6 Ciri Manusia (Sepakbola) Indonesia

Backpass

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

6 Ciri Manusia (Sepakbola) Indonesia

Di kalangan penulis, jurnalis, dan intelektual, nama Mochtar Lubis tidaklah asing. Suaranya lantang tanpa sungkan. Ia seperti sudah kebal dengan dinginnya lantai penjara. Tulisannya membuat pemerintah geram. Di penjara ia lama mendekam.

Mochtar adalah pendiri kantor berita Antara. Ia juga menjabat sebagai pemimpin redaksi harian Indonesia Raya yang tak pernah bosan-bosannya dibredel penguasa.

Semasa hidup, pria kelahiran Padang, 7 Maret 1922 (jika masih hidup, dia berusia 93 tahun pada hari ini), menerbitkan belasan karya mulai dari buku pedoman, novel, hingga kumpulan cerpen. Karya Mochtar yang paling populer adalah “Harimau, Harimau” yang sering ditemukan dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia. Mochtar Lubis juga dijadikan nama penghargaan bagi jurnalis berprestasi.

Ada buku yang diterbitkan dari ceramah Mochtar di Taman Ismail Marzuki pada 16 April 1977. Buku berjudul “Manusia Indonesia” tersebut menuliskan kegelisahan Mochtar tentang enam ciri manusia Indonesia.

Jakoeb Oetama yang menulis kata pengantar sempat mempertanyakan generalisasi “Masyarakat Indonesia” yang dimaksud oleh Mochtar. Menurutnya, stereotipe tersebut bisa mengandung pro dan kontra karena Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, dengan beragam suku bangsa, keturunan, dan daerah.


Mochtar Lubis (Sumber gambar: pnri.go.id)

“Dari isi buku, dapat disimpulkan yang dimaksud oleh Mochtar Lubis sebagai manusia Indonesia, manusia Indonesia seperti yang distereotipkan. Atau meminjam ungkapan Walter Lippmann seperti yang tergambar dalam benak ‘pictures in our head,” tulis Mochtar.

“Manusia Indonesia” yang dimaksud Mochtar adalah “Manusia Indonesia” yang secara sekilas terlintas dalam benak, bukan secara spesifik menunjukkan masyarakat tertentu, maupun menggeneralisasi secara keseluruhan.

Ciri-ciri Manusia Indonesia yang dijlentrehkan Mochtar itu memang tidak sedap didengar. Nadanya negatif, dan sepenuhnya berisi kritik pedas yang nyaris tanpa pujian.

Pada hari kelahiran Mochtar Lubis ini, saya akan mencoba mendedahkan ciri-ciri manusia Indonesia versi Mochtar dan menjadikannya sebagai pisau bedah untuk menakar sepakbola Indonesia.

Munafik, Hipokrit

“Manusia Indonesia karena semua ini, juga penuh dengan hipokrisi. Dalam lingkungannya dia pura-pura alim, akan tetapi begitu turun di Singapura atau Hongkong, Paris, New York dan Amsterdam, lantas loncat ke taksi cari nightclub, dan pesan perempuan pada pelayan atau portir hotel. Dia ikut maki-maki korupsi tetapi dia sendiri seorang koruptor,” tulis Mochtar tanpa basa-basi.

Bagi Mochtar, hipokrisi manusia Indonesia ini lahir dari ketertindasan bangsa ini selama ratusan tahun lamanya. Dalam posisi sebagai orang yang tertindas, orang mesti bersikap tunduk, lain di depan lain pula omongan di belakang, dan akhirnya bermental Asal Bapak Senang (ABS).

Problem ini juga terjadi dalam sepakbola Indonesia. Ke publik bilang bahwa tunggakan gaji sudah dibayar semua, ternyata di belakang masih banyak pemain yang ditunggak gajinya. Teriak sudah bayar pajak, ternyata tak punya NPWP. Konferensi pers bahwa semua peserta ISL sudah memenuhi semua syarat, tapi ternyata masih sangat banyak yang belum memenuhi syarat.

Ketika kick-off ISL diminta mundur dua pekan, semua pengurus sepakbola teriak-teriak. Tapi ketika diundur sampai dua bulan hingga April 2014, semua diam dan manggut-manggut saja. Menuntut ini itu pada orang lain, tapi sama sekali tak terdengar sikap keras saat hadiah juara hingga subsidi hak siar yang menjadi milik kesebelasan hingga hari ini masih ada yang belum dibayar.

Apakah ini gejala untuk ABS  itu tadi? Tapi siapa Bapak-nya?

Enggan Bertanggung Jawab


Hehehe...

