[On This Day 1926] Panther Hitam dari Hungaria

Backpass

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

[On This Day 1926] Panther Hitam dari Hungaria

Hungaria pernah mengalami masa jayanya di dunia sepakbola. Memang, trofi Piala Dunia yang menjadi idaman negara sepakbola di seluruh dunia itu belum pernah mampir ke negeri asal Eropa Tengah ini. Namun, negara beribukota Budapest ini nyaris menjuarai Piala Dunia pada 1938 dan 1954.

Tahuan 50-an menjadi Golden Era bagi Hungaria. Julukan Mighty Magyars disematkan pada timnas Hungaria 50-an yang menjelma menjadi kesebelasan tangguh di dunia. Timnas ini terlibat dalam tiga laga penting sepakbola, Match of Century melawan England 1953, Battle of Berne dan Miracle of Bern melawan Brasil dan Uruguay pada Piala Dunia 1954.

Mendengar Hungaria, pecinta sepakbola pastinya langsung akan mengingat Ferenc Puskas, sang pencetak gol terbanyak abad 20. Namun nyatanya, dalam era keemasan Hungaria tersebut terdapat sosok tangguh yang melindungi gawang Hungaria: Gyula Grosics.

Ya, Grosics termasuk dalam satu dari enam pemain Hungaria yang paling berpengaruh bagi Mighty Magyars. Hari ini, 4 Februari, adalah hari kelahiran kiper yang dijuluki Black Panther. Julukan ini diberikan karena pemain kelahiran 4 Februari 1926 ini selalu menggunakan seragam kiper berwarna hitam di setiap pertandingannya.

Superiornya Hungaria pada tahun 50-an memang tak bisa dilepaskan dari peran Grosics di bawah mistar. Kala meraih medali emas di Olympic Games yang dihelat di Finlandia tahun 1952, emas pertama Hungaria di Olimpiade, Hungaria hanya kebobolan dua gol dari enam pertandingan.

Grosics pun merupakan starter timnas Hungaria saat menjadi runner-up di Piala Dunia 1954. Di final, Grosics cs harus takluk di tangan Jerman Barat di mana saat itu Hungaria sempat unggul 2-0 sebelum dibalikkan menjadi 3-2.

Namun dari berbagai prestasi yang diraih Hungaria, torehan Mighty Magyars yang tak kalah dalam 33 pertandingan internasional (selama empat tahun). Rekor ini menjadi rekor tak terkalahkan terlama ketiga di dunia, empat pertandingan di bawah Brasil dan Spanyol yang tak terkalahkan selama 35 pertandingan.

Saat Hungaria menorehkan rekor ini, Hungaria kebobolan 33 gol. Grosics sendiri berhasil mencatatkan 12 cleansheets kala berada di bawah mistar Hungaria. Selain kemampuannya membendung serangan lawan, Grosics pun merupakan salah satu kiper yang memainkan peran sweeper-keeper.

Hungaria sendiri kala itu menggunakan formasi WM, 2-3-3-2, kala menjadi salah satu kekuatan yang cukup ditakuti di dunia. Serangan Hungaria dalam formasi ini dimulai dari kemampuan Grosics dalam mendistribusikan bola. Keberhasilan Ferenc Puskas mencetak 84 gol dari 85 pertandingan pun tak lepas dari peran Grosics yang disebut-sebut sebagai salah satu kiper yang berhasil mengembangkan peran sweeper-keeper.

Di timnas ia bermain dalam 86 pertandingan pada periode 1947 hingga 1962, tampil di tiga Piala Dunia. Untuk level klub, ia menroehkan 390 pertandingan dari lima kesebelasan berbeda, Darogi Banyasz, Matesosz Budapest, Teherfuvar, Budapest Honved FC dan Tatabanya Banyasz SC.

Ferencvarosi TC sejatinya hendak menjadi kesebelasan keenamnya. Namun transfer yang terjadi pada tahun 1962 itu digagalkan oleh Kementerian Olahraga Komunis Hungaria karena kepentingan politik. Grosics pun memutuskan gantung sepatu tak lama kemudian.

Grosics pada akhirnya mendapatkan kesempatan bermain untuk kesebelasan di kota kelahirannya tersebut. Namun kesempatan ini hadir pada tahun 2008, 46 tahun setelah dirinya gantung sepatu atau 40 tahun setelah mengakhiri karirnya sebagai pelatih (pernah menukangi tiga kesebelasan Hungaria dan timnas Kuwait).

1332680150.2574-grosics-f

Pada laga melawan kesebelasan pertama di dunia, Sheffield United, Grosics telah berumur 82 tahun. Tak lama setelah melakukan tendangan kick-off, ia pun kemudian diganti. Tepuk tangan meriah pun mengiringinya saat berjalan pelan ke garis tepi lapangan.

Grosics sangat berterima kasih atas kesempatan bermain dengan kesebelasan favoritnya tersebut. Pasca pertandingan, ia pun berkata, “Setelah hari ini, urusanku dengan sepakbola telah selesai.”

Tahun lalu, tepatnya pada 13 Juni 2014, sehari sebelum Piala Dunia digelar, Grosics meninggal dunia kerena serangan jantung pada usia 88 tahun. Dengan kesempatannya telah bermain bersama Ferencvarosi pada 2008, Grosics pun bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang karena telah menuntaskan hasratnya pada sepakbola yang dicintainya.

foto: thetimes.co.uk

Komentar