Pengangkat Derajat Negara Dunia Ketiga

Backpass

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Pengangkat Derajat Negara Dunia Ketiga

Seratus tahun Anda hidup. Dalam masa hidup Anda yang panjang itu, pernah Anda menjadi presiden FIFA, organisasi tertinggi sepakbola dunia, sejak 1974 sampai 1998. Jujur, masa-masa itu adalah masa yang mungkin takkan kami lupakan, karena masa sebelum Anda bertugas begitu sulit bagi kami, sepakbola dunia ketiga.

Sebelum Anda naik menjadi presiden FIFA, kami benar-benar merasa terkucil. Seorang pria dari Inggris bernama Sir Stanley Rous seperti tidak memiliki telinga, tidak mau mendengarkan omongan kami. Ia yang percaya bahwa sepakbola dan politik tidak memiliki keterkaitan membuat kami muak, apalagi setelah ia berkata seperti ini:

"Keruwetan politik dunia sebaiknya kita serahkan saja kepada PBB, sementara FIFA memusatkan perhatiannya dengan sepakbola dunia dan secara cermat menjaga aturannya," ujar Rous.

Ucapannya itu ternyata terbukti. Ia bersikap pura-pura tuli dalam kasus Israel dan Taiwan. Ia juga terlalu Eropa-sentris, dengan hanya memberikan satu jatah saja untuk diperebutkan oleh 18 tim dari Asia, Afrika, dan Australia-Oseania. Sungguh, apa yang Rous lakukan membuat kami begitu jijik kepadanya.

Saat rasa muak dan jijik kami semakin membuncah, Anda datang. Bak patung Kristus Penebus di Rio de Janeiro, Anda yang sudah berpengalaman menjadi presiden Federasi Sepakbola Brasil, juga dikenal sebagai pemegang emas Olimpiade, seperti tahu akan rasa sakit kami, dan bersedia membantu kami untuk meraih tempat yang lebih terhormat dalam jagat sepakbola dunia.

Anda berjalan-jalan ke negara-negara di Asia dan Afrika, membawa serta sang bintang pujaan dari Brasil, Pele, serta menjanjikan kepada kami hal-hal yang mungkin sebenarnya kami pun ragu Anda bisa melaksanakannya. Tapi, janji Anda itu seperti berbalut harapan bagi kami, dan pada akhirnya, ketika Anda terpilih, Anda pun langsung menepati janji-janji Anda.

Berbagai perubahan Anda lakukan. Janji-janji berbalut harapan itu Anda laksanakan. Israel dan Taiwan Anda pindahkan ke zona Oseania. Kontestan Piala Dunia yang semula hanya 16 negara, Anda tambah menjadi 32 negara (meski harus berjuang sampai 1998).

Selain itu, Anda juga menyelenggarakan Piala Dunia U-17 dan U-20, sebuah turnamen yang sangat bermanfaat bagi anak-anak muda negara kami untuk mengenal dunia lebih cepat, serta Piala Dunia Perempuan yang membuat sepakbola tidak hanya menjadi milik kaum laki-laki saja, melainkan milik seluruh umat manusia di dunia.

Hasilnya sekarang? Sepakbola Asia berkembang jauh lebih pesat dan mampu bersaing dalam kancah sepakbola dunia, terbukti dari Korea Selatan yang menjadi semifinalis Piala Dunia 2002 (meski penuh kontroversi). Pemain-pemain Jepang dan Korea mulai bertebaran di liga-liga Eropa, karena mereka sebenarnya memiliki kemampuan jika diberikan kesempatan.

Tidak hanya sepakbola Asia, sepakbola Afrika pun berkembang jauh lebih pesat. Pemain-pemain Afrika sudah mulai banyak ditemui di liga-liga top Eropa, bersanding dengan bintang sepakbola lain asal Benua Biru. Stamina para pemain Afrika yang luar biasa menjadi modal mereka untuk bersaing mengarungi kompetisi Eropa yang dikenal keras dan organisatoris.

Kami semua bisa berkembang pesat sejauh ini, itu semua karena Anda. Dana segar yang Anda berikan kepada federasi-federasi sepakbola di Asia dan Afrika membuat kami mampu mengembangkan sistem pembinaan pemain muda kami sehingga dapat bersaing dengan para pemain Eropa sana.

Selain itu, dengan penambahan jumlah tim Piala Dunia menjadi 32, memberikan kesempatan besar bagi kami, negara dunia ketiga, untuk tampil dan mempertunjukkan ke-khas-an kami di mata dunia, sekaligus mengetahui betapa luasnya jagat sepakbola dunia yang merupakan pengalaman berharga bagi kami.

Pada 16 Agustus 2016, memasuki usia Anda yang sudah 100 tahun, Anda meninggal dunia, meninggalkan segala warisan berupa sepakbola yang lebih modern dan maju. Segala hal yang Anda lakukan untuk sepakbola dunia, meski kami pun tidak menutup mata bahwa beberapa di antaranya ada yang dilakukan dengan cara yang tidak wajar dan salah, akan selalu kami kenang.

Kami tahu Anda melakukan praktek korupsi. Kami tahu Anda banyak terlibat kasus suap. Kami juga tahu bahwa dana-dana yang kami dapatkan mungkin saja merupakan hasil dari praktek-praktek kotor yang dunia anggap Anda yang melakukannya. Tapi, kami pun tak menutup mata, bahwa Anda jugalah yang membuka jalan bagi kami untuk mengenal sepakbola dunia.


Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan pada 2016, dengan judul "Obituari Joao Havelange, dari Kami Negara Dunia Ketiga".

Komentar