“Bukan Saya’ adalah kalimat yang cukup populer di mulut manusia Indonesia,” sebut Mochtar dalam pembukaan soal Ciri Kedua Manusia Indonesia”.

Cerita kelam sepakbola Indonesia bertambah saat PSIS Semarang dan PSS Sleman mempertunjukkan opera sabun di atas lapangan. Saat federasi bertanya siapa pelaku utama, ramai-ramai mereka berkata, “bukan saya”.

“Aku pasrah saja (bila diberikan hukuman). Kami emosi karena melihat mereka duluan (mencetak gol bunuh diri),” kata Komaedi, salah seorang aktor pelaku gol bunuh diri seperti dikutip Kompas pada 28 Oktober 2014.

Perilaku macam ini umumnya berkembang menjadi kegiatan saling menyalakan. Bukan ingin menyudutkan “sepakbola gajah” PSIS dan PSS, tapi kenyataannya, mereka melakukannya secara “berjamaah”. Untuk apa saling menyalahkan?

Enggan bertanggungjawab juga terlihat dari sikap tidak menerima kekalahan. Menyalahkan wasit sebagai faktor kegagalan atau kekalahan, tapi tutup mata pada kekurangan-kekurangan yang ada di kesebelasan sendiri.

"Oknum" merupakan kosa kata yang umum terjadi di sepakbola Indonesia. Saat terjadi kekerasan yang dilakukan suporter, sangat biasa para pengurus kesebelasan atau pengurus kelompok suporter mengelak dengan alasan para pelaku tak punya kartu anggota.

Bersikap Feodal

Kemerdekaan semestinya menghilangkan sikap feodal yang turun temurun ada dalam garis darah Indonesia, yang diperkuat lewat pendudukan kolonial Belanda. Mochtar mencontohkannya dengan susunan kepemimpinan istri pegawai negeri dan angkatan bersenjata, yang karena jabatan suaminya ia ditempatkan sebagai ketua.

Nepotisme adalah salah satu turunan dari sikap feodal, dan hal tersebut jamak mewarnai sepakbola. Anak pejabat bisa masuk tim utama walau kemampuannya pas-pasan. Anak orang-orang berpengaruh bisa lolos seleksi kesebelasan, walaupun menjadi penghangat bangku cadangan selamanya.

Sikap feodal inilah yang membuat sepakbola Indonesia jalan di tempat. Perilaku seperti ini membuat pemain yang punya kemampuan terpinggirkan oleh pemain titipan. Sialnya, hal ini bukan hanya berlaku di kesebelasan, tapi juga saat mewakili negara.

Hal ini diakui oleh Indra Sjafri yang kala itu masih melatih kesebelasan Indonesia u-19. Namun, ia tak tergiur oleh rayuan materi dari sang orang tua (Liputan 6, 25 Oktober 2013). Mantan pelatih sangara Indonesia U-23, Foppe de Haan, buka-bukaan kalau ia menduga ada kolusi dan nepotisme dalam bentuk pemain titipan (Republika, 20 Juli 2011).

Titipan siapa, sih?

Percaya Takhayul


Jimat manusia modern: Spiderman.

Sepakbola masih sulit dilepaskan dari takhayul. Ada kiper yang menyimpan handuk di jala gawang. Ada pula penyerang yang mencari-cari telur di gawang lawannya yang sulit dijebol.

“Manusia Indonesia menghitung hari baik dan hari naas, bulan baik dan bulan naas. Macam-macam tanda alam dipercaya,” tulis Mochtar, “Kepercayaan serupa ini membawa manusia Indonesia jadi tukang bikin lambang. Kita percaya pada jimat dan jampe.”

Dengan teknologi yang kian maju, di mana masyarakatnya menyebut diri mereka sebagai “modern”, kepercayaan terhadap hal-hal takhayul amatlah absurd. Karena “takhayul” adalah sesuatu yang  ada di khayal belaka; kepercayaan kepada sesuatu yang dianggap ada atau sakti, tetapi sebenarnya tidak ada atau tidak sakti (KBBI, 2008).

Apa hubungannya telur yang disimpan di gawang dengan kesulitan penyerang untuk menjebol gawang? Jawaban sederhananya hanya dua: kipernya hebat; penyerangnya tidak hebat.

Artistik (Berbakat Seni)

Karena sifatnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah, dan kekuasaan, pada segala benda di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat dengan alam. “Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasaan-perasaan sensuil-nya,” tulis Mochtar.

Sepakbola pada masa kini, sulit untuk tidak dikaitkan dengan taktik dan skema permainan. Taktik digunakan untuk meminimalisasi potensi ancaman, dan untuk memaksimalkan peluang saat menyerang.

