Cedera yang Mengawali Semua Cedera Ronaldo

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Cedera yang Mengawali Semua Cedera Ronaldo

Silakan ketik “Ronaldo” di mesin pencari, siapa yang akan muncul paling pertama dan paling banyak? Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro atau Ronaldo Luís Nazário de Lima? Ternyata asosiasi Ronaldo bagi mesin pencari, terutama Google, adalah merujuk kepada Cristiano Ronaldo, bukan Ronaldo-nya Brasil.

Jika kita mencari dengan kata kunci “the real Ronaldo” (Ronaldo yang asli), kita baru bisa menemukan Ronaldo-nya Brasil di urutan pertama.

Bagi pemain sepakbola terbaik dunia, dua Ronaldo akan menimbulkan dampak seperti itu, sehingga kita biasa menyebut Ronaldo-nya Brasil dengan sebutan yang cenderung merendahkan, seperti Ronaldo botak atau Ronaldo gemuk.

Mengesampingkan penampilan fisik (botak dan gemuk) dari Ronaldo (selanjutnya akan disebut sebagai Ronaldo), ia sebenarnya pesepakbola yang terkenal terlebih dahulu karena keahliannya mengolah bola, sama seperti Cristiano Ronaldo (selanjutnya akan disebut sebagai Cristiano agar tidak tertukar).

Bisa jadi Ronaldo tidak bisa mendapatkan banyak raihan pemain terbaik dunia (Ballon d’Or) hanya karena ia berbeda nasib dengan Cristiano. Penghakiman kepada nasib tersebut diketuk pada 21 November 1999, atau tepat hari ini (21/11/2017) 18 tahun yang lalu.

***

Pada hari itu, terjadi sebuah tragedi bagi pemain yang memiliki julukan O Fenômeno (“Si Fenomenal”) tersebut. Sebuah tragedi yang mengawali catatan gelapnya sebagai pesepakbola, yang mengubah kariernya selamanya, yaitu cedera tendon lutut.

Cedera tersebut ia dapatkan saat ia bermain bagi Internazionale Milan menghadapi Lecce di Serie A. Setelah pindah dari Barcelona, itu adalah musim ketiganya di Inter bagi peraih Ballon d’Or 1997 tersebut. Pada musim pertamanya ia berhasil mencetak 39 gol dari 56 penampilan di semua kompetisi. Namun, penampilannya agak menurun di musim kedua dengan total 15 gol.

Ronaldo mampu kembali tampil dengan baik di musim ketiganya. Di awal musim 1999/2000 tersebut, ia berhasil mencetak lima gol dari tujuh pertandingan. Gol kelimanya tersebut hadir pada pertandingan melawan Lecce, yang merupakan pertandingan liga pekan ke-10 bagi Inter.

Ia mencetak gol pada menit ke-49 melalui sepakan penalti untuk membawa Inter unggul 5-0 (pada akhirnya Inter menang 6-0). Namun tidak lama setelah gol tersebut, tendon lutut kanannya sobek.

“Aku ingat pertama kali [cedera itu terjadi]; aku kehilangan kemampuan melengkung (flexion) dari lutut kananku,” kata Ronaldo, dikutip dari Globoesporte.

Kambuh setelah kembali bermain selama 7 menit

Cedera tersebut membuatnya harus dioperasi dan mengalami masa rehabilitasi selama lima bulan (total sekitar 140 hari). Ia kembali bermain pada 12 April 2000 di final Coppa Italia menghadapi Lazio. Akan tetapi, ia hanya bermain selama 7 menit karena cedera lututnya, di tempat yang sama dengan jenis cedera yang sama seperti pada 21 November 1999, kembali kambuh untuk kedua kalinya.

Akibat cedera keduanya tersebut, Ronaldo harus absen hingga musim 2001/2002, atau selama 521 hari.

Baca juga: Mengelola Rasa Sakit saat Cedera

Beberapa pakar olahraga curiga jika cedera seperti itu akan mengakhiri kariernya. Beberapa orang juga mulai meragukan Ronaldo setelah ia bermain kembali, karena ia kehilangan kecepatannya. Namun, cerita Ronaldo belum berakhir.

Ronaldo kembali bermain untuk Inter pada 2002, mencetak tujuh gol dalam 14 pertandingan. Ia memang mengubah gaya permainannya menjadi lebih mengandalkan teknik dan naluri mencetak gol alih-alih kecepatan.

Gaya permainan Ronaldo tersebut yang membuatnya memenangkan Piala Dunia 2002 bersama Brasil, di mana ia mencetak 8 gol dan menjadi pemain terbaik. Ia juga memenangkan gelar pribadi sebagai pemain terbaik dunia di tahun tersebut.

Baca juga: Pelajaran dari Cedera Lutut Ronaldo de Lima

Rob Smyth, jurnalis The Guardian, menyebut jika cedera lutut perdana Ronaldo menyingkirkan daya ledaknya yang sempat membuatnya menjadi pemain muda terbaik pada masa sebelum cedera tersebut.

“Tanpa mengecilkan pencapaian Ronaldo di babak kedua kariernya, ketika ia mencetak delapan gol di satu Piala Dunia [2002] dan menjadi Ronaldo pertama yang mendapatkan standing ovation di Old Trafford [pada 2003], tapi kenangan pada tahun-tahun awalnya lah yang membuat kita terharu,” tulisnya.

Tidak ada yang tahu akan seperti apa karier Ronaldo tanpa cedera yang ia dapatkan pada 21 November 1999 tersebut. Bagi Ronaldo, Ronaldo yang asli, Ronaldo yang fenomenal, cedera lutut itu adalah awal kisah pilunya, sebuah cedera yang mengawali semua cedera Ronaldo, dari mulai ligamen lutut yang sobek (lagi) pada 2000, fraktur tulang kering (tibia) pada 2007, tempurung lutut (patella) pecah pada 2008, sampai patah tangan pada 2009.

Jika ditotal, ia harus absen selama 1082 hari atau sekitar tiga tahun, dengan 123 pertandingan yang ia lewatkan bersama Inter, AC Milan, serta Corinthians.

Komentar