Auman Singa di Bawah Mistar Gawang

Backpass

by Randy Aprialdi 70142

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng!

Auman Singa di Bawah Mistar Gawang

Bulan Juni adalah salah satu kesedihan bagi Oliver Kahn. Sekitar 15 tahun yang lalu, raut muka kecewa lebih jelas ketika kamera menyorot wajahnya. Kahn sedang terdiam di gawangnya sendiri sambil berdecak pinggang dengan pandangan kosong di Stadion Yokohama. Kala itu, Kahn gagal membawa Jerman menjuarai Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang karena dikalahkan Brasil dengan skor 2-0.

Kekecewaan terberatnya adalah ia merasa bahwa gol pertama yang bersarang di gawangnya merupakan kesalahan dirinya. Ia benar-benar menyesali hasil dari laga tersebut. "Itu satu-satunya kesalahan saya di final. Itu 10 kali lebih buruk daripada kesalahan yang pernah saya buat. Tidak mungkin saya bisa membuat diri saya merasa lebih baik atau membuat kesalahan sayahilang," imbuhnya seperti dikutip dari The Guardian.

Kekalahan itu menjadi kesedihan baginya yang biasanya selalu bahagia ketika Bulan Juni atas gelimang trofi bersama Bayern Munich. Bulan Juni juga sekaligus menjadi kebahagiaan bagi Kahn karena pada hari ini, tepat 15 Juni, Kahn berulang tahun. Ia adalah salah satu pemain tersukses sepanjang sejarah Jerman dan dunia.

Posisinya sebagai kiper, kerap disandingkan dengan nama-nama legenda seperti Dino Zoff, Gordon Banks, Lev Yashin dan Sepp Maier. Kahn meraih delapan gelar Bundesliga, enam DFB-Pokal, enam DFB-Ligapokal dan masing-masing satu Liga Champions, Piala UEFA, Piala Intercontinental dan Piala Eropa. Secara individual, Kahn mendapatkan banyak penghargaan seperti empat gelar kiper terbaik Eropa, pemain terbaik final Liga Champions 2001, dua kali pemain Jerman terbaik dan lainnya.

Penghargaan individual yang paling menakjubkan adalah mampu meraih Bola Emas Piala Dunia 2002. Gelar ini menjadikannya sebagai satu-satunya kiper yang memenangkan Bola Emas. Ia juga menjadi kiper terbaik dalam 25 tahun versi IFFHS. Kahn adalah jejak yang selalu ingin diikuti kiper-kiper Jerman lainnnya.

Salah satunya seperti Manuel Neuer yang mengikuti jejaknya karena menghabiskan kariernya untuk memperkuat Munich. Walau Neuer memang menjadi streotipe kiper-kiper Jerman seterusnya atas kemampuannya memerankan sweeper-keeper, kemudian diikuti kiper-kiper Jerman seperti Kevin Trapp, Marc-Andre Ter Stegen dan yang lainnya, tapi Kahn tetaplah kaisarnya. Toh Neuer pun terilhami darinya.

Sebelum Neuer muncul, Kahn lebih dahulu dikenal sebagai kiper yang sangat berani. Ia tidak takut berduel satu lawan satu dengan penyerang lawan yang menguasai bola. Atau tiba-tiba menerjang untuk berduel udara agar bisa meninju umpan silang lawan. Lebih dari berani, Kahn merupakan kiper yang karismatik nan garang atas teriakan-teriakannya di lapangan.

Selain itu, perawakannya yang besar membuat kawan maupun lawannya pun segan menyanggahnya. Setiap momen melihat aksi Kahn, seolah terdapat sesosok singa di dalam tubuhnya atas aksi-aksinya dalam menjaga gawang. "Setiap kebobolan adalah penghinaan bagiku," cetus Kahn seperti dikutip dari situs resmi FIFA.

Bahkan yang lebih penting dari itu semua, kemampuannya untuk tetap bersikap dingin ketika bertanding sangat dibutuhkan. Kahn jarang mengambil keputusan yang terburu-buru. Sebagai kiper terbaik, ia tahu bahwa kesabaran adalah kebajikan yang penting di saat-saat menentukan. Maka bukan tanpa alasan jika ia menjadi kapten dan para pemain belakang selalu menuruti komandonya.

Kontribusi Kahn bagi kesebelasannya adalah salah satu yang terbaik. Siapapun yang akrab dengan Kahn tahu betapa hebat sosoknya, walau ia sering dianggap sebagai antagonis di lapangan "Salah satu olahragawan dan atlit yang memiliki pengaruh di sepakbola," ujar Juergen Klinsmann, mantan rekan setim sekaligus orang pernah melatih Kahn ketika di Munich dan Jerman, seperti dikutip dari Spiegel Online.

Memang siapapun yang menjadi kapten di kesebelasannya maupun negaranya, Kahn adalah pemain besar. Kahn memulai karier sepakbolanya di akademi Karlsruher SC ketika ia masih berusia enam tahun pada 1975. Kemudian Kahn dipromosikan ke Karlsruher SC II pada 1987 dan bermain 73 kali selama tiga musim. Barulah pada 1987, ia berada di skuat utama Karlsruher dan memainkan 128 laga sampai 1994 sebelum dibeli Munich.

Pada 1993/1994, Kahn memang menunjukkan kegemilangannya. Pada musim itu ia mampu membawa Karlsruher mencapai semifinal Piala UEFA 1993/1994. Salah satu penampilan gemilangnya pada ajang tersebut adalah ketika mengalahkan Bordeaux, PSV Eindhoven dan Valencia yang pada waktu itu kesebelasan lebih glamor daripada Karlsuher. Pada Piala UEFA 1993/1994 itu jugalah Kahn tidak kebobolan dalam lima pertandingan, termasuk ketika membantai Valencia dengan skor 7-0.

Maka dari itu Munich membelinya dengan harga sekitar 2,3 juta euro pada bursa transfer musim panas 1994. Dan hebatnya, Kahn langsung menjadi kiper utama menggantikan Raimond Aumann. Padahal pada musim itu ia harus berjuang sembuh dari cedera ligamen lutut. Cederanya itulah yang membuat Kahn baru merasakan debut di Jerman pada 23 Juni 1995.

Barulah pada musim keduanya di Munich ia meraih gelar perdananya bersama kesebelasan tersebut. Kahn mengantar Munich mendapatkan Piala UEFA 1995/1996. Kemudian berbagai macam gelar yang sudah dipaparkan sebelumnya mengikuti karirnya. Gelar terus mengikuti Kahn sampai pada akhirnya pensiun pada 2008. Di ujung kariernya, gelar ganda yaitu Bundesliga dan DFB-Pokal berhasil dipersembahkannya untuk Munich.

Sejarah selalu ditulis oleh para pemenang dan di dalam sukacita serta cerita indah akan membuahkan konsekuensi bagi yang kalah. Pandangan itulah yang menjadi akhir karier Kahn yang mengingatkan bahwa dongeng tidak memiliki akhir yang bahagia untuk semua orang. Kahn tidak mampu menghiasi kariernya dengan gelar juara Piala Dunia. Tapi singa selalu mengaum ketika berjuang mempertahankan tahtanya di hutan rimba. Itulah sosok Kahn di lapangan hijau.

Sumber lain: These Football Times.

Komentar