Belajar Menghargai Kuda Hitam dari Negara Antah-Berantah, Kepulauan Faroe

Backpass

by Dex Glenniza Pilihan

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Belajar Menghargai Kuda Hitam dari Negara Antah-Berantah, Kepulauan Faroe

Berada di sebuah negara kepulauan kecil antah-berantah di antara Skotlandia, Islandia, dan Norwegia, apakah masih ada sepakbola di sana? Negara tersebut adalah Kepulauan Faroe, yang secara harfiah memiliki arti “Kepulauan Domba”. Bukan sembarangan nama, di negara ini memang domba lebih banyak dari manusia. Jadi, masih ada kah sepakbola di Kepulauan Faroe?

Tidak seperti Islandia, Kepulauan Faroe lebih kerdil. Jangan disamakan juga karena Islandia sudah berhasil lolos ke Piala Eropa dan Piala Dunia, sementara Kepulauan Faroe masih berkutat dengan domba (dan ikan).

Namun jangan salah, negara yang berada di wilayah otonomi Kerajaan Denmark ini adalah salah satu negara yang gila sepakbola.

Letak Kepulauan Faroe - Sumber: Google Maps

Berdasarkan data yang dihimpun oleh The Telegraph, negara ini berada di urutan teratas sepakbola per kapita. Apa artinya? Tidak ada negara yang rasio penduduk yang bermain sepakbolanya lebih besar daripada Kepulauan Faroe.

Tepatnya, 60% dari seluruh 48.000 penduduk Kepulauan Faroe (sedikit sekali jumlah penduduknya, ya) bermain sepakbola, dengan 10%-nya pasti pernah datang ke stadion minimal satu kali, dan satu dari setiap tujuh penduduknya adalah pemain sepakbola.

“Orang-orang Faroe pada gila bola,” kata Páll Guðlaugsson, manajer B68 Toftir, salah satu kesebelasan di divisi teratas Kepulauan Faroe. “Tingkat partisipasi di sini sangat tinggi. Para pemain mulai dari sangat muda, dari usia 5, dan laki-laki dan perempuan sama-sama bermain sepakbola mulai dari sekolah,” katanya, dikutip dari Tobinators.

Masalahnya, banyak dan sering bermain sepakbola tidak membuat sebuah negara menjadi hebat. Sampai saat ini Kepulauan Faroe masih dianggap sebagai kuda hitam di sepakbola Eropa, selevel dengan San Marino, Luksemburg, Andorra, dan bahkan Gibraltar yang cuma punya satu stadion.

Revolusi sepakbola Kepulauan Faroe dimulai dari akar rumput (sintetis)

Meski memiliki lebih banyak stadion daripada Gibraltar, Kepulauan Faroe memiliki musim yang dingin dan sulit dengan rata-rata hujan selama 260 hari per tahun, ditambah angin kencang dan badai, sehingga tidak mungkin menanam rumput alami untuk lapangan sepakbola. Hal ini membuat mereka memakai rumput sintetis di seluruh lapangan sepakbola mereka.

Baca juga: Away Days yang Semu di Liga Gibraltar

Musim sepakbola di negara ini juga hanya berlangsung pada “musim panas”, yaitu April sampai September atau kadang Oktober.

Sepakbola sendiri baru datang ke Kepulauan Faroe pada 1892 melalui pengaruh Inggris. Kesebelasan tertua di sana, Tvøroyrar Bóltfelag (TB), dibentuk oleh pedagang Inggris yang sering berdagang di Selatan Kepulauan Faroe. Sampai saat ini TB masih bermain di divisi teratas, Effodeildin, tapi mereka harus merger dengan FC Suðuroy dan Royn.

Selama 50 tahun sejak TB berdiri, Kepulauan Faroe baru memiliki kejuaraan nasional. Asosiasi Sepakbola Kepulauan Faroe (ISF) adalah pengurus kejuaraan nasional tersebut. Namun, ISF diambil alih oleh FSF (Fótbóltssamband Føroya) sebagai asosiasi sepakbola Kepulauan Faroe yang baru sejak 13 Januari 1979.

Pengambil alihan FSF ini membuat banyak perubahan positif untuk Kepulauan Faroe, di antaranya pengenalan rumput sintetis pada 1980 untuk mengakali musim yang dingin dan sulit di negara ini. Langkah tersebut menjadi kunci kemajuan sepakbola di Kepulauan Faroe.

“Pada 1960-an dan 1970-an, kami memakai lapangan berbasis pasir, dan permukaannya sangat kasar, dan sangat sulit memprediksi gerakan bola,” kata Heri Nolsøe, pemilik kesebelasan tersukses di seantero negeri tersebut, Havnar Bóltfelag (artinya “Kesebelasan Pelabuhan”, atau biasa disebut “HB”).

