On This Day 1998, Seventh Heaven Real Madrid

Backpass

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

On This Day 1998, Seventh Heaven Real Madrid

Seorang detektif bernama William Somerset tengah memasuki masa pensiun. Pada masa-masa itu, atasan mengirimkan David Mills, seorang detektif muda, untuk belajar pada Somerset. Awalnya, mereka berdua ditugaskan untuk mengungkap sebuah pembunuhan yang terlihat biasa. Namun, nyatanya pembunuhan tersebut merupakan kasus pembunuhan berantai.

Sang pembunuh terinspirasi dari Seven Great Sins yang ada di injil dan buku karangan Dante Alighieri. Ia membunuh tujuh korbannya yang menyimbolkan tujuh dosa besar tersebut. Dosa ketujuh adalah dosa yang paling besar, berat, dan menyakitkan. Sialnya, pembunuh menggunakan Mills untuk melengkapi tujuh dosa besar tersebut.

Tiga tahun setelah film Se7en dirilis, Real Madrid menjejakan kakinya ke partai final Liga Champions musim 1997/1998. Ini merupakan momen spesial karena Madrid terakhir kali mencapai babak final pada 1981. Itu pun kalah 0-1 oleh Liverpool yang merebut gelar Eropanya yang ketiga. Jika Madrid berhasil memenangkan partai final tersebut, ini akan menjadi gelar besar yang penuh arti bagi Madrid sendiri.

Kala itu, Real Madrid terakhir kali menjadi juara Liga Champions pada 1966, atau pada era Amancio Amaro. Miguel Munoz kala itu yang menangani El Real dengan prestasi sembilan gelar Liga Spanyol yang lima diantaranya dilakukan secara berturut-turut. Munoz bisa dibilang merupakan salah satu pelatih tersukses dalam sejarah Madrid.

Setelah era Munoz, Madrid tetaplah Madrid. Ia adalah satu dari dua penguasa Liga Spanyol. Pelatih-pelatih hebat dan berkarakter berdatangan, tapi tidak ada satu dari mereka yang membawa Madrid juara Liga Champions. Selama 31 tahun itu mereka menunggu. Barisan generasi emas Madrid bermunculan, tapi mereka masih kesulitan menghadang bangkitnya kesebelasan Belanda, Jerman, dan Inggris di Eropa.

Kehadiran El Real di partai final Liga Champions 1997/1998 sekaligus menampilkan wajah baru El Real. Christian Panucci, Manuel Sanchis, Fernando Hierro, dan Roberto Carlos menjadi tembok kokoh di lini pertahanan Madrid. Di lini tengah, Madrid memiliki Clarence Seedorf, Fernando Redondo, Christian Karembeu, serta Raul Gonzalez. Predrag Mijatovic dan Fernando Morientes berduet di lini serang.

Pada satu dekade sebelumnya atau pada 1980-an, Real Madrid meraih lima kali gelar Liga Spanyol secara beruntun. Mereka pun melengkapi gelarnya dengan menjuarai UEFA Cup dua kali beruntun pada 1984/1985 dan 1985/1986. Pada saat itu, skuat Real Madrid disebut-sebut sebagai generasi terbaik di eranya.

Real Madrid yang tampil di partai final Liga Champions 1997/1998 adalah Madrid yang berbeda. Mereka tidak lagi didominasi sembilan pemain Spanyol di atas lapangan seperti pada final Liga Champions 1980/1981. Real Madrid yang kali ini lebih berwarna dengan kehadiran sejumlah pemain dari negara yang berbeda. Pada partai final kala itu, hanya terdapat empat orang Spanyol yang memulai pertandingan sejak awal. Sisanya, nama-nama hebat yang merepresentasikan negara-negara di Eropa, hadir dalam susunan pemain El Real.

Pada 20 Mei 1998, Raul dan kolega melangkahkan kaki di Amsterdam Arena, Belanda. Di hadapan 48 ribu penonton, kedua tim mulai melakukan jual beli serangan. Pada babak pertama, El Real melepaskan enam tembakan, berbanding tiga tembakan dari Juventus. Pada babak kedua, atau tepatnya pada menit ke-66, Mijatovic mencetak gol kemenangan Madrid.

Usai pertandingan, Hierro, menyatakan bahwa rekan-rekannya sudah tidak sabar menanti gelar Eropa bagi Madrid. Ia pun merasa bahwa gelar tersebut akan membuka tambahan gelar bagi Madrid pada musim-musim selanjutnya.

“Kami memiliki tim yang kuat, atmosfer yang hebat dan para pemain yang berpengalaman. Kami diberikan kesempatan dalam hidup kami dan kami tidak akan menyianyiakannya,” kata Hierro seperti dikutip Goal.

Apa yang dikatakan Hierro barangkali benar adanya. Usai gelar tersebut, ia memenangi dua gelar Liga Champions pada musim 2000 dan 2002 bersama Real Madrid.

Jika Se7en yang dibintangi Morgan Freeman dan Brad Pitt berkisah tentang tujuh dosa besar, tujuh hal yang dicapai Madrid adalah sesuatu yang lebih menyenangkan; sesuatu yang lebih indah; sesuatu yang lebih khidmat; karena Madrid telah mencapai seventh heaven yang dilanjutkan dengan La Decima bertahun-tahun kemudian.

Komentar