[On This Day 1979] Tim Howard, Karena Keluarga adalah Segalanya

Backpass

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

[On This Day 1979] Tim Howard, Karena Keluarga adalah Segalanya

Dada Tim Howard berdegup kencang. Jantungnya sekeras mungkin memompa darah ke seluruh tubuh. Sorak sorai penonton yang meneriakkan “USA, USA”, terdengar hingga ke ruang ganti Arena Fonte Nova, Brasil. Beberapa menit ke depan, kesebelasan negara (sangara) Amerika Serikat akan berhadapan dengan Belgia pada babak 16 besar Piala Dunia 2014.

Pertandingan tersebut menjadi begitu penting untuk menunjukkan eksistensi Amerika Serikat dalam jagat sepakbola dunia. Hasil mengejutkan yang mereka raih di babak grup dengan menyingkirkan Portugal, menjadi catatan tersendiri. Amerika Serikat bermain impresif lewat serangan-serangan terbuka. Ketidakhadiran London Donovan bisa ditutupi oleh Clint Dempsey di lini serang.

Usai melakukan pemanasan di ruang ganti, ia melakukan ritual yang tak pernah ia lewatkan sebelum bertanding. Di hadapannya terdapat sepasang sepatu, kaus kaki, dan penahan tulang kering. Ia memasangkannya di kaki kanan terlebih dahulu, baru di kaki kiri. Ritual lainnya ia lakukan di atas lapangan saat latihan jelang pertandingan. Ia mengecek cone oranye yang biasa digunakan, dari kiri ke kanan.

“Semua proses ini mungkin terlihat gila bagi orang lain, tapi untukku, tidak ada yang membuatnya lebih masuk akal. Itu adalah satu-satunya cara bagiku untuk bisa merasa tenang dan terkendali,” tulis Howard dalam “The Keeper: A Life of Saving Goals and Achieving Them”.

Menurutnya, ritual ini sudah menjadi rutinitasnya semenjak menginjakkan kaki di Goodison Park, saat membela Everton. Delapan tahun kemudian, nyatanya ia masih melakukan ritual yang sama.

Pertandingan menghadapi Belgia adalah partai terakhirnya di Piala Dunia 2014. Ya, Amerika menyerah 1-2 dari Belgia lewat perpanjangan waktu.

Baca juga: Kisah Persaingan Bred Friedel dengan Tim Howard di dalam dan di Luar Lapangan

Si Kulit Gelap

Tim Howard bukanlah keturunan asli Amerika. Ayahnya adalah seorang Afro-American yang berkulit hitam, sedangkan ibunya, Esther Howard, adalah seorang berkebangsaan Hungaria. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan perbedaan.

Howard tumbuh dan besar di North Brunswick, New Jersey. Di area tersebut, terdapat permukiman kelas menengah seperti yang ditinggali Howard, serta permukiman kelas atas lengkap dengan meja biliar dan kolam renang. Beberapa mil jauhnya berdiri apartemen yang menjadi sarang gengster dan penjual narkoba.

Di New Jersey, terdapat beberapa suku bangsa yang tinggal di sana. “Kami hidup dengan mendengarkan campuran bahasa—Spanyol, Polandia, India, Italia, Yahudi,” kata Howard.

Setiap keluar dari apartemen tempatnya tinggal, Howard selalu mencium bau aneh yang berasal dari area dapur. Butuh beberapa tahun untuk mengetahui kalau bau itu ternyata berasal dari rumah keturunan India yang tengah memasak kari. “Dalam lingkungan yang menggairahkan, campuran multiras, aku merasa cocok berada di dalamnya,” tulis Howard.

Karena tumbuh di lingkungan yang multiras, Howard tidak pernah menyadari soal kulitnya yang lebih gelap dibanding teman-teman Amerikanya. Ia baru sadar saat masuk sekolah dasar ketika berusia 10 tahun.

Suatu hari, rekannya bertanya pada Howard tentang warna kulitnya yang lebih gelap. Howard langsung memerhatikan kulit tangannya, dan mengangkat bahunya tanda tak tahu.

“Keluargaku baru saja dari Florida,” jawab Howard. Apa yang dikatakan Howard tersebut sebenarnya bukan bentuk ngeles, karena memang benar beberapa minggu sebelumnya, ia baru saja liburan dari Florida. Ia ingat kalau rekan-rekannya yang lain akan berkulit gelap setelah berjemur di Florida.