“Beruntung, lapangan pasir kemudian digantikan oleh rumput artifisial menggunakan ‘3G’ pitches dengan karet daur ulang. Banyak kota dan bahkan desa terpencil memiliki lapangan-lapangan berumput sintetis yang juga digunakan semua orang, termasuk sekolah, untuk segala jenis olahraga termasuk sepakbola,” lanjutnya, dikutip dari Torbinators.

Pesepakbola sambilan

Ketersediaan lapangan dan kemudahan bermain membuat budaya sepakbola berkembang pesat di Kepulauan Faroe. Namun, sepakbola sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan perikanan, yang sudah menjadi mata pencaharian utama masyarakat Kepulauan Faroe.

Hal ini membuat banyaknya pemain sepakbola di Kepulauan Faroe adalah pekerja paruh waktu, sama seperti para pemain Fiji. Kebanyakan dari mereka adalah nelayan juga, tapi beberapa adalah guru, pekerja bangunan, tukang listrik, pelajar, tukang kayu, pemain catur, sampai penyunting majalah.

Fróði Benjaminsen, pemain dengan caps terbanyak mereka, adalah seorang tukang kayu sekaligus pemadam kebakaran. Sementara Christian Holst yang sudah pensiun, adalah guru. Kemudian Levi Hanssen kadang suka menulis tentang dirinya sendiri, karena ia adalah penyunting majalah ternama di Kepulauan Faroe.

Salah satu pemain mereka yang mencetak sejarah, Torkil Nielsen, pernah bekerja paruh waktu sebagai salesman dan malah saat ini lebih terkenal sebagai salah satu pemain catur terbaik di dunia.

Saat ini Kepulauan Faroe menduduki peringkat ke-95 FIFA (Desember 2017). Mereka pernah menduduki peringkat terbaik mereka di posisi ke-74 (Juli 2015 dan Oktober 2016). Ini adalah pencapaian luar biasa bagi negara yang baru bergabung ke FIFA pada 1988 dan UEFA pada 1990. Bersama Gibraltar, Kepulauan Faroe adalah negara terkecil.

Baca juga: Pak Pengacara Mengumpan Pak Polisi, Lahirlah Gol Bersejarah

Secara mengagumkan, mereka mengawali laga kompetitif pertama mereka dengan kemenangan 1-0 atas Austria (12 September 1990) pada kualifikasi Piala Eropa 1992. Satu gol tersebut dicetak oleh Nielsen, si salesman dan pemain catur yang baru saja ditulis di atas.

Pertandingan tersebut digelar di Landskrona, Swedia, karena saat itu UEFA belum membolehkan penggunaan rumput sintetis untuk pertandingan kompetitif. Sampai saat ini, kemenangan atas Austria tersebut masih dianggap sebagai kemenangan mengejutkan terhebat sepanjang sejarah sepakbola.

Tempat yang sulit didatangi biasanya lebih indah

Divisi teratas di Kepulauan Faroe, Effodeildin, berisi 10 kesebelasan. HB adalah kesebelasan tersukses dengan total 22 gelar liga, diikuti oleh Klaksvíkar Ítróttarfelag (KÍ) dengan 17 gelar, dan seteru abadi HB, yaitu B36 Tórshavn dengan 11 gelar.

Salah satu daya tarik tinggal di Kepulauan Faroe adalah keamanan dan keramahan penduduknya. Setidaknya itu banyak berpengaruh bagi sepakbola di sana. Dua pemain asing di Liga Kepulauan Faroe merasakannya.

“Ketika aku main sepakbola, aku tidak pernah mengunci pintu apartemenku,” kata Ibrahima Camara asal Senegal, yang sudah bermain di Kepulauan Faroe sejak 2011, dikutip dari BBC. “Aku tidak pernah melihat tindak kriminal. Hidup di sini sangat tenang.”

Pemain asing asal Brasil, Alex Jose dos Santos, yang sudah bermain di negara ini sejak 2003, menambahkan: “Brasil terlalu kriminal. Ketika kamu memegang uang, kamu selalu waspada. Di sini (Kepulauan Faroe), kamu mengeluarkan uang dan tidak ada yang peduli. Aku suka orang-orang di sini.”

Setelah UEFA membolehkan penggunaan rumput sintetis, Kepulauan Faroe banyak kedatangan pemain asing. Geliat sepakbola domestik mereka kemudian menular ke level tim nasional.