“Naluri” inilah, yang berdasarkan cerita beberapa pemain lokal, dimanfaatkan oleh sejumlah pelatih untuk menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain “seperti biasanya”.

“Kamu di kanan, kamu di kiri. Serang lewat kanan. Kalau musuh menyerang, kalian total bertahan.” Barangkali instruksi menyeluruh seperti itu yang biasa didengar pemain lokal dari pelatih. Sebagai seorang yang artistik, mereka “iya-iya saja”, dan bermain sesuai nalurinya.

Sangat lazim sepakbola Indonesia melahirkan para penggiring dan penggoreng bola yang doyan meliuk-liuk berlama-lama dengan bola. Dan hebatnya lagi, tak peduli itu efektif atau tidak, para suporter dan pelatih sangat senang dengan pemain yang doyan berlama-lama menggiring bola. Pemain seperti itu mudah menjadi terkenal, tak penting lagi persentase kesuksesannya melewati lawan itu di atas 50% atau di bawah 50%.

Komentator di TV bahkan dengan sangat senang membuat predikat-predikat yang bombastis: Thiery Henry-nya Indonesia, Lionel Messi-nya Indonesia, Rio Ferdinand-nya Indonesia. Belum lagi predikat-predikat puitis nan artistik seperti big match, super big match, dll.

Imajinasi luar biasa, proses membayangkan yang luar biasa. Sungguh berseni!

Lemah Watak atau Karakter

Mochtar menulis bahwa “Manusia Indonesia” kurang dapat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia akan mudah apalagi jika dipaksa dan demi bertahan hidup untuk mengubah keyakinannya.

Di atas lapangan, pemain harusnya hanya tunduk pada keputusan wasit, karena ia adalah representasi dari kebenaran. Yang terjadi malah sebaliknya, mereka malah berjuang keras menyerang keputusan wasit yang dianggap merugikan. Sudah bukan berita luar biasa lagi jika ada pemain yang memprotes keputusan wasit secara berlebihan.

Di divisi bawah, praktik ini umum terjadi. Wasit Jusman R harus dievakuasi setelah dikeroyok ofisial dan pemain PSBS Biak Numfor (Berita 8, 19 Agustus 2013). Wasit Fariq Haleba juga dipukul yang menyebabkan darah keluar dari wajahnya saat memimpin Persikap Pekalongan menghadapi Persibas Banyumas (Liputan 6, 21 Juni 2013).

Anehnya, jarang ada pemain yang terdengar protes keras, sampai melakukan kekekerasan pada pengurus kesebelasan saat gajinya tidak dibayar.

Lemah watak ini juga tercemin dari kebiasaan pencurian umur yang terjadi di Indonesia. Logika di balik pencurian umur adalah bahwa umur dikecilkan dari usia aslinya dengan harapan agar si anak bisa lebih bersaing di kelompoknya. Asumsinya, jika si anak bermain dengan anak-anak yang lebih muda usianya, maka ia akan lebih menonjol dan gampang lolos seleksi.

Tidak banyak yang sanggup merayap dari bawah, penuh dengan kerja keras. Semua ingin instan. Nyaris tidak percaya dengan pembinaan yang berjenjang, sehingga solusi yang dipakai adalah pemusatan latihan jangka panjang, mengirim kesebelasan muda untuk "sekolah" di Eropa dan negara-negara maju lainnya dalam sepakbola.

****

Selain enam ciri tersebut, Mochtar juga menuliskan “ciri-ciri lainnya”. Manusia Indonesia cenderung boros, dan senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, dan berpesta-pesta. Segala hal yang serba mahal membuat “harga diri” dianggap meningkat.

Manusia Indonesia juga senang bekerja keras saat terpaksa. Jelang kompetisi berakhir, para pemain berusaha menunjukkan kemampuan terbaiknya. Di Indonesia, kontrak umumnya berada dalam durasi satu musim, sehingga mereka harus tampil konstan setiap musimnya.

Ciri lainnya yakni senang menggerutu, cepat cemburu dan dengki, rakus, juga tukang tiru. Ciri-ciri ini memang tidak sepenuhnya benar, tapi tidak seluruhnya salah. Seperti yang Jakoeb jelaskan dalam kata pengantar, barangkali Mochtar menuliskan “Indonesia” sebagai sesuatu yang ada di kepalanya.

Pun dengan contoh-contoh ciri pesepakbola di Indonesia yang penulis sebutkan di atas. Tidak semua pesepakbola demikian, tapi bukan tidak mungkin memang itu yang umum terjadi.

Komentar