Betapa Lebaynya Publik Amerika Menyanjung Tim Howard

Pujian Obama untuk Skuat Amerika

Di Amerika Clint Dempsey Bukan Siapa-Siapa


Hidup Sederhana

Melawan Belgia: Penjaga Kehormatan Amerika! (SUmber; Bussines insider)

Sang ayah, Matthew, adalah seorang supir truk jarak jauh. Ia pergi meninggalkan keluarga sejak Howard kecil. Howard pun tumbuh besar bersama kakaknya, Chris, dan ibunya. Sang ibu, yang pemalu, lebih banyak tinggal di apartemen ketimbang bersosialisasi dengan tetangga. Walau begitu, Howard mengaku ibunya adalah seorang yang penyayang, yang mencintainya juga Chris.

Apartemennya hanya memiliki satu kamar. Kamar milik Howard sejatinya adalah ruang makan yang disulap menjadi kamar. Kamar Chris sendiri berada di basement. Ibu Howard bekerja untuk distributor pengemasan barang. Gajinya yang tidak seberapa itu selalu habis untuk membeli makanan dan membayar sewa apartemen.

Suatu ketika, Howard sudah tumbuh besar. Ia memerlukan uang lebih untuk membeli kostum dan membayar ongkos bertanding. Ibu Howard tak ingin mengecewakan anaknya. Ia pun mengambil kerja tambahan di toko perlengkapan rumah.

Mau tidak mau, sang ibu mesti berhemat. Ia berkali-kali memohon pada Chris dan Howard untuk mematikan lampu. Untuk keperluan rumah, sang ibu selalu membelinya di tempat barang-barang bekas. Untuk pakaian, Howard dan Chris pasti memakai celana merk Sears karena awet dan tahan lama.

Basket dan Sepakbola




Foto kiriman Tim Howard (@timhow1) pada


Selain menjadi bintang sebagai gelandang saat ia masih SMA, Howard juga dikenal sebagai pebasket yang hebat. Ia mampu mencetak 15 angka dalam satu pertandingan dan membawa sekolahnya hingga partai final tingkat negara bagian.

Namun, kemampuannya dalam bermain sepakbola jauh lebih berkembang. Karirnya menanjak saat ia bermain untuk MetroStars dan memenangkan penghargaan Kiper Terbaik MLS 2001. Kala itu, ia adalah kiper termuda yang mendapatkan gelar tersebut.

Namanya kian melambung setelah Manchester United membelinya seharga 4 juta dollar untuk menggantikan Fabian Barthez.

Akan tetapi, agaknya pengalaman paling mendebarkan Howard bukan saat ia bermain sepakbola, melainkan saat bermain basket saat sekolah. Kala itu, saat istirahat siang hari, anak-anak mulai bermain hoki, baseball, american football, hingga kucing-kucingan di area hutan.

Howard adalah anak yang ambisius. Ia mencoba semua macam permainan, termasuk basket. Kala itu, seorang anak yang tiga tahun lebih tua darinya, melanggar dirinya secara keras.

Dengan semangat yang begitu membara, Howard lantas membalas apa yang dilakukan anak yang bernama Jimmy tersebut. Howard tenang-tenang saja, karena Chris juga ada di sana.

“Kalau mereka macam-macam, Chris akan membelaku, dan menghajar mereka lebih keras,” tulis Howard.

Suatu ketika, Chris mencoba menengahi saat Howard dan Jimmy bertengkar. “Hey, jangan macam-macam dengan Tim!” teriak Chris sembarli memukul wajah Darren. Ia memukulnya dengan keras, sampai-sampai hidung Darren patah. “Main saja sana!”

Howard pun selamat dari amukan Jimmy dan teman-temannya. Saat di rumah, Chris menggoda Howard dengan memukul perutnya.

“Hey bodoh, aku sudah menyelamatkan hidupmu tadi,” kata Chris. Howard pun memukul balik Chris, dan langsung melarikan diri. Kegiatan seperti ini juga menjadi ritual yang biasa bagi Howard dan Chris. Sama biasanya dengan ibunya yang selalu memohon mereka untuk tetap tenang.

**

Lewat hidup sederhana di apartemen kecil di New Jersey, Howard kini amatlah besar. Ia yang menjaga nama baik Amerika Serikat di mata dunia. Namun, tanpa dukungan dari ibu dan kakaknya, barangkali Howard tidak akan dikenang sebagai seseorang yang spesial. Karena keluarga adalah segalanya.

Disadur dengan tambahan seperlunya dari buku "The Keeper: A Life of Saving Goals and Achieving Them"

Sumber gambar: mlssoccer.com

Komentar