Mereka sempat banyak memainkan laga kandang di Svangaskarð. Lima dari (hanya) tujuh kemenangan kandang mereka berhasil diraih di stadion yang berada di Kota Toftir tersebut.

Svangaskarð adalah stadion yang sulit dijangkau. Jika ingin datang ke stadion tersebut, kita harus mendarat di ibu kota Tórshavn, kemudian naik bus selama satu jam menuju pelabuhan, dan dilanjutkan naik feri selama 45 menit yang kadang memiliki cuaca yang tidak baik.

Saat ini, kandang tim nasional Kepulauan Faroe sudah dipindahkan ke tempat yang lebih mudah dijangkau, yaitu Tórsvøllur di Tórshavn yang selesai dibangun pada 1999. Foto-foto lapangan sepakbola di Kepulauan Faroe bisa dilihat pada tautan di akhir tulisan ini.

Menghargai perjuangan Kepulauan Faroe, si kuda hitam

Bagi negara kecil seperti Kepulauan Faroe, setiap kemenangan memiliki arti yang sangat besar. Selain kemenangan 1-0 atas Austria pada 1990, kemenangan double mereka atas Yunani (1-0 di tandang dan 2-1 di kandang) pada kualifikasi Piala Eropa 2016 juga masih dianggap sebagai hal yang luar biasa.

“Kadang ketika kamu mengalahkan negara seperti Yunani, orang-orang menjadi gila dan mulai bermimpi,” kata Gunnar Nielsen, dikutip dari Glory.

Gunnar Nielsen juga dikenal sebagai pencetak sejarah lainnya bagi Kepulauan Faroe, karena ia adalah pemain Kepulauan Faroe pertama yang bermain di Liga Primer Inggris. Pemain yang berposisi sebagai penjaga gawang ini melakukannya pada 24 April 2010 bersama Manchester City saat menggantikan Shay Given yang cedera di menit ke-74. Saat itu Man City sedang menghadapi Arsenal, dan pertandingan berakhir imbang tanpa gol.

Baca juga: Kenapa Underdog Disebut Kuda Hitam?

“Pertandingan kandang melawan Yunani, stadion kami penuh. Aku sangat bangga. Air mata berjatuhan di ruang ganti. Orang-orang sangat bangga. Aku sangat bangga dengan tim ini,” kata pemain mereka, Atli Gregersen, dikutip dari No Grass Pitches.

Kekalahan Yunani tersebut membuat Claudio Ranieri, pelatih Yunani saat itu, kehilangan pekerjaannya. Setelah dikalahkan kesebelasan kuda hitam tersebut, ia kemudian menganggur, dan ditunjuk sebagai manajer kesebelasan kuda hitam di Liga Primer Inggris, Leicester City, dan sisanya kita tahu sendiri: sang kuda hitam tersebut menjuarai Liga Primer.

***

Kepulauan Faroe lekat dengan kuda hitam. Negara kepulauan kecil antah-berantah di antara Skotlandia, Islandia, dan Norwegia ini adalah satu di antara sekian banyak negara yang sangat jarang merasakan kemenangan, apalagi kejayaan. Mungkin seperti tim nasional Indonesia pada beberapa kesempatan.

Kadang di luar logika sepakbola yang “serakah”, sebuah kemenangan dari kuda hitam dalam kisah Kepulauan Faroe yang mengalahkan Austria dan Yunani (atau Leicester City menjuarai Liga Primer dalam linimasa yang lebih panjang dan konsisten) adalah cerminan dari aktualisasi diri yang sesungguhnya.

Memenangkan pertandingan seperti itu, yang jarang terjadi dan bisa dihitung dengan jari tangan, adalah kenikmatan luar biasa; walau menangnya hanya sebentar dan sekali-sekali, tapi sensasinya bisa awet sampai lintas generasi.

Menjadi kuda hitam seperti Kepulauan Faroe adalah cara lain bagi kita menghargai momen-momen indah sepakbola meski momen-momen tersebut jarang terjadi, sekaligus membuat kita bersyukur jika kesebelaan favorit kita adalah kesebelasan besar. The beautiful game from the farthest corner.


Kisah Kepulauan Faroe jarang terpublikasikan. Beberapa kami ambil dari sumber-sumber langka seperti: Glory, No Grass Pitches, Tobinators, Pulse, The Oval Log, The Hard Tackle, Belfast Telegraph, Outside of the Boot, dan Squawka.

Jika kamu ingin melihat seperti apa keindahan lapangan sepakbola dan lansekap Kepulauan Faroe, bisa kunjungi foto-foto jepretan Richard Blaxall berikut ini.

Komentar