Gravesen, Kekayaan, dan Diidolai Sosok Mike Tyson

Backpass

by Muhammad Firza Richsan 45007

Muhammad Firza Richsan

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Gravesen, Kekayaan, dan Diidolai Sosok Mike Tyson

Perawakannya tinggi besar. Dengan kepala plontos, ia pasang raut wajah yang menyeramkan ketika berlaga. Dengan tatapan mata yang tajam layaknya elang yang sedang memburu mangsa, ia tak ragu lepaskan tekel-tekel keras demi membuat takut para lawannya.

Publik Inggris menjulukinya si ‘Mad Dog’. Hal itu tidak terlepas dari sikapnya yang temperamental serta tak kenal kompromi di atas lapangan. Bersama Lee Carsley, yang juga sama-sama berkepala plontos, ia bahu-membahu menjaga lini tengah Everton dari gempuran para gelandang lawan agar tak lolos menuju area pertahanan.

Sosok itu bernama Thomas Gravesen. Gelandang asal Denmark kelahiran 11 Maret 41 tahun silam. Ia datang dari Hamburg selepas kepulangannya membela panji Denmark di ajang Piala Eropa 2000. Bermain cukup apik di ajang tersebut membuat namanya menjadi incaran berbagai kesebelasan top Eropa. Hingga akhirnya, The Toffees lah yang berhasil mengamankan jasanya setelah menyanggupi permintaan 3,5 juta euro yang diminta oleh Hamburg.

Satu slot di lini tengah pun langsung menjadi miliknya kala itu. Dedikasinya untuk Everton sangatlah luar biasa, sehingga tak perlu waktu lama bagi publik Goodison Park untuk langsung jatuh cinta kepadanya. Ia tak kenal lelah mengejar bola ke seluruh penjuru lapangan, tekel keras menjadi salah satu andalannya, peringatan dari wasit serta tak jarang ganjaran kartu mungkin tak terlalu dikhawatirkan olehnya, karena terlibat friksi di atas lapangan mungkin menjadi salah satu kegemarannya. Itulah Mad Dog, yang selalu membuat publik Merseyside Biru memberikan tepuk tangan kepadanya.

Dan bukan hanya para pendukung Everton yang dibuat terkesima oleh permaianannya. Juara tinju asal Amerika Serikat, Mike Tyson pun dikabarkan menjadi salah satu orang yang mengidolai sosok Thomas Gravesen. Kejadian itu bermula ketika Tyson dijadwalkan akan bertarung dengan petinju asal Denmark, Brian Nielsen, di Kopenhagen.

Di saat yang bersamaan, Gravesen sedang ikut ambil bagian bersama timnas Denmark ketika menghadapi Islandia dalam babak kualifikasi Piala Dunia 2002, beberapa hari sebelumnya. Gravesen yang menyumbangkan dua dari enam gol kemenangan Denmark pun langsung membuat Tyson, yang juga menyaksikan langsung pertandingan tersebut, jatuh hati dibuatnya.

Selepas laga, petinju yang memiliki julukan Iron Mike itu pun tak ragu untuk meminta langsung seragam timnas Denmark yang dikenakan oleh Gravesen. Gravesen sendiri mengaku bahwa apa yang dilakukan oleh Tyson merupakan sebuah kejutan.

“Rupanya, permainan yang saya tunjukan membuatnya terkesan,” cetus Gravesen kepada ESPN. “Mulanya saya berpikir ia menyukai karena saya mencetak dua gol, tetapi kemudian saya diberitahu bahwa ia menyukai sikap dan cara bermain yang saya tunjukan di atas lapangan.”

“Tetapi itu masih menjadi sebuah kejutan ketika Tyson mengatakan ia menginginkan seragam bertanding saya. Bagi saya ini sungguh benar-benar hebat ketika seorang Myke Tyson menginginkan jersey saya sebagai sebuah souvenir baginya.”

Mike Tyson mengenakan jersey Gravesen

Sementara puncak karier sepakbola Gravesen terjadi pada musim 2004-2005. Ia, bersama Tim Cahill, berhasil menjadi top skor klub saat itu, serta mampu membawa Everton merusak hegemoni The Big Four yang biasa diisi oleh Chelsea, Manchester United, Arsenal, dan Liverpool.

Nama terakhir bahkan harus merelakan posisinya di zona Liga Champions direbut oleh si tetangga, meskipun ketika itu The Reds tetap diperbolehkan untuk tetap berkompetisi di ajang tersebut berkat kesuksesannya menjadi juara di tahun itu juga.

Bersambung ke halaman selanjutnya...

Komentar