulit bagi Peronace menggelar turnamen tersebut. Melalui koneksinya dengan sejumlah petinggi FA dan FIGC, ia mendapat persetujuan menggelar turnamen yang melibatkan klub dari dua negara tersebut.

Keunikan, atau mungkin lebih tepatnya keanehan, format turnamen yang diadopsi Piala Anglo Italia terlihat sejak penyelenggaraan pertama pada 1970. Turnamen yang melibatkan 12 kesebelasan itu membagi setiap pesertanya dalam tiga grup yang masing-masing dihuni empat kesebelasan (dua tim Inggris dan dua tim Italia). Di setiap grup, tim yang berasal satu negara yang sama tidak akan dipertemukan. Artinya, tim asal Italia hanya akan bertemu tim asal Inggris, begitu pun sebaliknya.

Penghitungan poin yang digunakan di Piala Anglo Italia pun berbeda dari turnamen atau kompetisi sebagaimana mestinya. Jamaknya, tim pemenang akan mendapat tiga poin. Namun di Anglo Italia, tim pemenang hanya diganjar dua poin. Sementara hasil imbang diganjar satu poin. Selain itu, jumlah gol yang dicetak setiap kesebelasan pun akan masuk dalam penghitungan poin. Misalnya, bila sebuah kesebelasan memenangkan pertandingan dengan skor 3-0, maka mereka akan mendapat total lima poin (dua poin dari kemenangan dan tambahan tiga poin dari gol yang dicetak).

Hal unik lain dari turnamen tersebut ada pada aturan offside yang diterapkan. Aturan offside hanya berlaku ketika pemain berada di kotak penalti lawan. Selebihnya, aturan offside tidak akan berlaku.

Singkat cerita, Piala Anglo Italia 1970 memunculkan Napoli dan Swindon Town sebagai dua kesebelasan yang berhak melenggang ke babak final. Pertandingan kala itu digelar di Stadion San Paolo, Naples, Italia. Berstatus sebagai tim tamu Swindon tampil trengginas. Sebelum pertandingan memasuki menit 70, wakil Inggris itu telah unggul 3-0.

Sialnya, keunggulan Swindon memantik kemarahan suporter Napoli. Para pendukung Napoli yang tak puas mulai bertindak anarkis. Mereka mengamuk dengan melempar botol hingga bangku stadion ke lapangan. Akibatnya 100 orang mengalami luka-luka. Kepolisian setempat akhirnya menangkap 30 orang yang dianggap sebagai dalang kerusuhan.

Suasana kala itu tak bisa lagi dikendalikan, hingga wasit menghentikan pertandingan di menit 76. Swindon yang kala itu tengah unggul 3-0 pun dinyatakan sebagai pemenang dan berhak menyandang status sebagai kesebelasan pertama yang menjuarai Piala Anglo Italia.

Meski sempat diwarnai kericuhan suporter, dari tahun1970 hingga 1973, Piala Anglo Italia rutin diselenggarakan pada setiap tahunnya. Sayangnya, setelah itu Piala Anglo Italia terhenti dengan memunculkan Newcastle United sebagai juara terakhir di tahun 1973. Terhentinya Piala Anglo Italia dilatarbelakangi semakin menurunnya minat tim Inggris ambil bagian di ajang tersebut.

Faktanya memang sejak awal FA jarang mengirim tim dari divisi utama berlaga di Piala Anglo Italia. Kebanyakan kesebelasan Inggris yang tampil di sana adalah kontestan dari divisi dua. Sementara FIGC justru selalu mengirim tim-tim terbaiknya.

Tapi Piala Anglo Italia hiatus hanya selama tiga tahun saja. Pada 1976 turnamen kembali digelar dengan format berbeda. Status turnamen berubah dari profesional ke semi-profesional. Hal tersebut dikarenakan partisipan di ajang tersebut semua berasal dari divisi tiga Italia dan Inggris. Melalui format tersebut, Piala Anglo Italia bertahan selama 10 tahun, sebelum kembali terhenti pada 1986.

Setelah enam tahun mengalami mati suri, tepat pada 1992, Piala Anglo Italia kembali bergulir. Saat itu status Piala Anglo Italia kembali menjadi turnamen profesional. Sayangnya, Piala Anglo Italia periode ketiga hanya bertahan selama empat tahun. Pada 17 Maret 1996, pertandingan terakhir di turnamen tersebut digelar di Wembley, mempertemukan Genoa melawan Port Vale. Saat itu, Genoa menang 5-2 dan berhak atas gelar juara. Klub tertua Italia itu juga berhak atas status juara terakhir di Piala Anglo Italia.

Akan tetapi tahun terakhir penyelenggaraan Piala Anglo Italia tercoreng dengan tindakan kekerasan yang melibatkan pemain dan pelatih. Saat itu, digelar pertandingan antara Ancona melawan Birmingham. Pertandingan berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan Birmingham, para pemain Ancona pun berang.

Sejak awal pertandingan sudah berlangsung dalam tensi tinggi. Kericuhan kecil kerap terjadi di lapangan, hingga memuncak saat pemain Birmingham, Paul Tait, bereaksi buruk terhadap pelanggaran keras kepada Marco Sesia. Aksi tak terpuji dilakukan Paul hingga membuat emosi pemain Ancona tak terkendali lagi. Keributan pun terjadi hingga melibatkan pelatih dari kedua kesebelasan.

Pihak keamanan sigap melerai para pemain yang saling bertikai. Buntut dari perkelahian tersebut, dua pemain Birmingham, Michael Johnson dan Liam Daish, serta Manajer David Howell secara resmi dikenai tuduhan atas tindakan kekerasan. Namun Johnson, Daish, dan Howenn menolak menghadiri persidangan di Italia. Konon, ketiga sosok tersebut sampai dengan saat ini masih memiliki risiko ditangkap bila suatu saat kembali ke Italia.

Komentar